
Keesokan harinya, saat Hana telah selesai mengeluarkan motornya dari Ruang tamu dan memarkirkan di teras kosannya, tiba-tiba saja ia merasa sedang diperhatikan. Ia melihat ada seseorang berbaju hitam duduk diatas motor di persimpangan ujung jalan yang tak jauh dari kosannya.
Orang yang masih menutup wajahnya dengan kaca helm itu tampak memandang kearah Hana. Dalam hati Hana menduga-duga, apakah memang dirinya yang sedang diperhatikan oleh orang tersebut? karena jika dilihat pagi itu masih sepi hanya ada dirinya di sekitaran pemukiman tersebut. Tapi, Hana berusaha untuk pura-pura tidak tahu saja.
Beberapa menit kemudian, Hanapun berangkat ke Puskesmas dan melewati orang yang mencurigai itu yang ternyata masih ada disana.
Hana melewatinya dengan cuek tanpa sedikitpun menoleh kearahnya. Tapi, ketika Hana melirik ke kaca spion motornya, ternyata orang berjaket hitam itu juga bergegas menggerakkan motornya bersamaan dengan arah tujuan Hana. Perasaan Hana mulai tidak enak. Rasa takut juga menguasai dirinya, bagaimana kalau orang itu benar-benar mengikutinya dan hendak berbuat jahat kepada dirinya? pikiran-pikiran burukpun akhirnya melintas dalam pikiran Hana. Ia lantas menambah laju kecepatan motornya.
Akhirnya Hana sampai didepan parkiran Puskesmas. Rasa was-was yang sempat ia rasakan dihatinya tadi, kini mulai memudar. Setidaknya dia sudah berada di tempat yang aman.
Setelah memarkirkan motornya, Hana menoleh kebelakang. Orang yang mengikutinya sedari tadi ternyata masih ada. Dan kini berhenti di persimpangan tiga jalan yang ada disana. Ia berteduh disebuah pohon besar. Hana memandang agak lama kearahnya.
“Siapa sech orang itu? Apakah ia Asran?” Hana bertanya dengan dirinya sendiri.
Belum sempat Hana melangkah untuk masuk menuju ke Puskesmas, tiba-tiba Hp Hana bordering. Ada panggilan masuk dari nomor yang tak dikenalnya. Hana ragu untuk mengangkatnya.
“Apa mungkin ini Asran yang nelpon ya, pakai nomor baru?” Tanya Hana lagi. Panggilan pertama tidak diangkatnya, dan hanya selang beberapa detik nomor itu menghubunginya lagi.
Dengan rasa penasaran akhirnya Hana mengangkat nomor yang tak dikenal itu.
“Halo… Assalamu’alaikum…” Kata Hana.
“Wa’alaikumusalam..” Jawabnya. Suara Perempuan.
“Siapa ya?” Tanya Hana pada si perempuan penelpon tersebut.
“Ini dengan kak Hana bukan?” Tanyanya dengan suara yang agak ketus.
“Iya betul, ini siapa?” Tanya Hana lagi.
“Saya Sherly, pacarnya Asran…” Jawabnya dengan tegas. Hana mengerutkan keningnya.
Matanya seakan melotot tak yakin mendengar apa yang barusan dikatakan oleh wanita yang menelponnya ini.
“Pacarnya Asran….?” Tanya Hana dengan pelan.
__ADS_1
“Iya.. saya pacarnya Asran Ravendi… Seorang Polisi yang bertugas di Polres.” jawabnya masih dengan nada yang ketus. Hana menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar cara bicara wanita yang menurutnya agak sombong itu. Dan mendengar kata pacar, membuat hati Hana agak tersentak. Tidak pernah terpikirkan oleh Hana sebelumnya bahwa ASran sudah punya pacar. Hana tak pernah bertanya mengenai itu kepada Asran, dan Asranpun tidak pernah juga menyinggung persoalan pacarnya. Sesuatu yang tak pernah diduga oleh Hana.
“Emang ada apa ya?” Hana bertanya lagi karena dia juga masih bingung kenapa pacar Asran menelpon dia.
“Saya cuman mau bilang, tolong… kakak jauhin Asran!!” Katanya yang kini suaranya mulai tinggi dan terdengar nyaring. Hana sampai menjauhkan Hp dari telinganya karena saking nyaringnya suara perempuan itu.
“Maksudnya?” Lagi-lagi Hana belum memahami situasi tersebut dan terus bertanya.
“Kak ngak usah pura-pura bodoh, saya tahu kakak suka kan dengan Asran, terus-terusan menggoda dia, hampir tiap malam chat-chat dia… Saya ngak abis pikir kok bisa sech kakak suka dengan brondong? Umur kak jauh diatas Asran kan?” Ucapnya dengan berapi-api. Hana terdiam, masih mencerna kata-kata yang keluar dari mulut perempuan labil itu.
“Jadi, Saya harap kakak paham. Kami pacaran sudah sejak SMA kak, jangan kak rusak hubungan kami. Lebih baik kak cari cowok yang seumuran atau diatas kakak… jangan Asran…!!” Ucapnya masih berapi-api. Lalu Klik. Telpon terputus. Belum sempat Hana menjawab apa-apa, dia malah mematikan telponnya.
Hana menghela nafas panjang. Belum hilang goresan luka dari rekaman suara Asran kemaren, dan kini hatinya tergores lagi mendengar kata-kata yang menyakitkan dari perempuan yang mengaku pacaranya Asran…
***
Jam istirahat untuk makan dan sholat sudah masuk. Tapi, Hana masih terlihat uring-uringan diruangnnya.
“Han, kekantin yuk..” Tia mengajak Hana. Sejak tadi Tia memperhatikan Hana yang lebih banyak diam dengan tatapan yang kosong. Tia yakin pasti Hana ada masalah. Tia yang sudah lama bersahabat dengan Hana memang sudah kenal betul sifat Hana yang tertutup dan suka memendam sendiri permasalahnnya. Dia Tahu sifat Hana yang tak banyak bicara, Hana yang sederhana dalam bersikap dan berbicara.
“Lagi ngak enak badan aja kok Tia…” Jawab Hana.
“Oh… tapi kalo kamu butuh teman cerita, jangan sungkan ya Han… aku ini bukan lah setahun dua tahun kenal kamu… dah lama kan kita kenalnya… masak kamu ngak mau berbagi cerita sama aku…” Kata Tia.
“Iya Tia …. Nantik kalau aku sudah siap. Aku cerita dech” Jawab Hana dengan tersenyum.
“Oke deh, Yuk lah kekantin Han… aku dah lapar ne… kamu ngak lapar? Katanya lagi ngak enak badan, jangan telat makan Hana…” Ujar Tia lalu menarik tangan Hana. Hana akhirnya pasrah mengikuti ajakan Tia untuk kekantin.
Ketika mereka berdua telah sampai diparkiran, tiba-tiba Hp Hana bordering. Ada panggilan masuk, Hana mengambil Hp yang ada disakunya dan melihat siapa yang menelponnya. Ternyata Asran! Hana menolak panggilan itu.
“Kok ngak diangkat Han?” Tanya Tia bingung.
“Malas aja Tia…”
“Kenapa?” Hana tak menjawab Pertanyaan Tia.
__ADS_1
‘Kak.. ASran sekarang ada dikantin depan puskesmas…’
Jleb… Hana langsung menghentikan langkah kakinya saat membaca WA Asran yang barusan masuk itu.
“Kenapa berhenti Hana?” Tia bertanya bingung.
“kayaknya aku ngak jadi kekantin Tia…” Jawab Hana yang kemudian membalikkan badannya menuju kedalam Puskesmas lagi. Tapi, Tia malah menahan badan Hana.
“Ngak Bisa Hana…Yuk lah aku sudah lapar banget ini…” Tia menarik tangan Hana dengan kuat sehingga akhirnya Hana pasrah. Mereka sampai juga dikantin tersebut.
Hana melihat sekeliling kantin yang lumayan luas itu. ternyata ada banyak orang yang makan disana siang ini, ada beberapa teman puskesmasnya yang sudah stay disana, termasuk juga ada Dokter Andra dan teman-teman dokternya yang lainnya.
Dan Ada juga sekumpulan orang berseragam polisi yang duduk paling sudut dengan badan yang lumayan besar dan tegap. Hana yakin tidak ada Asran didalm perkumpulan mereka. Karena Hana hafal sekali bagaimana postur badannya Asran. Terus dimana Asran? bukankah dia bilang tadi ada dikantin Depan Puskesmas?
“Hana, kenapa berdiri aja?” Tanya Tia yang sudah duduk manis dikursinya. Sedangkan Hana masih berdiri dipintu kantin sambil memnandangi orang-orang didalam kantin tersebut. Hana lalu menuju ketempat duduknya Tia.
‘Kak… Asran mohon, beri Asran kesempatan untuk menjelaskan ke kakak yang sebenarnya secara langsung. Nantik pulang kak kerja. Asran tunggu kakak di Taman sebelum polres... bagaimana?’
Hana membaca pesan itu dengan seksama. Lagi-lagi Hana tak memberi jawaban apa-apa.
‘Kalau kak ngak jawab iya… jangan salah kan Asran, kalau Asran akan nekat menghampiri kakak saat ini juga… dikantin ini… Asran tepat dibelakang kakak ni..’
Spontan setelah membaca pesan berisi ancaman itu, Hana langsung membalikkan badannya kebelakang. Dan… benar saja Asran saat ini ada tepat dibelakangnya. Mereka duduk saling membelakangi. Entah sejak kapan dia ada disana, padahal tadi kan tidak ada? Hana berujar dalam hati sambil mengatur jantungnya yang berdetak tak tentu arah.
‘Apa kak mau semua teman-teman kakak nantik akan kaget kalau Asran tiba-tiba datang ke kakak dan menjelaskan semuanya didepan mereka? Jadi sekarang pilihan ada di kakak.. mau ketemu Asran ditaman atau…. Disini aja Asran ngomongnya?’ Katanya lagi seakan mengancam.
‘Jangan nekat kamu Asran…’
Akhirnya Hana membalas WA Asran. Karena tak terbayang olehnya bagaimana jika Asran benar-benar nekat melakukan itu. Akan diletakkan dimana wajahnya kalau seandainya orang-orang tau dirinya berhubungan dengan lelaki yang usianya jauh dibawahnya?
‘Oke… nantik pulang kak kerja kita ketemu!’
Tidak ada pilihan lagi untuk Hana selain mengiyakan tawaran Asran yang sedikitpun tidak menguntungkan dirinya.
Bersambung..
__ADS_1