Reminiscent

Reminiscent
PENGAKUAN KESEKIAN KALINYA..


__ADS_3

Keesokan harinya karena keadaannya yang sudah mulai membaik, maka Hana sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter.


Namun, Hana tidak pulang pagi itu juga. Karena ia menunggu Tia yang akan menjemputnya setelah jam pulang kerja nantik.


Hana mengusir kesuntukannya dengan berjalan menyelusuri taman yang ada dibelakang rumah sakit. Kemudian dia duduk disebuah kursi yang terbuat dari batu yang ada di tengah-tengah taman itu.


Hana melihat disekitarnya yang tidak begitu ramai orang yang berlalu lalang. Cuman ada beberapa orang yang juga duduk dikursi yang sama diseberang Hana.


Cuaca pagi ini lumayan cerah, namun karena banyaknya perpohonan rindang disekitar situ membuat angin berhembus sepoi-sepoi yang menyerpa wajahnya dengan lembut.


Meskipun saat ini perasaan Hana sedang tidak baik-baik saja, namun.. entah kenapa pagi ini ia seakan memperoleh energi baru yang membuatnya lebih bersemangat.


Terlepas dari dirinya yang sudah ditinggal Andra dan lelaki itu dengan cepat mendapat penggantinya yang baru, Hana seakan tersadar bahwa tidak seharusnya dia larut dalam kesedihan dan kegalauan yang semakin dalam seperti ini.


Tiba-tiba Hana teringat akan perkataan Tia tadi malam kepadanya.


"Han, sudahlah.. ikhlaskan saja Dokter Andra. Kalo dia memang sudah dapat pengganti kamu, berarti.. Allah sudah menunjukkan ke kamu kalau rasa sayang dia ke kamu cuman seujung jari, buktinya.. Baru beberapa hari putus, dia sudah mendapatkan pengganti kamu kan? Coba kamu pikirkan... Padahal hubungan kalian sudah menuju kejenjang yang serius. Orang tua sudah saling kenal, dan sudah ada rencana bulan depan akan bertunangan. Tapi, karena kesalahpahaman terhadap kamu dan Asran saja mampu membuat dia berpaling ke wanita lain. Setidaknya dia mencari tahu dulu kebenarannya. Jangan percaya dengan salah satu pihak aja.." Jelas Tia malam itu dengan panjang lebar.


"Dan.. Aku rasa sangat tidak adil rasanya kamu malah bersikap dingin ke Asran. Marah-marah ke dia, yang padahal dia sudah 2 kali menyelamatkan kamu, Han. Kalo dia tidak peduli ataupun tidak tulus sama kamu.. Gak mungkin sampai segitunya, Han. Aku yakin.. Asran itu benar-benar peduli ke kamu Hana, bukan mau taruhan atau apalah lagi seperti yang kamu ceritakan dulu. Anggaplah niatnya dulu memang buruk seperti itu, tapi.. kita kan gak tau dengan berjalannya waktu bisa merubah niat seseorang. Jadi, aku sarankan kamu pikirkan lagi baik-baik tentang Asran ya Hana. Jangan sampai kamu menyesal nantiknya.." Tia masih lanjut menasihati Hana panjang lebar. Namun, satupun tidak Ada yang ditanggapi Hana.


Meskipun didalam hati Hana mencerna semua ucapan Tia yang memang ada benarnya juga.


Untuk apa ia larut dalam kesedihan karena ditinggal Andra. Sedangkan laki-laki itu kini mungkin sedang bersenang-senang dengan kekasih barunya. Akhirnya Hana tersadar.. Memang tidak ada gunanya lagi dia memikirkan Andra yang sudah menjadi milik wanita lain.


Hana menarik nafas dalam-dalam kemudian menghirupnya perlahan-lahan. Setidaknya dengan begitu membuat hatinya sedikit lega dan untuk selanjutnya mulai menata hatinya kembali agar bisa menerima ini semua dengan lapangan dada.


Sedang asyiknya Hana bergelut didalam pikirannya, tiba-tiba saja Hana dikagetkan dengan sebuah sentuhan halus di bahunya dari belakang.


Sontak saja Hana langsung menoleh kebelakang dan mendapati seseorang yang ia kenal sudah berdiri dibelakangnya dengan sebuah senyuman yang sudah mengembang dibibirnya.


"Asran..??" Ucap Hana.

__ADS_1


"Iya kak. Ternyata kak Hana disini, Tadi Asran dari kamar kakak.." Kata Asran lalu duduk dengan santai disamping Hana. Hana lantas menggeser kan diri agak menjauh dari Asran.


"Ngapain kamu kesini? Dan.. dengan siapa??" Tanya Hana sambil kembali melihat kebelakang, mencari sosok lelaki dingin temannya Asran yang mana tahu saja juga datang bersama Asran.


"Yang jelas bukan sama Reynald, kak. Asran datang sendiri." Ujarnya yang paham dengan gelagat Hana.


"Oh, kamu sudah bisa bawa motor sendiri?" Tanya Hana dengan menaikkan alisnya.


"Alhamdulillah, sudah bisa kak."


"Gimana lukanya?" Meskipun sebenarnya Hana tidak ingin bertanya keadaan Asran, tapi entah kenapa kata-kata itu terucap juga.


"Sudah lumayan kak, tinggal buka jahitan aja dua hari lagi.." Jawab Asran dengan wajah sumringah karena sadar Hana yang masih peduli dengan dirinya.


"Baguslah.." Kata Hana kemudian memalingkan wajahnya dari Asran dan menatap lurus kedepan.


"Kak ngapain disini?" Tanya Asran.


"Gak ada. Pengen Cari suasana diluar aja, suntuk dikamar" Jawab Hana datar.


"Ya tanya aja.." Jawab Hana agak ketus.


"Kak jawabnya ketus aja dari tadi, jadi salting pulak Asran mau bilangnya ne, hehe.." Kata Asran mencoba mencairkan suasana yang agak tegang itu.


"Ngak ada yang lucu, Asran.. Kenapa ketawa?" Protes Hana.


"Lah.. ketawa pun dimarah. Serba salah ya.." Ucap Asran sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Jadi nanya gak nech? Kalau gak kak mau pergi lagi.."


"Kemana kak?"

__ADS_1


"Kekamar, mau tidur. Ngantuk!" Kata Hana lalu berdiri dan siap-siap hendak pergi meninggalkan Asran. Namun, belum sempat ia melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana, Asran malah menahan Hana dengan cara memegang pergelangan tangan Hana.


Hana melihat tangannya yang dipegang lembut oleh Asran. Kemudian Hana mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Asran, namun.. lelaki itu malah memperkuatnya.


"Kamu ngapain sech? Pakai pegang - pegang tangan kak segala.." Protes Hana masih berusaha melepaskan tangannya dari tangan Asran.


"Jangan pergi dulu kak, Temanin Asran ngobrol dulu ya? Sebentar aja.." Ucap Asran memohon dengan wajah yang sayu.


Melihat tatapan mengiba yang ditunjukkan Asran, membuat Hati Hana menjadi luluh sehingga ia kembali duduk disebelah Asran.


"Kamu gak kerja emangnya?" Tanya Hana.


"Asran ambil cuti sakit 1 minggu ka.."


"Seharusnya kalau kamu cuti sakit, kamu istirahat dirumah.. Bukan malah keluyuran kemana-mana."


"Iya kakak ku.. Setelah ini Asran pulang kok dan istirahat dirumah..." Katanya.


"Jadi mau ngobrol apa nech?" Tanya Hana seakan tidak sabaran menunggu apa yang ingin disampaikan oleh Asran.


"Hhhmmm... Asran merasa.. Entah pantas entah tidak Asran mengatakan ini kak, cuman.. Kalau tidak dikatakan, rasanya membuat dada ini semakin sesak kak.."


"Ngomong apa sech, Asran? Langsung aja ke intinya. Jangan berbelit-belit.." Potong Hana.


Asran kembali menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Padahal dia sudah ingin serius, tapi Hana malah mematahkan kata-katanya.. Yang membuat Asran jadi kehabisan kata-kata.


"Jadi kak Hana mau langsung - langsung aja ya??" Tanya Asran dengan jelingan matanya yang tajam.


"Iya. Biar cepat. Kak ngantuk banget, mau tidur." Kata Hana memberi Alasan.


"Ya sudah. Asran masih menaruh harapan ke Kak Hana. Harapan.. Untuk hubungan yang lebih serius. Asran Sayang kak Hana, bukan sebagai kakak ataupun teman. Tapi, Lebih dari itu.." Kata Asran tanpa jeda.

__ADS_1


Hana langsung terperanjat mendengar pengakuan Asran yang kesekian kalinya itu..


Bersambung..


__ADS_2