Reminiscent

Reminiscent
BENTUK PERHATIAN


__ADS_3

Hana Terbangun jam 05.30 wib. Dia teringat belum sholat subuh, dengan masih oyong dia segera bangkit dan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Sebenaranya kepalanya sakit sekali tapi tetap dipaksanya untuk sholat. Setelah selesai sholat, Hana rebahan diatas sajadahnya, rasanya badannya juga sakit-sakit semua, apakah ini efek perjalanan kemaren ya. Hana menguap beberapa kali, dia masih sangat mengantuk.



Teringat olehnya perjalanan pulang semalam. Tak disangka sangka saat mereka akan pulang, cuaca yang tadinya cerah berubah mendung. Dan tak lama kemudian turunlah hujan. Sesuatu yang tak mereka harapkan tentunya. Awalnya masih gerimis, jadi mereka lanjut saja perjalanan, tapi naasnya di jalan yang tak bagus tersebut hujan semakin deras. Mereka tak punya pilihan selain tetap meneruskan perjalanan karena kalo mau berteduh pun dimana? Tak ada satupun rumah ataupun pondok disana.


“Woii.. tolong Woii.. kami jatuh….” Kak Maya dan kak Sinta yang paling depan akhirnya tak bisa mengimbangi lagi, apa karena jalan yang semakin hancur karena hujan atau mungkin karena kelelahan yang akhirnya membuat mereka pasrah jatuh berdua diatas becek. Lantas bang Ferdi yang tepat dibelakang mereka langsung berhenti dan menolong mereka, mengangkat motor mereka. Dan tika membantu kak Maya dan Kak Sinta untuk bangkit.


“Ngak apa-apa kak? Ada yang Luka ngak?” Tanya Tika dengan khawatir.


“Ngak ada kayaknya, Cuman sakit aja ne kaki kakak rasanya karena terhimpit motor”


Hana dan Dokter Andra masih jauh dibelakang. Dokter Andra tampak sangat berhati-hati sekali membawa motornya, dia berusaha mengimbangi jalan yang licin itu agar tidak jatuh. Hana dibelakang merasa was-was. Dalam hati dia pasrah jika akhirnya harus jatuh juga seperti kak Maya dan Kak Sinta.


“InshaAllah… jangan khawatir ya kak Hana, Aku usahain mudah-mudahan kita ngak jatuh….” Ucap Dokter Andra seakan tahu apa yang ada dipikiran Hana. Hana hanya diam.


“Tapi, ada baiknya pegangan ya kak…” katanya lalu meraih tangan Hana dan meletakkan nya dipinggangnya. Spontan Hana kaget dengan perlakuan kurang sopan yang dilakukan dokter itu, Hana ingin menepisnya tapi belum sempat itu terjadi tiba-tiba petir menyambar dengan kuat. Reflex saja karena saking terkejutnya Hana malah memperkuat pegangan tangannya ke pinggang dokter Andra sambil menunduk menyembunyikan wajahnya. Detik kemudian, dia pun sadar dan langsung buru-buru melepas tangannya dari pinggang dokter itu. Dan tak sengaja Hana melihat kearah kaca spion, tampak olehnya sebuah senyuman manis menghisasi wajah dokter itu. Senyuman yang membuat Hana kesal pastinya!!


Rasanya-rasanya Hana tak ingin mengingat perjalanan yang memalukan itu bersama dokter Andra. Bagaimana bisa dia bersikap biasa saja jika berjumpa dengan Dokter itu di Puskesmas? Ditambah lagi gossip-gosip aneh yang akan disebarkan oleh kawan seperjuangan semalam… apalagi kalau sudah sampai ditelinga kak Septi, tak terbayangkan olehnya. Dan jika mengingat itu semua… membuat kepala Hana semakin sakit… Apa hari ini dia libur aja ya… merehatkan badannya yang sakit-sakit ini, kepalanya pun semakin berat. Ya sudah lah, izin aja… Hana menyakinkan dirinya dan kemudian kembali masuk kekamarnya.


‘Assalamu’alaikum, buk… Hana izin ya buk hari ini ngak masuk… Kepala sakit, badan pun sakit-sakit semuane… maaf ya buk, terimakasih…’ Hana mengirim pesan ke Buk Puji.


Setelah mengirim WA tersebut, Hana siap-siap mau memulai memejamkan matanya lagi. Tapi Tiba-tiba Hpnya bordering. Siapa sech yang nelpon pagi-pagi gini? Hana bertanya kesal dalam hati, tapi tetap mengangkat telpon dari nomor yang tak dikenalnya itu.


‘Assalamu’alaikum, kak Hana… bagaimana keadaannya? Kak ngak apa-apakan ??’ suara seoarng laki-laki. Hana memutar otaknya, siapa orang yang menelponnya ini.


‘ini siapa ya?’ akhirnya dia nyerah, dia tak bisa menebak itu siapa?


‘Andra kak…’ mendengar nama itu lantas membuat hana terduduk. Kok bisa-bisanya si Dokter bawel itu nelpon dia, tahu dari mana coba dia no Hp Hana.


‘oo.. ya, baik kok’ jawab Hana cuek dan yang jelas dia bohong, padahal keadaannya malah sebaliknya.


‘tapi kalo dengar dari suaranya, kakak lagi ngak baik-baik aja… kak sakit ya?’ Tebaknya yang membuat Hana sedikit geram. Malas rasanya ngeladeni Dokter itu, Padahal Hana ingin kembali istirahat dan tidur.


‘kak?’ Dia memanggil Hana, karena Hana hanya diam.


‘iya.. kenapa?

__ADS_1


‘kak… istirahat aja hari ini, jangan masuk dulu ya… perjalanan semalam memang menguras tenaga kak, ditambah lagi hujan, pasti kak sekarang meriang kan.. sakit kepala kan… jangan lupa minum obat ya kak… makan vitamin juga…’ Ucapnya dengan penuh perhatian. Tapi rasanya Hana pengen muntah mendengar ucapan Dokter itu barusan.


‘oke.’ Jawab Hana singkat lantas menutup telponnya.


Bukan sekali atau dua kali Hana bersikap dingin seperti ini kepada lelaki, sudah banyak malahan. Bukan Hana namanya kalo tidak mencuekkan lelaki yang memberi perhatian kepada dirinya. Dan Hana yakin cuman bertahan beberapa hari pastinya yang akhirnya si dokter itu akan jera dan berhenti ditengah jalan.



Tapi ada suatu hal yang mengganjal dihatinya saat ini. Disaat badan dan kepalanya sakit, hatinya malah terasa ngilu. Hana meraih Hpnya lagi dan membuka WA. Menscroll Wa ny kebawah, dan scrollnya pun berhenti tepat di sebuah nama. Sebuah nama yang mampu membuat rasa penasaran dihatinya, WA terakhirnya pun belum kunjung di buka. Sudah 2 hari!! Padahal dia menaruh harapan lebih… harapan untuk mengenal lebih jauh….


***


Diluar dugaaan Hana, ternyata Dokter Andra tidak juga jera setelah Hana memutuskan telpon sepihak tadi pagi itu, siangnya saat Hana lagi makan dia menelpon lagi. Hana sengaja tidak men-save nomor itu, tapi Hana tahu itu pasti dia.


‘Assalamu’alaikum, gimana keadaannya kak? Sudah agak mendingan belum…’ karena Hana tak kunjung menngangkat, dia lantas mengirim WA Ke Hana.


‘iya, sudah mendingan lah Dok…’ jawab Hana akirnya karena dia juga tak mau di cap sombong nantiknya kalo gak balas.


‘syukurlah kak… sebenarnya aku khawatir dengan keadaan kakak…rumah kak dimna ya? Apa boleh aku main kesana…?’


What?? Main kerumah…. Kekosan dia.. yang benar saja…. Kenal juga baru beberapa hari sudah mau kerumah aja… Hana mendumel dalam hati.


‘maaf ya kak Han, kalo WA aku ne menggangu istirahatnya kakak… yang penting jangan lupa makan obat dan vitamin ya kak, semoga cepat pulih dan kembali lagi ke Puskesmas.. beraktifitas seperti biasa… see you kakak..’


selang 10 menit kemudian WA darinya masuk lagi. Hana bingung harus jawab apa karena hatinya sudah terlanjur malas, malas untuk memulai dan melayani.


Padahal… Hana punya harapan lain… harapannya balasan WA dari Asran.. yang sampai detik inipun tak ada balasan, WA Hana saja tak dibuka-bukanya… kenapa ya… apakah memang tak ada sedikitpun dia merasakan kehadiran Hana? tapi kalau dipikir-pikir memang seharusnya tidak, Hana orang asing baginya. Hana saja yang beranggapan lain karena dia mirip Reno. Ayoo Hana… Bangkit!! Asran bukan Reno. Reno sudah lama meninggal. Kebetulan saja fisik itu anak mirip dengan Reno, tapi sifat dan perilakunya belum tentukan…. Hana menyakinkan dirinya, karena dia tak ingin lama-lama disituasi ini. Situasi yang tak mngenakkan, menunggu hal yang tak pasti….


Sore Harinya kak Ria main kerumah Hana. Dia cerita kalau dia kalah saat final Volly kemaren. Hana minta maaf tidak bisa menonton karena kemaren dia turun vaksin ke desa. pulangnya saja sudah sore, mana sempat dia menonton.


“Final Cowok besok Han.. Nonton yok…. Bayangkara Lo lawan SRC… Sama-sama kuat ini. Pasti seru….” Ajak Kak Ria.


“hhhmmm… Lihat besok ya kak, karena hari ini aja Hana ngak ke Puskesmas karena ngak enak badan.” Ucap Hana dengan agak memelas.


“kamu sakit?” Tanya kak Ria khawatir. Hana mengangguk.


“Udah agak mendinganlah kak, tadi pagi yang lumayan parah kepala Hana sakit banget…”

__ADS_1


“OOhh… udah minum obatkan…”


“sudah kak…”


Untuk beberapa saat Hening. Kak Ria sibuk mengetik sesuatu di Hpnya. Hana pun sibuk dengan pikirannya. Ada sesuatu yang mendorong Hana untuk bertanya ke kak Ria tentang Asran. Kemaren kak Ria sempat bilang kalau dia kenal dengan Asran itu. Tapi, bagaimana cara mulainya ya? Hana berpikir keras.


“kak….” Panggil Hana, kak Ria menoleh.


“Ya Han… kenapa? Kayakanya ada yang mau dibilang ne….” tebak Kak Ria. Mungkin wajah Hana memang mudah ditebak kali ya.


“Mengenai pemain Tim Bayangkara itu Lo kak.. mereka polisi semua ya?” akhirnya Hana bertanya juga meskipun tidak to the point pertanyaannya.


“oo… tidak semuanya sech, setahu kak yang polisi cuman 4 orang. Yang selebihnya orang biasa… pemain bayaran….”


“Yang mana aja kak yang polisi?”


“Hhhmmm… Yang nomor 9, yang paling ganteng itu, ada kak tunjuk kan sama Hana kemaren kan.. Namanya Randi, terus yang agak montok nomor 5 itu namanya Aldi, terus… nomor 2 siapa ya kak lupa namanya… dan yang terakhir si Toser nomor 12… si Asran, kak kenal dia karena abangnya kawan kak dulu waktu kuliah di kota… pemain voli juga, sekarang dah nikah dan tinggal disana….” Jelas kak Ria.


“siapa yang dah nikah kak? Asran?” Tanya Hana dengan sedikit gak nyambung dengan penjelasan kak Ria.


“Bukaaannn Hanna… tapi abangnya Asran itu… kalo Asran itu masih budak kecik… belum cukup umur untuk nikah, hahaha…”


“Emang berapa umurnya kak?” Tanya Hana Lagi.


“Kak ngak tahu pasti, tapi palingan 23 atau 24 gitu lah ya… karena dia dengan abangnya itu beda 6 tahunan…”


“ Tapi, tunggu- tunggu… kenapa kamu Tanya tentang Asran, kayaknya… jangan-jangan….” Kak Ria menatap Hana dengan curiga. Hana jadi salah tingkah.


“Enggak kak… udah ah jangan natap Hana seperti itu…”


“kamu suka ya dengan Asran? Hana.. kalau pun kamu ada yang suka dengan salah satu dari mereka, dilihat dulu donk yang seumuran kamu…. Dengan Randi, Aldi atau yang satunya lagi kak masih maklum karena mereka seumuran sama kamu…. Tapi kalau dengan Asran…. Jauh Han… dia masih kecil banget…” ucap kak Ria sambil geleng-geleng kepala.


“Yang bilang suka siapa sech kak…” Hana berusaha mencairkan suasana dengan pura-pura tertawa juga agar kak Ria tidak lagi mencurigainya.


“Tapi kalau kagum ngak apa-apa sech, si Asran itu memang bagus mainnya. Tekhnik tipu-tipunya mantap… jadi ngak bosan nontonnya. Makanya sempat sembuh Han, biar besok kita bisa nonton mereka…”


“Iya kak…”Kata Hana kemudian. Dan pembicaraan mereka sore itu pun terhenti saat anak kak Ria datang dan merengek untuk diajak jalan-jalan.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2