Reminiscent

Reminiscent
SEBUAH RASA


__ADS_3

Jam pulang Puskesmas sudah lewat 10 menit, akan tetapi Hana belum juga beranjak dari ruangannya. Ada laporan yang harus diselesaikannya juga hari itu, karena esoknya harus diantar ke Dinas Kesehatan.


Akhirnya setelah adzan Ashar, laporan Hana selesai, dan Hana siap-siap untuk pulang. Ketika Hana sampai diluar Puskesmas hendak menuju keparkiran, tak disangka dari kejauhan Hana melihat Dokter Andra yang juga ada diparkiran. Ia sedang duduk diatas motornya, dengan pandangan tertuju ke Hana.



Melihat dirinya diperhatikan. Hana membuang muka. Rasa marah dan kesalnya tadi pagi sebelum rapat masih belum hilang. Ingatan Hana kembali lagi ke kejadian tadi pagi. Setelah perkataan kak Septi yang tiba-tiba itu, perkataan yang seketika membuat heboh satu ruangan. Dan satu hal yang paling mengesalkan, belum sempat Hana membantah tudingan kak Septi, si Dokter Andra malah berkata yang membuat suasana semakin heboh.


“Tidaklah kak, kami ngak pacaran kok…. Tapi doain saja, mudah-mudahan suatu saat lebih dari itu….” Ucapnya dengan keyakinan sepenuh hati dan sambil tersenyum. Sontak saja orang-orang yang ada dalam ruangan itu bersorak sambil mengaminkan apa yang dikatakan Dokter Andra.


Hana diam. Rasanya lidahnya kaku untuk mengeluarkan suara ataupun sekedar kata penolakan. Hingga akhirnya Kepala Puskesmaspun datang, lalu semua orang kembali ketempat duduk masing-masing. Dan Rapatpun dimulai saat itu.


Hana berjalan menuju parkiran motornya. Pandangan Hana lurus kedepan seolah-olah tidak melihat keberadaan Dokter Andra yang ada tepat disebelah kanannya. Hana tak peduli dianggap sombong, yang jelas dia masih kesal dengan perkataan Dokter Andra tadi pagi itu.



Akhirnya Hana berlalu dari sana. Ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Hana bersyukur sekali Dokter itu tidak datang menghampirinya atau sekedar menyapanya. Dalam hati Hana berharap semoga dengan sikap cuek dirinya ini dapat membuat Dokter itu berhenti untuk mendekatinya lagi.



Setelah Lima menit dalam perjalanan pulang, tiba-tiba saja Hana merasa ada yang lain pada ban motornya. Perasaan Hana jadi tak enak, Dia pun langsung menghentikan motornya dan memeriksa ban bagian belakang. Dan benar tenyata perasaannya… Ban motornya bocor. Hana menghela nafas kesal.


“Ya Allah… Bannya Bocor… bengkel dimana ya…” Hana bertanya dengan dirinya sendiri.


Hana melihat kebelakang jalan, berharap ada orang yang lewat dan memberitahu dirinya dimana bengkel terdekat, tapi sayang jalanan terlihat sepi, tak satupun terlihat motor yang lewat dijalan itu. lagi-lagi Hana pasrah harus mendorong motornya ke bengkel yang mungkin saja ada setelah jalan tanjakan didepannya ini.


__ADS_1


Saat Hana mulai mendorong motornya, tetiba saja ada sebuah motor berhenti tepat disampingnya. Seorang laki-laki lengkap dengan helm hitam dan jacket hitam yang dikenakannya. Hana tidak tahu dia siapa karena dia belum melepas helm yang terlihat gelap dari luar itu.


“Kak… Ban motornya bocor ya…?” Tanyanya kepada Hana.


Mata Hana seakan melotot mendengar suara yang ngak asing itu, suara yang ternyata milik Dokter Andra. Hana tak mengubris pertanyaan darinya. Ia tetap berlalu dengan mendorong motornya. Dokter Andra langsung berdiri dan memegang motornya Hana.


“Biar saya aja yang dorong kak…” Tawarnya.


Hana hanya diam, dan juga tidak menolak saat Dokter Andra mengambil alih mendorong motornya.


“Oiya,, kak bawa motor saya aja ya… kalau tidak salah setelah tanjakan ini, disimpang tiga itu ada bengkel..mudah-mudahan masih bukak…” Ucapnya.


Hana masih belum mengeluarkan suara, untuk sekedar mengucapkan iya ataupun terimakasih. Tapi ia tetap menuruti perkataan Andra dan menaiki motornya itu.



Sesaat setelah melewati tanjakan, Hana melirik kebelakang melalui kaca spion. Ia melihat bagaimana Andra mendorong dengan kekuatan penuh motornya dijalan tanjakan itu. Hana merasa sedikit tidak enak. Tapi egonya kembali menyadarkannya, bukan salah dirinya juga karena bukan dia yang minta. si Dokter itu yang menawarkan dirinya bukan?



“Pak.. Tolong tambal ya, Bannya bocor” Ucapnya kepada bapak sipemilik bengkel tersebut. Setelah itu Dokter Andra berjalan menuju warung disebelah bengkel. Ia membeli 2 minuman mineral yang dingin.


Kemudian ia kembali lagi kebengkel dan berjalan menuju ke tempat dimana Hana sudah duduk sedari tadi.


“Kak, ini aku belikan minum….” Katanya sambil menyodorkan minuman yang ia beli ke Hana. Hana tak langsung mengambil minuman yang disodorkan oleh dokter Andra, Ia terlihat sedang menimbang-nimbang.


“Ambil kak…” Ucapnya lagi dan kali ini dengan agak terpaksa Hana mengambil minuman itu juga.

__ADS_1


Hana pura-pura sibuk dengan ponsel ditangannya. Ia berharap Si Dokter yang dia anggap agak bawel ini tidak mengajaknya berbicara. Tapi, bukan Andra namanya kalau tidak bisa mencairkan suasana yang terlihat kaku itu.


“Kak Hana marah ya sama aku, karena kejadian tadi pagi?” Tanyanya yang membuat Hana berhenti sejenak memainkan Hpnya.


“Ya aku tau, pastilah kakak merasa marah, kesal atau apalah lagi… sebab itu, aku sungguh-sungguh mau minta maaf kak…aku tak bermaksud sebenarnya untuk mengatakan hal itu… Ya aku pun ngak tau juga kenapa bisa terlontar kata-kata itu…. aku benar-benar merasa bersalah… kak mau maaf kan aku kan???”


Tanyanya lagi.


Hana memutarkan bola matanya. Dia tak tau harus menjawab apa. Ditanya marah? Pastilah saat ini dia sedang marah, marah besar malahan. Meskipun si Dokter itu sudah membantunya membawa motornya kebengkel, tapi tetap saja rasa marahnya ini belum hilang.


“Kak…” Panggilnya lagi yang mendapati Hana masih bungkam.


“Kak benar-benar ngak mau ngomong sama aku ya?”


Hana merasa tak nyaman ditanya-tanya terus, dan akhirnya dia mengeluarkan suara juga.


“Lebih baik Dokter Andra pulang duluan aja ya, saya ngak apa-apa kok sendiri disini…” Kata Hana dengan kalimat yang seakan-akan mengusir Andra dari sana.


“Dan terimakasih banyak sudah nolongin saya…” Lanjut Hana lagi.


Mendengar kalimat usiran dari Hana tersebut membuat Andra tersenyum, senyuman lebar dan begitu manis. Hana melihatnya dengan jelas. Dan merasa aneh. Dalam hati dia berujar, diusir kok malah senyum-senyum ngak jelas gitu…


“Kak, aku tau kak merasa terganggu dengan kehadiran aku, dengan sikap aku, dengan kata-kata aku… aku yakin itu semua membuat kak ngak nyaman atau bahkan mungkin kak mulai benci dan muak dengan aku ini… tapi, sayang sekali kak… aku tak akan menyerah begitu saja, aku ngak akan mundur ataupun patah semangat mendekati kakak…karena apa… karena sebuah rasa yang sudah bersemayam disini kak… dihati aku..” Katanya seraya memegang bagian dadanya.


Hana tersentak mendengar kalimat panjang yang dilontarkan Dokter berkaca mata itu. Hana juga menangkap sinar ketulusan dari pancaran bola matanya yang kecoklatan itu.


“A-aku…. Aku suka dengan kakak… dengan kak Hana…” Katanya dengan yakin.

__ADS_1


Hana menelan ludahnya. Dia tak pernah menyangka si Dokter ini akan nekat berkata seperti itu kepada dirinya dan ditempat ini. Hana tak berkomentar apapun atas pengakuan Dokter Andra yang mendadak itu. Dokter Andra pun tidak berkata apa-apa lagi setelah kalimat terakhir tadi. Dan kini ia malah sibuk dengan Hp yang ada digenggamannya.


Bersambung..


__ADS_2