Reminiscent

Reminiscent
SAKIT HATI


__ADS_3

"Kamu kenapa diam aja tadi sech, ngak jawab pertanyaan dari kawan-kawan mu itu..?" Tanya Hana kepada Asran. Saat itu mereka sudah dalam perjalanan menuju ke desa seberang yang berada lumayan jauh dari tempat tinggal mereka.


"Bukannya menyanggah, malah ketawa ngak jelas!" Lanjut Hana lagi dengan menumpahkan kekesalannya ke Asran.


"Maaf Kak Hana, Bukannya Asran ngak mau menyanggah.. cuman malas aja kak.. kalau Asran jawab bakalan ngak ada habisnya mereka bertanya. Jadi, Asran putuskan diam aja." Jawab Asran.


"Kak Hana jangan marah ya.." Katanya lagi sambil menoleh sebentar kebelakang.


"Jangan lihat-lihat kebelakang. Entar Nabrak!" Kata Hana masih dengan wajah kesalnya.


"Wauuu... Kak Hana bisa galak juga ternyata ya.." Katanya sambil dengan tertawa kecil. Hana menghela nafas dengan kesal. Ia memutuskan untuk diam.


"Kak..??" Asran memanggil Hana yang tidak membalas ucapannya tadi.


"Hhmmm..." Jawab Hana dengan malas-malasan..


"Kak Hana jangan ngambek gitu donk.. Nantik Asran jadi kepikiran, Ngak konsentrasi waktu bertanding kak. Plis.. Kak Hana mau Asran mainnya berantakan hari ini?? Ngak mau kan??" Tanyanya.


"Iya.. Iya.. Emang siapa yang ngambek sech? Kayak anak kecil aja.." Ucap Hana sambil tersenyum geli.


"Hahaha.. Oh ya, Asran Lupa kalau sekarang ini sedang membonceng Wanita Dewasa bukan anak kecil.." Katanya lagi. Hana tidak menanggapi ucapan Asran tersebut.


Akhirnya mereka pun sampai ketempat tujuan setelah menempuh perjalanan lebih kurang 1,5 jam.


"Jauh juga ya ternyata.. nantik sampai dirumah jam berapa ini?" Tanya Hana dengan suara yang mulai panik.


"Pasti malam kita sampai rumahnya kak, Tapi.. tidak kemalaman kali lah.." Jawab Asran dengan santai.

__ADS_1


"Hah?Duuh.. kamu ngak bilang tempatnya jauh kayak gini. Kalau tau dari awal kakak bakalan gak mau ikut.. Kak Ngak berani pulang malam-malam" Kata Hana dengan suasana hati yang mulai gelisah.


"Kak Hana gak usah risau.. Kak kan perginya sama Asran. Pokoknya Asran pastikan kak Hana dalam keadaan baik-baik aja sampai dirumah. Oke?" Kata Asran menenangkan Hana.


"Hhmmm..."


"Asran ini polisi Lo ka. Masak Kak Gak percaya sama polisi?" Katanya setelah itu tersenyum dengan lebar.


"Iya..Iya..Pak Polisi.." Ucap Hana kemudian.


Setelah itu, Mereka berjalan menuju lapangan Voli. Disana sudah ramai para penonton berjejeran dipinggir lapangan untuk menonton pertandingan Final pada siang hari itu.


"Kak, Asran pemanasan dulu ya.. Kak duduk nonton disini aja. Gabung dengan ceweknya teman Asran juga boleh disana..." Kata Asran sambil menunjuk kearah wanita-wanita muda itu. Hana hanya mengangguk saja atas saran Asran tersebut. Akan tetapi, ia merasa enggan untuk bergabung bersama wanita muda itu yang dari awal selalu memandang dirinya dengan pandangan aneh dan meremehkan. Biarlah dia duduk sendiri disini dari pada bergabung dengan mereka yang Hana rasa bakalan tidak sepaham dan sepemikiran dengan dirinya.


Beberapa menit kemudian, pertandinganpun dimulai. Hana yang saat ini menonton didalam lapangan merasa lebih leluasa untuk melihat pertandingan yang begitu seru itu.


Ada beberapa kali Asran mengalihkan pandangannya untuk sekedar melihat kearah Hana dan juga melemparkan senyuman khasnya itu ke Hana. Hana tidak begitu saja membalas senyuman Asran tersebut, Ia seakan terbius dan terpana dengan pesonanya Asran dilapangan.


"Boleh ganggu sebentar kak?" Tiba-tiba suara seseorang mengagetkan Hana. Seseorang yang sudah duduk tepat disebelahnya.


"Iya, Boleh.." Jawab Hana sedikit ragu-ragu karena ia tidak mengenali orang tersebut.


"Aku temannya Asran, Polisi juga.." Katanya mengenalkan diri.


"Oohh.. Ada apa ya?" Tanya Hana.


"Kak...maaf sebelumnya, bukan maksud apa-apa.. cuman aku mau ingatin aja kak, Jangan terlalu percaya sama Asran.." Katanya. Ia menggantungkan kalimatnya untuk beberapa saat lalu melihat Asran dilapangan. Hana menunggu lanjutan kalimat lelaki itu dengan rasa penasaran yang teramat tinggi.

__ADS_1


"Kak Hati-hati aja. Tidak semua polisi itu baik Lo kak.." Lanjutnya lagi. Kini Hana benar-benar terperanjat mendengar penuturan dari lelaki tersebut.


"Maksudnya...??" Hana bertanya sambil menatap erat wajah lelaki yang terkesan sangat serius itu.


"Iya, padahal dulu kakak sudah sempat mendengar rekaman suara Asran kan?? Yang dikirim ke Hpnya Kak Ria.. Jadi, aku heran aja.. kenapa kakak begitu cepat luluh lagi dengan kata-katanya Asran.."


"Semua yang ia katakan ke kakak itu, hanyalah akal-akalan dia aja kak supaya kakak percaya. Termasuk juga perkataan yang bilang kalau dia suka ke kakak dan bahkan mau melamar kakak.. Ciihh.. Semua itu palsu kak.. Aku tau betul bagaimana tabiat manusia satu itu... Dia itu.. Menjadikan kakak sebagai ajang untuk taruhan aja.. ke kami-kami ini.. ke semua teman polisi yang lain.. termasuk juga dengan datangnya kakak kesini hari ini. Itu sebuah taruhan kak..


Aku juga tidak ngerti jalan pikiran dia.. Dan tidak habis pikir aja kenapa dia tega melakukan itu ke kakak"Jelasnya dengan panjang lebar.


Hana hanya diam. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu yang membuatnya tidak mampu untuk mengeluarkan suara. Yang jelas saat ini hatinya merasa sakit. Terlepas benar atau tidak apa yang diucapkan oleh lelaki ini, yang pasti.. hatinya sungguh sudah sakit duluan. Begitu ngilu sampai terasa menusuk ke relung hatinya yang terdalam.


"Aku kasihan aja sama kakak.. padahal kak baru sampai semalam kan, seharusnya hari ini kak istirahat dirumah bukan disini.. malah menonton pertandingan lelaki yang sudah menipu kakak mentah-mentah.." Lanjutnya lagi yang membuat Hana heran karena lelaki itu tahu tentang dirinya yang baru pulang semalam.


"Maaf sudah memberitahu ini semua ya kak.. Aku bicara jujur apa adanya.. Sekarang, terserah kakak mau bagaimana, tetap mempercayai Asran atau mempercayai perkataan aku ini.."


"Ya sudah..Aku pergi dulu ya kak..Tolong dipikirkan baik-baik ya.." Lalu ia pergi meninggalkan Hana yang masih terdiam.


Hana merasa seakan menelan sebuah pil pahit setelah mendengar semua yang dikatakan laki-laki yang ia tidak ketahui siapa namanya itu. Bahkan Hana Lupa bertanya siapa namanya karena sibuk menata hatinya yang terasa amat begitu sakit.


Hana melihat kelapangan. Matanya menatap tajam kearah Asran yang tampak lagi mengoper bola. Setelah bola itu berhasil dioperkannya dengan tepat sasaran, Ia lalu memandang Hana sambil melambaikan tangannya kearah Hana.


Hana sungguh merasa bingung. Apa yang harus ia perbuat? Menunggu Asran selesai bertanding.. Ataukah pergi sekarang juga Meninggalkan lelaki yang lagi-lagi membuat hatinya terluka itu.......


Hana sungguh tidak sanggup lagi harus berada dilapangan ini lama-lama, belum lagi.. beberapa pasang mata sadari tadi memperhatikannya dari kejauhan. Memandangnya dengan pandangan sinis. Mata-mata milik wanita muda yang katanya tadi adalah pacarnya teman-teman Asran.


Beberapa menit kemudian, Hana memutuskan untuk pergi dari sana. Ia berjalan dan lalu setengah berlari meninggalkan lapangan voly tersebut. Asran yang menyadari akan hal itu dari lapangan, hanya bisa menatap kepergian Hana dengan rasa bingung...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2