
Tepat jam 10 malam Asran sampai dirumah orang tuanya. Rumah yang berdiri megah itu kini dihuni oleh 2 orang saja, ibu dan adiknya yang baru masuk kuliah.
Awalnya kehidupan keluarga Asran sangat berkecukupan, tapi semenjak 2 tahun yang lalu dimana Ayahnya pergi meninggalkan mereka karena wanita lain, kehidupan merekapun berubah. Ayah Asran tidak lagi membiayai kebutuhan mereka terutama adik Asran yang saat itu masih bersekolah. Sampai saat ini, entah dimana rimba Ayahnya itu Asranpun tidak tahu. Yang jelas semenjak kejadian Ayahnya meninggalkan mereka, semenjak itulah Asran menganggap Ayahnya telah tiada.
Maka dari itu, Ibu Asran yang tidak bekerja saat ini menggantungkan hidupnya dan juga biaya Kuliah adiknya kepada Asran. Namun, Awalnya.. Abang Asran yang bernama Asmarlah yang banyak membantu kehidupan mereka, Asmar yang memiliki sebuah usaha yang lumayan sukses dan berkembang. Akan tetapi, setelah Asmar menikah setahun yang lalu ia pun tidak lagi banyak membantu. Kehidupan istri Asmar yang biasa dengan kemewahan ditambah lagi mereka sudah dikarunia seorang anak yang jadi pemicunya.
Ibu Asran menyambut kedatangan Asran dengan suka cita, karena sudah lama juga Asran tidak pulang kerumah. Ia begitu rindu dengan anaknya yang tampan itu.
"Jadi, kamu ada kegiatan apa sebenarnya disini, Asran? Ada kegiatan dinas dari kantor ya?" Tanya Ibu Asran. Saat itu mereka tengah berada diruang makan, Ibunya membikinkan teh dan cemilan untuk Asran.
Asran yang lagi mengunyah makanan langsung tersedak mendengar perkataan ibunya barusan. Sebenarnya Asran belum memberitahu ibunya apa tujuannya pulang saat ini. Ia sama sekali belum cerita mengenai rencananya untuk menikah dengan wanita pilihannya.
"Bukan bu.. Bukan karena adanya kegiatan dinas dari kantor" Jawab Asran.
"Lalu??" Ibu Asran bertanya dengan mengerutkan keningnya.
"Hhmm..Sebenarnya.. Asran pulang karena ingin memberitahu sesuatu ke ibu.." Kata Asran terdengar ragu-ragu.
"Kalo ingin memberitahu sesuatu kan bisa saja melalui telpon. Jadi, kamu gak usah repot-repot pulang. Sayang kan ongkosnya bolak balik ke sini lumayan juga Lo Asran. Mending ditabung untuk biaya kuliahnya Asni." Ujar Ibunya.
"Ya.. Karena.. bukan sekedar memberitahu aja bu.. Eee.. Asran ingin mengenalkannya langsung sama ibu.." Kata Asran dengan kalimat yang terputus-putus.
"Mengenalkan? Mau mengenalkan siapa maksud kamu neh?" Tanya Ibu Asran bingung.
__ADS_1
Asran menunduk untuk beberapa saat. Ia seakan tampak sedang memilah kata yang tepat untuk disampaikan ke ibunya. Karena Asran yakin ibunya pasti kaget jika mengetahui alasannya pulang adalah untuk mengenalkan calon istrinya ke ibunya itu.
"Asran.. Mau memperkenalkan calon Asran ke ibu.." Kata Asran dengan pelan.
"Kan sudah kenal. Si Sherly maksud kamu kan? Pacar kamu itu.." Ibu Asran langsung saja memotong padahal Asran belum selesai berbicara.
"Bukan bu, Bukan Sherly. Asran dan Sherly sudah putus." Kata Asran.
"Putus?? Kok bisa??" Tanya Ibunya dengan sedikit berteriak.
"Kalian sudah lama berpacaran padahal tapi kenapa akhirnya putus sech.. ? Sayang banget Asran.." Lanjut Ibunya lagi dengan raut wajah yang sedih.
"Ya karna gak sepaham aja lagi bu, karena pacaran lama juga gak menjamin itu bakalan jadi jodoh kita kan? Nah sekarang Asran mau mengenalkan yang baru sama ibu.."Jelas Asran seraya tersenyum manis.
"Besok bu.. Asran akan ajak ibu langsung kerumahnya.." Jawab Asran dengan antusias.
"Loh..Loh.. Kok ajak ibu kerumahnya? Kenapa gak dia dibawa kesini aja? Emangnya kita mau langsung melamar dia pakai ke rumahnya segala." Kata Ibu Asran dengan heran.
"Memang benar bu.. Asran ingin ajak ibu kerumahnya untuk langsung melamar dia jadi istri Asran." Jelas Asran yang langsung disambut dengan mata melotot dari ibunya.
"Kamu bercanda kan Asran? Ada-ada aja kamu ini, Banyak gaya kamu pakai mau melamar anak gadis orang segala.." Ucap ibunya sambil tertawa kecil.
"Asran serius bu, tidak bercanda!" Kata Asran dengan wajah yang serius.
__ADS_1
"Kamu gak lagi mabuk kan Asran? Kenapa omongan kamu jadi ngelantur begini?" Tanya Ibunya dengan gurat kebingungan.
"Ngak bu, Asran sadar dengan apa yang Asran ucapkan. Asran ingin menikah bu. Segera... Dalam waktu dekat ini.." Kata Asran dengan yakin.
Ibu Asran terdiam sejenak sembari menatap erat kedua mata anaknya itu yang sama sekali tidak terlihat kebohongan dimatanya.
"Kamu yakin? Tapi, kenapa tiba-tiba Asran?"
"Yakin bu. Karena Asran rasa memang sudah seharusnya Asran menikah bu. Asran tidak mau lagi berpacaran lama-lama. Asran sudah yakin dengan pilihan Asran kali ini. Asran mau menikahi dia, bu.."
"Ngak Asran!! Ibu gak mau kamu menikah secepat ini" Tegas ibu Asran dengan mata yang melotot marah.
"Kamu tau tidak? Dengan cepatnya kamu menikah itu akan menjadi malapetaka bagi ibu dan juga adikmu. Kamu tau sendiri bagaimana kelakuan Ayah kamu yang tidak bertanggung jawab itu, Yang tidak lagi membiayai kehidupan kita. Lepas tanggung jawab begitu saja. Dan kamu.. Lihat bagaimana juga kelakuan abang kamu Asmar yang berubah setelah ia menikah. Dengan berbagai alasan dia tidak lagi mau membantu kebutuhan ibu dan juga Asni. Dan.. Sekarang.. Kamu memutuskan ingin menikah juga.. Kamu mau mengikuti jejak Abang mu itu? Kamu juga mau menelantarkan kami berdua ha? Begitu Asran??" Ucap Ibunya dengan berapi-api.
Sebenarnya Asran paham sekali akan kerisauan ibunya itu, karena memang beberapa tahun belakangan ini Asran lah yang menjadi tulang punggung ibu dan adiknya. Abangnya masih membantu tapi hanya ala kadarnya saja dengan berbagai alasan. Tidak salah jika ibunya merasa khawatir jika Asran juga nantiknya akan seperti itu.
"Bu.. Asran janji, setelah menikah Asran akan tetap memenuhi kebutuhan ibu dan juga Asni. Ibu gak perlu khawatir, Asran akan mengatur dengan sebaik mungkin bu" Tutur Asran menyakinkan ibunya.
"Ya.. Memang, seperti itu juga yang dijanjikan Abang kamu dulunya, tapi.. buktinya apa? Setelah menikah dia seakan lupa dengan janji-janjinya itu. Dia malah menjadi suami penurut dengan istrinya dan sangat memanjakan istrinya itu dengan uangnya. Wanita itu melarang abangmu untuk membiayai kebutuhan kami, dan Abangmu yang bodoh itu malah menuruti keinginan istrinya. Sedangkan wanita itu malah dengan bangga dan juga sombongnya memamerkan semua hartanya Asmar ke semua orang" Jelas Ibu Asran dengan emosi.
"Ibu, jangan samakan Asran dengan Abang Asmar bu, anggaplah bang Asmar mungkin memilih wanita yang tidak tepat untuk dijadikan istri. Tapi, tidak dengan pilihan Asran bu. Asran yakin pilihan Asran ini tidak seperti istri bang Asmar. Asran akan pastikan setelah menikah.. Kak Hana pasti bisa menerima segala sesuatunya bu.." Kata Asran dengan yakin.
"Siapa tadi kamu panggil dia barusan???" Tanya ibu Asran yang merasa janggal akan panggilan Asran terhadap Hana. Asran terdiam sejenak dengan pikiran buruk yang mulai merasukinya..
__ADS_1
Bersambung..