Reminiscent

Reminiscent
EMOSI ASRAN


__ADS_3

[Asran, Maaf kak gak bisa menunggu kamu. Kak harus segera menikah. Kita sudahi saja hubungan kita sampai disini. Kak harap kamu bisa menerimanya dengan lapang dada. Dan.. Jangan bersikap bodoh.. Jalani hidup kamu seperti biasanya, tanpa kakak..]


[Kak Hana Ngomong apa ne? Kenapa tiba-tiba kak berubah seperti ini, dan.. Kak mau nikah sama siapa Emangnya?]


Hana menarik nafas panjang, ia ingin menjelaskan sedetil mungkin ke Asran, namun.. Ia merasa tidak sanggup jika nantinya akan membuat Asran kecewa dan sakit hati.


[Kak Hana?? Asran kerumah kakak ya]


[Jangan Asran, kamu tadi pagi sudah kesini. Kasihan kamu bolak balik kesini dengan jarak yang lumayan jauh. Lagi pula.. Kak sebentar lagi mau pergi juga..]


[Kak Hana mau kemana?Dan.. Yang tadi itu kak gak serius kan? Kak cuma bercanda kan?]


[Kak serius Asran!! Kak gak bercanda, kak.. Gak bisa lagi menunggu kamu, Kak harus mengikuti keinginan orang tua kakak. Dan.. Baru saja tadi kak menerima lamaran dari seseorang, kak benar-benar minta maaf. Kak tau ini pasti akan membuat kamu sakit dan kecewa, tapi.. Beginilah akhirnya. Kak mohon kamu bisa mengikhlaskan hubungan kita ini berakhir. Mungkin.. kita memang tidak berjodoh Asran. Maaf.. Maaf..Maaf...]


[Apa-apaan ini kak Hana? Kak menerima lamaran orang lain padahal kak masih menjalani hubungan dengan Asran? Kak Hana tega ya, kak Hana.. Asran.. Aku.. sakit sekali rasanya kak.. Perihh..]


Suara Asran terdengar seperti meringis menahan sakit atas pengakuan dari Hana yang tiba-tiba itu.


[Maaf Asran.. Kak Benar-benar mintak maaf. Kak tahu ini tidak mudah bagi kamu, kak juga begitu sebenarnya tapi.. Hubungan kita ini gak ada titik terangnya, kak gak bisa menunggu Asran..]


[Seharusnya Kak Hana bisa sedikit saja bersabar kak, Kalau kak Hana benar-benar cinta sama Asran.. Pasti kak Hana mau menunggu, pasti kak Hana mau bertahan dan tidak langsung menerima lamaran dari orang itu. Apa mungkin selama ini kak Hana Tidak ada perasaan apapun ke Asran? Iya? Kak Hana berpura-pura ha? Kak Hana sudah mempermainkan perasaan Asran, Yang padahal Asran sungguh-sungguh mencintai kakak dengan ikhlas..]


[Tidak Asran, kak gak pernah berniat untuk mempermainkan perasaan kamu..]


[Lalu apa semua ini? Asran sedang berusaha untuk membujuk Ibu Asran kak, seharusnya kak Hana memberi semangat bukan meninggalkan Asran seperti ini.]


Asran mulai emosi dan meninggikan nada bicaranya. Hana hanya diam dengan sekali-sekali ia terisak-isak.


[Kak.. Asran mohon, kak batalkan lamaran itu. Kak tolak lamaran orang yang sempat kak terima itu. Asran mohon, ya kak?]

__ADS_1


[Maaf Asran, Kak gak bisa.. Kami sudah resmi tunangan hari ini. Disaksikan oleh kedua orang tua kami. Dan.. Bulan depan kami akan menikah. Kak mohon.. Kamu bisa terima keputusan kakak ini.]


Hana berusaha untuk tegas dan tidak lagi lemah dengan permohonan yang mungkin akan Asran lakukan.


[Oh gitu, kak Hana yakin dengan keputusan kakak itu ha?]


Tanya Asran dengan emosi yang masih berlanjut.


[Yakin.. Sangat-sangat yakin, Asran.]


Kali ini Hana berkata dengan keyakinan tinggi tanpa ada isakan disetiap ucapannya.


[Kak Hana Jahat, ASRAN BENCI DENGAN KAK HANA..!!] Desis Asran dengan nada geram dan marah teramat besar terhadap Hana. Setelah itu, Asran memutuskan panggilannya..


Tut... Tut... Tut...


Hana terduduk lemas ditepi ranjangnya. Ia merasa Dadanya ngilu, hatinya bergetar hebat, jiwanya terasa hampa. Hana yakin Asran pasti amat sangat membencinya saat ini. Dulu Hana pernah menginginkan Asran agar membencinya dan kini hal itu menjadi kenyataan. Asran benar-benar sudah membenci dirinya kali ini.


***


Rasa marahnya tidak terkontrolkan lagi, hatinya sungguh sakit, ia merasa telah dicampakkan oleh wanita yang begitu ia harapkan bisa menjadi miliknya. Tapi, kini.. Bisa-bisanya ia malah berpaling dengan cepat dan menerima lamaran orang lain. Begitu mudahnya ia membuat hati dan perasaan Asran menjadi hancur berkeping-keping.


Asran berusaha mengatur helaan nafasnya yang naik turun dengan cepat. Matanya sedari tadi sudah merah karena menahan amarah yang seakan - akan ingin meledak. Asran menggepalkan kedua tangannya dengan pandangan kosong dan pikiran yang kalut tak tentu arah.


Beberapa saat kemudian, Asran bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar. Saat diruang tengah ia mendapati Ibu dan adiknya Asni sedang asyik menonton TV sambil mengemil makanan. Asran dengan beringasnya langsung saja menendang sebuah kursi yang ada didepannya.


Brruuuukkk.....


Tendangan kuat Asran pada kursi itu lantas saja menimbulkan bunyi yang kuat sehingga membuat Ibu dan adiknya terkejut lalu mereka berdua menoleh kebelakang. Mereka melihat Asran dengan tatapan bingung. Karena ketika itu Wajah Asran sudah berubah menjadi merah padam dan dengan tatapan penuh kemarahan.

__ADS_1


"Asran, kamu kenapa?" Ibunya bertanya dengan bingung.


"INI SEMUA GARA-GARA IBU..!!" Teriak Asran dengan nada yang kasar. Ibu Asran langsung memegang dadanya karena saking kaget dan tidak menyangka Asran tiba-tiba berbicara keras seperti itu terhadapnya. Begitu juga dengan Asni, Ia seperti ketakutan melihat wajah Asran yang berubah menjadi sangar dan mengerikan.


"KARENA KALIAN BERDUA... AKU DITINGGALIN WANITA YANG AKU SAYANGI.." Kata Asran masih dengan suara yang menggelegar.


Ibu Asran yang paham maksud dari pembicaraan Asran langsung berjalan mendekati Asran.


"Cuman gara-gara wanita itu kamu bersikap seperti ini dengan ibu, Asran? Kamu sadar gak dengan apa yang kamu perbuat ini ha? Kamu lebih peduli dengan wanita itu dari pada keluarga kamu, Iya? Kalau iya.. Apa bedanya kamu dengan Ayah kamu ha? Yang tega meninggalkan keluarganya demi wanita lain." Kata Ibu Asran yang mulai ikutan emosi juga. Asni mendekati ibunya kemudian menenangkan ibunya dengan mengelus-elus punggung ibunya.


"Jangan bawa-bawa lelaki itu, ini tidak ada hubungan dengan dia. Aku mau pergi, Aku ingin memperjuangkan cinta aku!" Kata Asran lalu bergegas keluar rumah.


"Asran.. Asran.. Kamu mau kemana? Kamu gak boleh pergi, Asran.. Asran.." Ibu Asran memanggilnya dan juga ikut menyusulnya keluar rumah, namun yang dipanggil tidak mempedulikannya sama sekali. Detik kemudian motor milik Asranpun meluncur dengan kencang kerumah Hana.


Setelah 2 jam kemudian, Asran sampai dirumah Hana. Dengan buru-buru ia langsung turun dari motornya dan kemudian berlari kecil menuju kehalaman rumah Hana.


Saat dihalaman rumah Hana, Asran melihat Mama Hana yang sedang menyapu.


"Kak Hana mana tante??" Tanya Asran langsung tanpa basa-basi ataupun mengucap salam kepada Mamanya Hana.


"Kamu, Asran..? Bikin kaget tante saja.." Ucapnya dengan tatapan mata tidak senang akan kedatangan Asran.


"Maaf tante, Kak Hana ada didalam kan? Boleh saya masuk jumpa kak Hana?" Tanya Asran meminta izin.


"Gak ada. Hana gak ada dirumah." Jawab Mama Hana dengan jutek.


"Hana pergi dengan tunangannya. Asran.. Kamu lupakan aja Hana ya. Hana sudah bertunangan dan akan menikah dengan lelaki pilihan kami." Lanjutnya lagi.


"Memang siapa tunangannya itu, tante?" Tanya Asran penasaran.

__ADS_1


"Namanya Andra. Dia seorang dokter." Jawab Mama Hana. Asran langsung tercengang dengan tatapan dingin ketika nama itu keluar dari mulut Mama Hana.


***


__ADS_2