Reminiscent

Reminiscent
MENJENGUK


__ADS_3

"Maaf, Ly.. Rencana kita gagal. Tidak tepat sasaran. Bukannya target yang aku tabrak tapi malah orang lain." Ucap seorang lelaki berjaket hitam. Terlihat raut kekesalan yang tergambar diwajahnya.


Lelaki yang masih menggunakan helm dan duduk diatas motor itu tampak sedang berbicara serius dengan seorang wanita melalui sambungan telepon.


"Apaa? Kok bisa gagal sech?" Suara wanita terdengar kesal dari seberang sana.


"Iya.. Karena ada cowok yang tiba-tiba datang dan menolong target dengan cara mendorongnya. Jadi, Ya.. cowok itu yang tertabrak jadinya." Jawab Zean, Teman wanita tersebut.


"Ada cowok yang nolongin dia? Siapa? Bukannya kamu bilang disana gak ada orang lagi. Semua sudah pada pulang kok tiba-tiba ada yang tolongin dia sech.." Ucap Si wanita yang bukan lain adalah Sherly.


"Ya aku ngak tahu siapa. Ngak mungkin kan aku berhenti dan nyamperin tu orang, Yang jelas aku langsung kabur lah dari sana. Dari pada aku dikeroyok masa." Jawab Zean.


"Ya Sudahlah.. Nantik cari cara lain aja lagi. Pokoknya aku ingin cewek itu celaka. Biar kapok dia. Siapa suruh jadi cewek kecentilan kali dan berani merebut Asran dari aku. Dia belum tahu siapa aku. Awas aja.." Kata Sherly dengan menggebu-gebu.


"Oke. Jangan lupa Transferannya ya!" Kata Zean Mengingatkan Sherly.


"Ya nantik dulu donk. Tugas kamu kan belum selesai. Lagi pula kamu kan belum berhasil bikin tu cewek celaka." Protes Sherly.


"Setidaknya Transfer uang mukanya dulu donk, Ly." Ucap Zean setengah memohon.


"Iya.. Iya.. Nantik aku Transfer. Tapi, tugas kamu belum selesai ya. Kamu selidiki dia terus. Kalau ada celah yang bagus kamu sikat langsung dia. Yang penting aku ingin dia celaka. Entah bagaimana caranya aku serahkan sama kamu. Oke?" Kata Sherly.


"Iya.. Oke.. Siap.. Kalau bayarannya lancar semuanya pasti beres sama aku. Kamu tenang aja kali ini pasti dia benar-benar celaka." Kata Zean dengan yakin.


"Oke.. Aku tunggu kabar baik dari kamu, Ya sudah.. Aku matikan telponnya ya, Bye!"


Sherly lalu mematikan panggilan tersebut. Dan ketika ia membalikkan badannya, Sherly kaget saat melihat Andra sudah ada dibelakangnya.


"Ee.. Bang Andra, Sudah lama datang?" Tanya Sherly dengan wajah yang tegang. Jantungnya berdebar kencang karena takut jika pembicaraannya dengan Zean barusan terdengar oleh Andra.


"Tidak kok, baru aja abang Masuk karena lihat kamarmu terbuka.." Jawab Andra. Sherly langsung menghembuskan nafas lega.


"Kenapa? Kok wajah kamu lain gitu? Emang siapa yang nelpon? Asran ya?" Tanya Andra bertubi-tubi.

__ADS_1


"Iya.. Ngak.. maksudnya.. Bukan Asran yang nelpon. Asran mah sama sekali tidak pernah menghubungi Lily lagi Bang, semenjak si wanita centil itu datang semenjak itu juga Asran menjauh.." Kata Sherly dengan sedih.


"Hhmm.. Ly, apa kamu yakin Asran meninggalkan kamu karena Hana? Apa bukan karena hal lain?" Tanya Andra.


"Ya iyalah bang.. Lily yakin pakai banget malahan. Si Hana itu yang membuat Asran berubah. Bang.. abang harus percaya sama perkataan Lily ini. Abang putuskan aja dia. Dia sudah mengkhianatin abang. Lily yakin mereka itu pasti sudah pacaran. Emang gak cukup ya bukti foto yang Sherly berikan kemarin itu?" Ujar Lily dengan berapi-api.


Andra tidak langsung menjawab, Ia tampak memperbaiki letak kaca matanya setelah itu memijit kening seperti sedang berfikir keras.


"Abang butuh bukti yang lain lagi, Ly. Karena abang masih tidak yakin Hana seperti yang kamu bilang itu. Sangat tidak yakin..." Katanya dengan pelan. Sedangkan Sherly tampak kesal dengan sorotan matanya yang menyimpan benci teramat dalam terhadap Hana.


***


Keesokan harinya, setelah pulang dari kerja Hana bermaksud untuk singgah sebentar ke asrama Polisi, tempat Asran tinggal. Hana berniat untuk menjenguknya. Karena bagaimanapun, Hana merasa harus bertanggung jawab dengan apa yang menimpa Asran. Karena menolongnya lah Asran jadi terluka. Seharusnya Hanalah yang diposisi Asran, bukan Asran.


"Assalamualaikum, Asran? Kamu didalam kan? Kak ada diluar Asrama kamu sekarang nech.." Sesampainya di depan Asrama polisi, Hana langsung menelpon Asran.


"Benar kak? Iya, Asran didalam. Bentar Asran keluar ya kak." Kata Asran seakan tidak percaya dengan kedatangan Hana. Namun, didalam hati ia sangat merasa bahagia.


Hana lalu turun dan masuk ke halaman asrama polisi tersebut. Asrama itu terlihat sepi karena mungkin saja teman Asran yang lainnya sedang bertugas.


"Kak ngak lama kok Asran. Kak mau ngasih ini aja untuk kamu.." Kata Hana seraya menyerahkan sebuah palstik yang berisi bermacan buah-buahan dan vitamin untuk Asran.


"Apa ini kak?" Tanya Asran lalu membuka plastik berukuran besar tersebut.


"Ya ampun, kak Hana.. Banyak sekali, untuk Asran semua ini?" Tanya Asran dengan kaget.


"Iya, tapi nantik bisa berbagi juga dengan teman Asran yang lain. Yang jelas vitamin sama salep ini untuk kamu. Kamu minum rutin vitaminnya sama selepnya juga kamu oleskan di bekas jahitannya ya." Ucap Hana.


"Alhamdulillah.. Maksih banyak ya kak Hana yang baik hatii.." Ujar Asran dengan tersenyum lebar.


"Iya, Sama-sama.." Jawab Hana.


"Oya, gimana luka kamu?" Tanya Hana kemudian melihat bagian kepala dan kaki Asran secara bergantian.

__ADS_1


"Sudah berangsur membaik kok kak. Palingan tinggal tunggu kering aja." Jawab Asran.


"Oke. 2 hari lagi ganti perban ya ke Puskesmas. Nantik sekitar seminggu lagi kalo jahitannya sudah kering baru bisa dibuka.."


"Oke, siap kak. Tapi, besok kak Hana aja yang ganti perbannya ya?" Katanya dengan tersenyum nakal.


"Gak ah, Sama perawat yang di poli aja nantik kamu ganti perbannya."


"Hhmm.. Ya sudah kalau gitu gak usah diganti aja perbannya ya.. biar aja lama-lama seperti ini, biar infeksi aja sekalian ya, hehe.." Kata Asran dengan bercanda.


"Kamu ini.. Jangan bilang seperti itu. Kata-kata itu bisa jadi doa Lo. Emangnya kamu mau luka kamu gak sembuh-sembuh? Sampai jalan aja susah seperti itu kan, emang mau?" Tanya Hana dengan kesal.


"Ya ngak lah kak. Asran kan cuman bercanda. Pastilah mau cepat sembuh kak. Biar bisa nyusul kak Hana tiap hari di Puskesmas, hehe.."


"Tapi, tetap besok Asran maunya kak Hana yang gantikan perbannya." Lanjutnya lagi.


"Terserah kamu ajalah Asran.." Ujar Hana akhirnya, merasa malas meladenin sikap kekanak-kanakan Asran tersebut.


"Ya sudah, kakak pulang dulu ya. Sudah sore juga ni..." Pamit Hana.


"Baru sebentar kak Hana disini dah mau pulang aja.." Kata Asran dengan kecewa.


"Kak khawatir Asran. Kak Ngak mau aja nantik ada yang.." Hana menggantungkan kalimatnya lalu melirik kesekelilingnya.


"Ada yang apa kak? Ada yang mengintai ya?" Tebak Asran yang paham maksud perkataan Hana.


"Iya.. Kamu tau tidak? Waktu kamu nyamperin kakak di kantin Puskesmas kemaren, kamu kan duduk di samping kakak tu dan ternyata ada yang foto kita. Dan lebih parahnya lagi foto kita itu sampai ke Andra." Jelas Hana.


"Oya? Kok bisa? Aneh.. Siapa yang foto ya kak?" Tanya Asran merasa heran. Hana hanya mengangkat bahunya.


Tanpa mereka sadari sedari tadi ada seseorang yang bersembunyi di sebuah pohon besar tepat didepan Asrama Asran. Seseorang yang sedang mengintai mereka.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2