
Beberapa hari kemudian..
Hana baru saja selesai telponan dengan Andra malam itu, semakin hari Andra semakin perhatian ke Hana. Hana bisa merasakan perhatian lebih yang diberikan Andra kepadanya. Andra seakan tidak sabar untuk memperistri Hana. Ia yang terkadang takut rencana pernikahan yang sudah mereka rencanakan matang-matang akan ada penghalang nantiknya atau bahkan menjadi gagal. Namun, berulang kali Hana tegaskan ke Andra untuk membuang semua rasa kekhawatiran yang ada didalam hati dan pikirannya itu.
"Tidak baik kita menyimpan pikiran seperti itu, Ndra. Karena jika terlalu sering kita berpikiran negatif seperti itu di alam bawah sadar kita, takutnya akan malah menjadi sebuah kenyataan. Lebih baik kita berpikiran yang baik-baik saja, berdoa dan berharap yang terbaik dari Allah.." Kata Hana saat itu sebelum mengakhiri telponan dengan Andra.
Sebenarnya bukan tiba-tiba saja Andra mempunyai pikiran tersebut, ia menjadi gelisah tatkala Hana yang sudah mulai terbiasa terbuka dengan Andra, saat itu menceritakan tentang pertemuannya yang tidak sengaja dengan Asran di Polres beberapa hari yang lalu.
Andra juga tahu Asran hilang ingatan. Dan Andra pun juga tahu bahwa hilang ingatan seperti itu sifatnya hanya sementara. Suatu hari nanti pasti Asran akan mengingat semuanya. Apalagi jika ia sering menjumpai orang-orang yang terlupa dari ingatannya. Hal itu akan tergambar sendiri kembali dalam ingatannya.
"Ya.. Aku gak ingin saja pertemuan kamu dengan Asran itu, membuat hati kamu menjadi goyah Hana." Kata Andra dengan nada khawatir.
"Makanya.. Aku berharap jika kamu bisa menghindar, menghindar saja jika gak sengaja bertemu dengan dia, Na. Jangan memberi ruang untuknya berbicara sama kamu. Karena.. entahlah mungkin ini cuman ketakutan tak beralasan saja, atau aku yang terlalu obsesi atau mungkin juga aku yang terlalu egois yang sempat mempunyai pikiran kalau bisa ingatan Asran tentang kamu jangan kembali dulu sampai kita sudah sah menikah." Jelas Andra saat itu.
"Aku gak ingin saja Asran akan nekat mengacaukan semuanya, Hana. Kamu tau dia kan bagaimana?? Dia tidak begitu mudah menyerah Hana, dia pasti akan mencari cara untuk menggagalkan pernikahan kita." Lanjut Andra lagi yang berpikiran buruk terhadap Asran.
Sebenarnya Hana tidak setuju dengan pemikiran Andra. Begitu buruknya Asran didalam pikiran Andra. Walaupun, Hana mengiyakan Asran yang memiliki sifat yang suka memaksa, mendesak bahkan tidak gampang menyerah. Akan tetapi, Hana yakin jika diberi pemahaman yang sedalam-dalamnya akan membuat hatinya luluh juga dan akhirnya mengalah. Andaipun ingatannya kembali sebelum hari pernikahan mereka, Hana berharap bisa tetap berhubungan baik dengan Asran. Hana mengharapkan Asran bisa mengerti dan akhirnya ikhlas melepasnya. Hana tidak ingin ada permusuhan apalagi dendam, rasa sakit hati yang akan merusak segalanya. Hana tidak mau itu..
***
Setelah selesai melakukan pelayanan kepada pasien di ruangannya, Hana lalu bermaksud keluar sebentar untuk membeli minuman di kantin depan Puskesmas.
__ADS_1
Ia berjalan melewati depan IGD, sekilas Hana melirik ke pintu IGD yang terbuka lebar dan juga terlihat ramai orang didalamnya. Sudah dapat di pasti bahwa ada pasien gawat darurat didalam sana. Karena penasaran dan ingin tahu, Hana lantas masuk kedalam.
Setelah didalam, Hana melihat 3 orang lelaki berbaju hitam putih dengan posisi membelakanginya dan berdiri disamping seseorang yang sudah baring ditempat tidur pasien dengan luka yang cukup parah. Sepertinya korban kecelakaan.
Namun, penglihatan Hana bukan fokus kepasien kecelakaan tersebut, melainkan.. Ia malah fokus pada salah satu lelaki yang mendampingi pasien tersebut. Dari belakang Hana seperti mengenali nya.. Dan.. Saat lelaki itu membalikkan wajahnya, Hana langsung menelan salivanya. Benar dugaannya, lelaki itu adalah.. Asran!!
Setelah tahu Asran ada disana, Hana langsung buru-buru keluar dari ruang IGD. Namun, naas.. Kak Imel, petugas di ruang IGD tersebut malah memanggil namanya yang membuat langkah kaki Hanapun terhenti.
"Hai, Hana..." Panggil Kak Imel dengan suara yang kencang dan dapat dipastikan semua orang yang ada didalam ruangan tersebut pasti mendengarnya.
Hana membalikkan badannya melihat kearah Kak Imel yang sudah memasang wajah sumringah kearahnya. Dan.. ia melirik juga sebentar kesamping kirinya, tempat pasien yang lagi terluka itu. Ia lihat Asran yang juga melihatnya.
"Iya, kak.. Ada apa?" Tanya Hana.
"Jadi Hana harus ngapain kak?" Tanya Hana lagi karena memang dia yang belum pernah sama sekali melakukan pelayanan di ruang IGD ini.
"Kamu tolong obatin luka pasien yang satunya lagi ya.." Suruh Kak Imel. Hana mengerutkan keningnya tanda bingung. Pasien yang mana emangnya? Hana bertanya didalam hatinya.
Hana berjalan mendekati kak Imel lalu setengah berbisik ia bertanya.
"Pasien yang mana kak?"
__ADS_1
"Ya yang itu.." Tunjuk kak Imel kearah.. Asran!!
"Ha??" Hana merasa sangat menyesal telah masuk keriang Igd, andai saja dia tidak terlalu ingin tahu tadinya...
Asran yang telah duduk ditempat tidur sebelahnya langsung saja menarik lengan bajunya keatas. Ternyata ada sedikit luka disana. Entah apa yang terjadi, apa mungkin Asran tabrakan dengan orang itu atau bagaimana? Hanapun malas untuk bertanya.
Hana membersihkan luka di tangan Asran dengan hati-hati. Mereka saling diam, tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut Hana maupun Asran. Akan tetapi, mata Asran sepanjang Hana membersihkan lukanya tidak berhenti untuk menatap Hana. Hana menyadari dirinya tengah diperhatikan. Hana berusaha untuk bersikap seolah biasa saja, namun.. kendatipun demikian tidak dipungkiri juga jantung Hana berdetak-detak tidak karuan sedari tadi.
Hana juga berniat untuk tidak berbicara dengan Asran, karena ia teringat akan ucapan Andra tadi malam yang mengatakan bahwa Hana jangan memberi ruang untuk memulai pembicaraan dengan Asran. Biarlah dia dianggap petugas yang sombong, cuek atau apalah. Yang jelas dia tidak akan mengeluarkan suaranya. Karena dia sudah janji dengan Andra.
Akhirnya selesai Hana membersihkan luka Asran, lalu ia memberikan Betadine pada luka tersebut, terlihat Asran agak meringis menahan perih pada lukanya itu. Hana berhenti sebentar, lalu melihat sekilas kearah Asran yang ternyata juga melihat kearahnya. Kemudian Hana buru-buru menunduk lagi, melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit. Tinggal diperban saja setelah itu selesai. Hana tidak sabar segera pergi dari sana. Entah kenapa melihat Asran menatapnya seperti itu, membuat getaran dihatinya semakin kuat saja. Hana merasa tidak nyaman dengan apa yang ia rasakan ini.
"Sudah selesai.." Hana kelepasan yang membuat dirinya akhirnya mengeluarkan suara juga.
"Terimakasih, ya.. Kak Hana..!!" Jawab Asran dengan tersenyum lebar dan terlihat agak lain.. Hana kembali menelan salivanya..
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...