
Hari ini Hana agak telat sampai ketempat kerjanya. Saat dirinya telah diparkiran dan hendak menuju ke teras Puskesmas, dari kejauhan Ia melihat beberapa temannya tengah mengobrol diteras. Awalnya Hana tidak begitu menghiraukan tentang apa yang teman-temannya bicarakan di sana, namun perasaannya jadi aneh saat ketika mereka semua melihat akan kedatangan Hana dan seperti dikomando merekapun kompak berhenti berbicara seraya menatap Hana dengan tatapan yang aneh.
Hana yang bingung lantas bertanya.
"Kenapa? Kok seperti kaget gitu lihat Aku?" Tanya Hana dengan heran.
"Ee.. Ngak.. Kak Hana, Tumben telat..." Celetuk RIni sambil memamerkan giginya yang rapi.
"Oo.. Iya ada urusan tadi.." Jawab Hana.
"Ehemm.. Tak Diduga ya Hana..Ternyata... Ck..ck..ck.." Kak Septi berujar sambil geleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa kak?" Hana bertanya bingung dengan kata-kata Kak Septi. Namun, dia tidak langsung menjawab. Malahan terdengar suara bisik-bisik yang tidak begitu jelas dari temannya yang lain.
"Kamu penyuka brondong rupanya ya Han..??" Ujar kak Septi lagi yang membuat Hana benar-benar terkejut dengan kata Kak Septi barusan.
"Terus.. pacarnya orang lagi.. Upss.. kelepasan.." Lanjut Kak Septi lagi yang membuat Hana semakin tersentak.
Akhirnya Hana mengerti arah pembicaraan Kak Septi dan juga teman - temannya tadi itu. Pasti mereka sedang membicarakan dirinya atas kejadian saat dia dilabrak oleh Sherly, Pacarnya Asran. Dan yang pastinya lagi, Si Rini lah biang kerok yang menceritakan itu semua..
"Gak Kok.." Jawab Hana langsung berlalu dari sana dan menuju ke ruangannya. Hana masih mendengar desas desus suara teman-temannya yang masih lanjut menceritakan dirinya. Namun, Hana berusaha untuk memekakkan telinganya dan berpura-pura untuk tidak mendengarnya.
Sesampainya diruangan Hana..
"Han, Kenapa murung?" Tanya Tia. Kebetulan saat itu belum ada pasien yang masuk ke ruang mereka. Didalam ruangan itu hanya ada Tia seorang.
"Gara-gara kejadian semalam itu Tia, kawan-kawan jadi mikir yang ngak-ngak tentang aku.." Ucap Hana dengan raut wajah yang sedih.
"Sabar Ya Han.. Pasti si Rini ne yang ember. Memang ngak bisa jaga rahasia tu anak, padahal aku sudah ingatin dia supaya ngak cerita ke siapapun mengenai yang semalam itu.. Tapi,emang dasar si Rini itu ngak bisa jaga mulutnya.." Kata Tia dengan nada kesal.
__ADS_1
"Itulah.. Sampai pulak ditelinga kak Septi tu.. Kamu tahu sendiri kan bagaimana sifat kakak satu itu? Paling hebohlah pokoknya.." Kata Hana.
"Iya.. Kak Septi sech aku ngak heran.. Dia memang begitu.."
"Malu aku Tia, Pasti tahu satu Puskesmas ne" Ucap Hana mulai panik.
"Tenang Hana, Nantik aku bantu menjelaskan ke teman-teman yang lain mengenai kejadian yang sebenarnya..."
"Belum lagi kemaren itu ada juga beberapa orang berseragam polisi kan? Mana tahu salah satu dari mereka ada yang kenal Asran? Atau mungkin kawannya Asran? Aduuhh... membayangkannya saja aku sudah merasa gimana gitu.. Karena saat ini posisi aku memang paling tidak mengenakkan Tia."Lanjut Hana lagi.
Tia Diam, tidak menanggapi perkataan Hana Barusan, namun ia tampak sedang menenangkan Hana yang terlihat begitu panik dan risau.
***
Saat jam Isoma, Hana sengaja tidak keluar dari ruangannya. Ia memilih makan didalam ruangan yang sebelumnya sudah mintak tolong ke Tia untuk memesankan makanan dan diantarkan ke dalam ruangannya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketokan pintu dari luar ruangan Hana dan juga suara orang mengucapkan salam. Hana yang tengah makan langsung berhenti mengunyah dan sejurus kemudian ia menyahut salam tersebut dan menyuruh orang itu untuk masuk.
"Hai Hana.. Sendiri aja.. Kok ngak makan di kantin?" Tanya Kak Imel dengan sebelumnya menyapa Hana dengan ramah.
"Hhmm.. Lagi malas aja kak.." Jawab Hana seadanya.
"Oo..Oh ya, ini kak mau antar ini tuk kamu.." Kata Kak Imel yang kemudian menyerahkan sebuah bingkisan berwarna biru muda ke Hana.
Hana yang masih merasa bingung tidak langsung menerima bingkisan tersebut.
"Apa ini kak?" Tanya Hana bingung.
"Tadi ada orang yang mintak tolong ke kakak untuk kasihkan bingkisan ini ke kamu Hana." Jawab Kak Imel dengan senyuman yang seakan menggodanya.
__ADS_1
"Hah? Dari siapa emangnya?" Tanya Hana dengan penasaran.
"Hhmmm.. Katanya tadi dari pengagum rahasia kamu..Hehe.. Hana.. Hana.. Selamat ya, ternyata ada orang yang menyukai kamu secara diam-diam.." Ucap Kak Imel sembari menyalami tangan Hana.
"Ih, apaan sech kak.." Kata Hana sambil menepis tangan kak Imel yang menyalaminya.
"Cowoknya Tampan, Putih, Berpenampilan Menarik, Sopan juga tadi.."
"Namanya?" Potong Hana.
"Kak Ngak tanya, hehe.."
"Tapi, kamu bukak aja bingkisannya. Mana tau didalamnya ada nama pengirimnya." Lanjut Kak Imel lagi.
Setelah mengatakan itu, kak Imel yang bertugas di IGD lalu pamit dan meninggalkan Hana dengan bingkisan yang ada ditangannya saat ini.
Hana membuka bingkisan tersebut dengan perlahan - lahan. Rasa penasaran menyelimuti hatinya, siapakah yang mengirim ini? Dan apa isinya?
Setelah sampulnya terbuka, Hana lalu membuka kotak tersebut dan melihat isinya yang ternyata adalah sebuah jam tangan mewah yang begitu indah dan elegan karena kilauannya. Hana bergumam, didalam hati ia berani bertaruh bahwa jam ini pasti sangat mahal harganya.
Setelah itu, dibawah jam tersebut ada secarik kertas. Hana mengambil dan membaca sebuah tulisan tangan yang sangat rapi disecarik kertas tersebut.
[Kak Hana yang baik hatii... Asran masih belum bisa menghubungi nomor kakak. Berarti kakak masih blokir nomor Asran kan? Kenapa kak? Apa Kak Hana masih Marah? Harus dengan cara apa lagi kak agar kakak bisa memaafkan Asran dan kita bisa kembali seperti dulu lagi? Asran masih berharap lebih ke Kak Hana...Oiya, Ini ada sebuah hadiah kecil untuk kak Hana, bukan bermaksud untuk apa-apa kak.. Mudah-mudahan kak Hana suka ya.. Dan dipakai ya kak Jamnya, pasti akan terlihat cantik jika dipakai dipergelangan tangan kakak... Dan.. sekali lagi Asran berharap setelah membaca tulisan Asran ini, Kak Hana buka nomor Asran yang kak blokir itu ya kak.. Pliss.. Asran sangat-sangat berharap..]
Setelah membaca tulisan tangan Asran tersebut, Hana meraih jam tangan mungil itu dan memasangkannya ditangannya. Memang benar. Sangat cantik. Dalam hatinya tidak dipungkiri bahwa ia memuji selera Asran yang pintar sekali dalam memilih hadiah untuk dirinya.
Hana menarik nafas panjang. Ia merasa pertahanannya seakan luluh, lagi dan lagi... dan kali ini ia benar-benar yakin akan apa yang harus dia perbuat..
Bersambung...
__ADS_1