Reminiscent

Reminiscent
KESEPAKATAN


__ADS_3

Sore hari, Hana duduk didepan teras rumahnya sambil melihat anak-anak yang sedang bermain bola kaki dilapangan yang memang kebetulan ada didepan rumahnya.


Masa cuti Hana tinggal 3 hari lagi. Tidak terasa waktu berjalan dengan begitu cepat. Lusa dia akan berangkat ke pulau dan kembali untuk masuk kerja.


Sebenarnya ada yang mengganjal dihati Hana saat ini. Dan Sebenarnya juga Pikiran Hana tidak sepenuhnya fokus melihat pertandingan bola kaki yang ada didepannya.


Hana kepikiran Asran. Segala hal yang diungkapkan Asran tadi pagi itu kembali menari-nari dipikirannya. Sesungguhnya hal ini membuat kegalauan tersendiri dihati Hana. Hana berusaha untuk tidak mengindahkannya akan tetapi sia-sia. Ia tetap terbawa perasaan.


Belum lagi chat-chat beruntun sejak siang tadi masuk memenuhi laman Whatsappnya.


"Benaran kak mau tunangan?"


"Kak bohong kan??"


"Asran tidak percaya, ini cuman akal-akalan kakak aja kan supaya Asran menjauh"


"Sama sekali tidak ngefek ka.. Tetap tidak merubah perasaan dan tekad Asran kak.."


Akan tetapi, tidak satupun Chatnya dibalas oleh Hana. Hana sengaja mendiamkannya. Tapi, bukan Asran namanya kalau tidak terus-terusan mencari celah untuk tetap pada pendiriannya dan pantang menyerah dengan apa yang ia inginkan.


Terkadang Hana merasa heran dengan sikap Asran yang menurutnya kekanak-kanakan. Terlalu berlebihan.. dan sedikit agak memaksa kehendaknya terhadap Hana. Bertolak belakang sekali dengan sikapnya sewaktu pertama kali Hana mengenalnya. Dulu.. Awalnya Hana mengira Asran lelaki yang cuek dan kurang peka. Tapi sekarang malah sebaliknya.


"Apa buktinya kalau kakak mau tunangan? Coba kak kasih Asran bukti yang nyata supaya Asran percaya"


Sebuah Chat baru masuk lagi. Ia memang tidak berhenti untuk terus mendesak Hana. Tapi, Entah Kenapa kali ini Hana mulai merasa tidak tega untuk mendiamkannya lagi. Hana membalas Chat tersebut.


"Asran, Kakak dijodohin sama orang tua kakak dengan Dokter yang bekerja di Puskesmas tempat kak bekerja juga. Entah kebetulan entah bagaimana ternyata orang tua kami itu Berteman baik. Mama kakak ingin kakak segera Menikah. Dan menurut dia.. Anak dari temannya itu adalah jodoh yang terbaik untuk kakak.." Jelas Hana.


"Jadi, Demi Allah.. kak tidak bohong dan tidak ada lagi yang kakak tutupi sama kamu. Kak harap kamu bisa mengerti, oke?" Lanjut Hana lagi menegaskan ke Asran.

__ADS_1


"Jadi, kak mau dijodoh-jodohin seperti itu? Emang kakak Cinta sama cowok itu?" Asran bertanya lagi. Hana kembali mengetik dengan cepat.


"Iya.. Karena kak tidak mau membuat orang tua kak kecewa.."


"Jadi, kalau buat Asran Kecewa mau ya kak?"


"Maaf, Asran.." Hanya kata itu yang mampu Hana ucapkan ke Asran. Hana merasa sudah menorehkan kekecewaan dihati lelaki berwajah lembut itu.


Agak lama Asran membalas chat terakhir Hana tersebut. Berulang-ulang kali Hana mengeceknya. Tapi, belum kunjung juga balasan yang muncul. Padahal dia masih online. Hana merasa Tidak enak hati.


"Asran..?" Akhirnya Hana memanggil Asran.


"Ya Kak.." Jawabnya singkat.


"Meskipun kakak akan bertunangan, kakak.. berharap kita tetap berteman baik ya..." Tulis Hana yang entah kenapa kalimat itu yang ia ketik.


"Oh ya?? Jadi kita masih bisa saling berkomunikasi seperti dulu lagi?" Asran Bertanya.


"Syukurlah.. Yang penting saat ini Kak Hana masih mau berkomunikasi dengan Asran. Terserah kak Hana mau anggap Asran sebagai apa. Sebagi teman, sahabat atau adik sekalipun tidak masalah.. Karena Asran sudah terlalu nyaman.. nyaman dengan kebersamaan kita ini...". Tulisnya panjang lebar. Hana yang membaca kalimat itu, tidak mampu menyembunyikan hatinya yang mulai bergetar.


Akhirnya Chat mereka pun berlanjut seperti sediakala. Mereka Tidak lagi membahas masalah pertunangan Hana melainkan membahas apa-apa yang ada pada diri mereka masing-masing.


Sedang Asyiknya Hana membalas chatnya Asran, Tiba-tiba Mama Hana muncul dan sudah berdiri saja disebelahnya Hana. Ia tampak sedikit mencondongkan badannya kearah Hana. Seakan melirik sesuatu yang sedang Hana ketik pada Hp yang ada ditangannya.


"Ehemmm... Lagi WA-an dengan Andra ya..." Suara Mama Hana yang nyaring dan tiba-tiba itu sontak membuat Hana kaget. Hampir Saja Hp yang ada ditangannya terlepas. Hana lantas menoleh ke Mamanya yang sudah memasang senyum sumringah diwajahnya.


"Mama.. bikin kaget aja!" Kata Hana dengan sedikit kesal.


"Kamu lagi WA-an sama siapa tu? Coba Mama lihat.." Tanyanya seraya mencoba mengambil Hp yang ada ditangan Hana.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa Ma," Jawab Hana yang langsung memasukkan hpnya kedalam saku roknya.


"Mama perhatikan kamu serius kali.. Oh ya.. bagaimana perkembangannya??"


"Perkembangan apa Ma?" Hana bertanya bingung.


"Hubungan kamu dengan Andra lah. Kapan kalian mau tunangannya?"


"Ya ampuun Mama! Baru juga tadi pagi mereka datangnya. Tidak mungkin lah bisa cepat-cepat membahas masalah itu, Sabar donk Ma!" Kata Hana.


"Kamu jangan memperlama Hana. Kalau sudah ada jodoh didepan mata langsung di gas kan..!" Ucap Mama Hana. Hana hanya menghela nafas dengan berat.


"Oya, Berapa hari lagi kamu di sini ?"


"Lusa Hana berangkatnya Ma,"


"Waduh.. Sebentar lagi ya. Ya sudah, sebelum kamu berangkat.. Mama mau buat pertemuan sekali lagi dengan Mama Andra dan juga Andra.. Tapi, bukan dirumah.. Kali ini kita ketemuan nya diluar. Di restoran sambil Dinner kayaknya asyiknya juga" Kata Mama Hana dengan antusias.


"Ketemuan untuk apa lagi sech Ma?" Hana bertanya protes.


"Ya.. untuk mempererat hubungan kamu dengan Andra donk!"


"Tapi, Ma,.."


"Sudah Hana.. tidak ada tapi-tapian.. Anak baik harus nurut dengan orang tua. Kamu siapkan dirimu besok ya. Dandan yang cantik. Habis Magrib kita pergi" Ucap Mama Hana yang kemudian beranjak dari sana dan meninggalkan Hana yang tersandar lemas dikursinya.


Besok ia akan ketemu lagi dengan Dokter Andra. Sebenarnya Hana masih merasa canggung dan malu bila berhadapan terus dengan Dokter itu.


Meskipun tadi Hana sudah berjanji akan membuka hatinya untuk Dokter Andra, Tapi.. Entah kenapa ia merasa pendiriannya seakan goyah tidak berdaya. Apakah ini ada hubungannya dengan kedatangan Asran yang tiba-tiba ? Entahlah.. Hana masih bingung dengan hati, perasaan dan pikirannya yang bergelut tidak tentu arah yang membuat dirinya seperti terombang ambing dalam kebingungan. Dalam ketidakpastian.

__ADS_1


Hana menarik nafas panjang dan memejamkan matanya perlahan. Permasalahannya belumlah seutuhnya selesai. Hana hanya bisa memasrahkan semuanya kepada Yang Maha Membolak-balik kan Hatinya.


Bersambung..


__ADS_2