Reminiscent

Reminiscent
MERASA BERSALAH


__ADS_3

"Jadi, apa respon bang Andra? Pasti dia salah paham lagi dengan kita kan kak?" Tebak Asran.


"Awalnya memang iya, salah paham. Tapi, kakak jelaskan apa adanya. Waktu itu bukan cuman kita berdua dikantin, Tapi ada Tia dan juga Rini. Syukurlah Andra mau menerima penjelasan kakak. ." Jawab Hana.


"Oo.. Terus gomong-ngomong tentang Bang Andra, gimana hubungan kakak dengan dia?" Tanya Asran dengan wajah dingin.


"Hhmmm.. Baik.." Jawab Hana dengan menundukkan kepalanya, meskipun baginya saat ini hubungannya dengan Andra tidak baik-baik saja, tapi dia tidak ingin Asran tahu akan hal itu karena bisa saja memberi celah bagi Asran untuk kembali mendekatinya.


"Baik?" Asran bertanya tapi pandangannya tidak lepas menatap Hana yang seakan menyembunyikan wajahnya.


"Yakin baik kak?" Selidik Asran lagi.


"Kenapa emangnya? Kok sepertinya kamu gak senang jika hubungan kakak dengan Andra baik-baik saja?" Tanya Hana kini wajahnya sudah terangkat dan balik menatap Asran.


"Memang iya gak senang, karena Asran berharap hubungan kakak dengan dia berakhir." Kata Asran dengan suara yang pelan.


"Apaa??" Tanya Hana sambil melotot ke Asran.


"Bercanda kak.." Kata Asran lalu ketawa terkekeh.


"Hhmm.. Ya udah, kak pulang ya.." Akhirnya Hana pamit lalu berdiri.


"Oke. Kak Hana hati-hati dijalan ya. Maaf Asran gak bisa antar. Asran belum bisa bawa motor sepertinya ne kak.."


"Iya gak apa-apa. Kamu istirahat aja, jangan lasak-lasak dulu.." Nasihat Hana.


"Siap kak. Oya, terimakasih sekali lagi buah dan vitaminnya ya kak.." Kata Asran.


"Iya, sama-sama.." Jawab Hana agak berteriak karena dia sudah berjalan kearah luar pagar Asrama Asran.


Setelah itu, Hana membawa pelan motornya menuju kerumahnya. Dipertengahan jalan, tiba-tiba saja Hana memperhatikan dari kaca spion motornya seperti ada yang mengikutinya sedari tadi dari belakang.


Sontak saja pikiran buruk mulai menghinggapi Hana. Ditambah lagi tentang peringatan Asran tadi terhadapnya untuk selalu berhati-hati, kekhawatiran Asran terhadap Hana yang Asran yakini bahwa ada orang yang ingin mencelakai dirinya.

__ADS_1


Hana menambah kecepatan motornya, ia ingin segera cepat sampai dirumah. Lalu ia lirik lagi ke kaca spion, motor yang dikendarai orang berjaket hitam itu ternyata juga semakin kencang dan bahkan sekarang hampir mendekati di samping Hana. Perasaan takut dan cemas kembali menghantui Hana.


Beberapa detik kemudian, motor itu sudah tepat berada disamping Hana. Orang berhelm gelap itu berusaha mendekatkan motornya ke motor Hana. Dan sampai akhirnya dengan gerakan cepat orang itu menendang motor Hana kesamping hingga Hana jatuh bersama motornya di aspal.


Hana jatuh dan kakinya terhimpit motornya sendiri. Belum ada orang yang menolongnya karena jalanan saat itu lumayan sepi dan juga tidak ada rumah warga disekitaran situ.


Hana meringis kesakitan, sedangkan orang yang menabraknya barusan, berhenti tidak begitu jauh dari tempat Hana jatuh. Lalu orang itu berjalan mendekati Hana, Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya yang ternyata sebuah pisau.


Hana melotot ketakutan. Hana merasa nyawanya sedang terancam. Dengan kekuatan penuh Hana mencoba mendorong motor yang menghimpit kakinya. Tidak lupa juga ia berteriak minta tolong, berharap ada orang lain yang mendengar teriakannya tersebut.


Orang jahat itu yang Hana yakini seorang laki-laki semakin dekat dengannya, sedangkan Hana belum juga lepas dari motor yang menghimpitnya. Sampai akhirnya...


Tit.. Tit.. Tit...


"Woi.. Mau ngapain kau ha??" Sebuah suara klakson motor dan diikuti suara lantang seorang laki-laki terdengar dari arah belakang.


Spontan saja lelaki yang memegang pisau ditangannya itu langsung berbalik arah dan kemudian bergegas lari menuju motornya dan detik kemudian sudah kabur mengendarai motornya dengan kencang.


Hana menoleh kebelakang dan mendapati laki-laki berbadan tegap yang berteriak tadi itu tengah berlari kearahnya dan lalu menolong Hana lepas dari himpitan motornya.


"Terimakasih banyak ya.." Ucap Hana kepada si lelaki yang baru saja menolongnya.


"Iya, Sama-sama. Sudah kewajiban seorang polisi menolong orang yang mau dijahati oleh penjahat." Katanya setelah itu membuka helmnya.


Hana tertegun sesaat ketika melihat wajah tidak asing milik orang yang baru saja menolongnya itu.


"K-kamu.. Temannya Asran kan?" Tanya Hana dengan ragu-ragu.


"Iya, Aku Reynald. Teman dekatnya Asran." Jawab lelaki berwajah dingin itu.


"Oo.. Iya, Sekali lagi makasih banyak ya." Ucap Hana.


"Kalau ngak ada kamu, entahlah.. Apa yang akan terjadi." Lanjut Hana lagi.

__ADS_1


"Oke. Lain kali lebih berhati-hati. Hindari lewat jalan yang sepi karena bisa mengundang kejahatan. Apalagi untuk perempuan seperti kamu." Katanya dengan nada datar.


Hana memang memilih jalan pintas yang sepi ini karena dia pikir akan lebih cepat sampai kerumah dari pada jalan yang biasanya.


"Iyaa.." Jawab Hana kemudian.


"Kamu dari mana emangnya?" Tanyanya.


"Dari.. Ee.. Asrama polisi.." Jawab Hana. Mendengar jawaban Hana barusan membuat Reynald langsung menatapnya dengan sinis.


"Ngapain?" Tanyanya gusar.


"Menjenguk Asran.." Jawab Hana seraya menggigit bibir bagian bawahnya karena dia merasa agak ngeri juga ditatap tajam oleh Reynald.


"Untuk apa dijenguk-jenguk segala. Perasaan kemaren aku udah nyuruh kamu untuk jauhi Asran bukan? Kamu sudah tau kan Asran itu cuman main-main sama kamu? Tapi, kok gak diindahkan ya peringatan aku itu.." Ujar Reynald dengan kesal. Sedangkan Hana hanya diam tak berkutik.


"Dan.. Satu hal lagi, gara-gara tindakan bodoh dia itu yang menyelamatkan kamu.. Dia jadi cedera! Padahal minggu depan kami mau tanding keluar kota. Pertandingan yang sudah lama kami tunggu dan kami harap-harapkan. Terpaksa kami mencari pengganti dia karena dengan keadaan dia yang seperti itu sangat tidak memungkinkan untuk bermain. Kamu pikir cari pengganti seperti dia itu gampang? Dalam waktu yang singkat ini sangat sulit kami mencari pemain sekelas Asran. Paham kamu?" Jelas Reynald dengan raut wajah yang marah.


Mendengar penjelasan Reynald yang berapi-api itu membuat Hana semakin teramat merasa bersalah kepada Asran. Biarpun Asran tidak menceritakan apapun tentang dia yang akan bermain keluar kota kepada Hana, tetap saja Hana merasa sedih. Hana yakin Asran pasti sudah menunggu lama untuk bisa ikut berkompetisi diluar kota itu. Namun, Hana malah menghancurkan mimpi dan harapan Asran.


"Maaf.. Saya gak tahu kalau Asran mau ikut bertanding. Karena Asran tidak pernah cerita masalah ini.." Kata Hana dengan sedih.


"Ya jelas dia ngak mau cerita. Karena dia itu selalu berpura-pura didepan kamu. Kamu gak kenal Asran. Gak tahu sifat dia. Gak tahu gimana aslinya dia, jadi jangan sok-sok merasa peduli lagi dengan Asran. Jangan jenguk-jenguk dia lagi. Oke." Tegas Reynald dan kemudian ia langsung bergegas naik keatas motornya dan berlalu dari sana meninggalkan Hana dengan beribu rasa bersalah melanda hatinya..


.


.


.


Bersambung..


.

__ADS_1


.


__ADS_2