Reminiscent

Reminiscent
LELAKI MISTERIUS


__ADS_3

Hana tersentak kaget saat hpnya berdering kencang. Dipandanginya jam dinding di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Lalu Hana yang merasa heran siapakah gerangan yang menelponnya jam segini langsung saja meraih hp yang terletak manis di meja riasnya.


Rasa kantuk masih menyelimutinya, namun rasa penasaran mengalahkan rasa kantuk tersebut sehingga Hana bangkit dari kasurnya.


Ada sebuah nomor yang tidak dikenal menghubungi. Awalnya Hana ragu. Apakah menerima panggilan itu atau malah mendiamkannya. Karena kelamaan akhirnya panggilan itu berakhir, lantas Hana berniat untuk mengabaikannya saja. Tapi, baru saja ia akan balik lagi ketempat tidurnya, nomor itu kembali menghubunginya dan kali ini Hana langsung mengangkatnya.


"Halo, Assalamualaikum..?" Kata Hana dengan mengucapkan salam. Hening. Tidak ada jawaban dari si penelepon misterius itu. Yang terdengar hanyalah sebuah suara helaan nafas berat dari ujung sana.


"Siapa ya?" Akhirnya Hana bertanya dengan penasaran. Beberapa detik kemudian, akhirnya si penelepon itu mengeluarkan suaranya yang terdengar berat dan agak serak.


"Hana.." Ucapnya dengan memanggil nama Hana. Hana terperanjat ketika namanya dipanggil. Suara seorang laki-laki. Dan Hana sama sekali tidak mengenal suara siapakah itu?


"I-iya.. Dari siapa ya?" Hana mengulang kembali pertanyaannya.


"Hana.." Tanpa menjawab pertanyaan Hana, lelaki itu memanggil namanya kembali. Hana dapat merasakan getaran dari suaranya saat memanggil nama Hana. Begitu dalam dan menyayat hati.


"Kamu siapa?" Untuk sekian kalinya Hana bertanya.


"Suatu saat nantik kamu akan tahu siapa aku." Akhirnya lelaki itu menjawab pertanyaan Hana dengan suara yang datar.


"Yang jelas saat ini perlu aku sampaikan satu hal ke kamu, Hana.." Lanjutnya lagi. Hana hanya diam, menunggu kata lanjutan yang akan disampaikannya.


"Aku.. Aku tidak akan melepaskan kamu begitu saja! Aku.. tidak mau melihat kamu bahagia, aku ingin kau merasakan penderitaan yang pernah aku rasakan." Katanya dengan geram.


Hana membesarkan matanya tanda tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan, lelaki misterius itu tiba-tiba saja memvonisnya dengan perkataan yang diluar dugaan Hana.


"Maksud kamu apa? Dan.. Siapa kamu sebenarnya? Jangan macam-macam ya, bicara seenaknya saja" Kata Hana Mulai merasa kesal.

__ADS_1


Kemudian terdengar suara tawa keras darinya yang mampu memecahkan keheningan di malam itu, hingga akhirnya Hana menjauhkan hp tersebut dari telinganya.


"Kau.. Tidak sadar dengan apa yang kau ucapkan itu, Ha? Aku bisa bilang begini, karena kau! Kau yang membuat hidup aku menjadi sia-sia dan tidak berarti. Masa depan aku. Semuanya sudah sirna. Tak kah kau sadar Hana? Wanita yang tidak punya Hati..!" Hinanya bertubi-tubi ke Hana.


Hana sungguh tidak mengerti arah pembicaraan orang yang dia anggap aneh ini, akan kata-katanya yang menyudutkan Hana. Dan sekarang ia malah bilang Hana yang tidak punya hati.


Hana kembali meresapi setiap kata yang keluar dari lisan lelaki itu, namun.. semakin ia resapi, semakin sakit kepalanya yang sedikitpun dia tidak bisa menebak siapakah orang itu.


"Aku gak paham maksud kamu apa. Dan.. jika kamu gak mau kasih tau juga siapa kamu sebenarnya, lebih baik aku matikan saja teleponnya!" Ancam Hana akhirnya. Karena baginya percuma saja meladeni orang yang malah merahasiakan identitasnya namun berkali - kali berkata yang tidak baik tentangnya.


"Hahahahaha... Beraninya kau mengancam Aku, Hana. Lihat saja nantik, aku pasti akan membuat hidup kau menderita dan menyesal karena telah..."


Klik. Hana mengakhiri hubungan teleponnya dengan orang misterius itu, karena ia merasa tidak sanggup harus mendengar Segala ancaman yang akan dia ucapkan lagi.


Lalu Hana juga me-nonaktifkan nomor hpnya. Setelah itu, Hana kembali ketempat tidurnya.


Apalagi semua perkataan dari lelaki misterius tadi kembali terniang-niang didalam pikirannya. Hana berusaha melupakannya dan mencoba memejamkan matanya, namun tetap tidak berhasil. Malah Hana semakin penasaran dibuatnya. Apakah cuman orang iseng saja yang iri dan tidak senang dengannya atau.... Apakah ada orang yang benar-benar dendam dengan dirinya? Tapi, siapa? Hana merasa tidak pernah punya musuh selama ini.


Hana masih bergelut didalam pikirannya hingga akhirnya.. Ia pun tertidur...


***


Keesokkan harinya saat Hana hendak mengeluarkan motor keteras rumahnya, tiba-tiba saja matanya menangkap sosok yang tengah memperhatikannya disebuah pohon yang ada di seberang kanan dari rumahnya Hana.


Hana menatap balik sosok berhelm gelap itu, Hanapun teringat.. Dulunya Asran yang biasa menunggunya disana. Tapi, itu dulu ketika Asran yang gencar mencari celah untuk mendekati Hana dan memperoleh kata maaf dari Hana atas kesalahan yang ia perbuat.


Dan.. Sekarang, Hubungan mereka sudah terjalin dengan baik, jadi tidak mungkin Asran yang ada disana, kalaupun dia mau datang pastilah langsung ke rumahnya. Untuk apa juga dia mengintai dari seberang sana. Pikir Hana didalam hatinya.

__ADS_1


Untuk memastikan bahwa lelaki itu bukan Asran, Hana langsung menelpon Asran. Tidak berapa lama, Asran menerima panggilan dari Hana.


"Halo.. Kak Hana cantiik.. Tumben nelpon pagi-pagi.. Ada apa kak??" Sapa Asran dengan girangnya karena ditelpon oleh Hana.


"Gak.. Kak mau tanya, kamu sekarang dimana?" Tanya Hana langsung.


"Masih di asrama kak, ini baru mau berangkat ke polres" Jawab Asran.


"Kenapa emangnya kak??" Lanjut Asran lagi dengan bertanya.


"Eee... Ngak.. Cuman tanya aja.." Kata Hana sambil kembali melirik ke orang yang mencurigainya itu.


"Hhmmm.. Gak mungkin cuman bertanya aja, pasti kak Hana rindu dengan Asran kan???" Tanya Asran dengan percaya dirinya dan setelah itu terdengar tawa renyahnya diujung telpon sana.


"Kepedean kali sech kamu, Ya sudah lanjutlah dulu ya. Kak juga mau berangkat." Kata Hana akhirnya.


"Oke kak.."


Setelah itu, Hana mengakhiri teleponnya dengan Asran dan beberapa saat kemudian ia pun berangkat dengan mengendarai motornya dan sebelumnya ia melewati lelaki yang mencurigai itu dengan cuek serta pura-pura tidak menyadari keberadaannya disana.


Namun, ternyata lelaki itu malah mengikuti Hana dari belakang. Hana yang menyadari hal itu lantas saja merasa sedikit panik. Ia seakan trauma diikuti seperti itu. Dan ia takut juga jika orang yang mengikutinya saat ini adalah orang yang sama dengan orang yang dulunya pernah hampir mencelakainya.


Orang itu semakin dekat, Hana berusaha menambah kecepatan motornya agar menjauh dari motor tersebut akan tetapi lelaki itu juga tidak mau kalah, dia semakin memperlaju kendaraannya hingga akhirnya lelaki tersebut sudah tepat berada disamping Hana.


Hana yang merasa panik karena beribu pikiran buruk yang merasuki dirinya sehingga akhirnya membuat Hana membelokkan kendaraannya masuk kedalam polres. Untung saja saat itu ia sudah sampai di polres. Sedangkan lelaki misterius itu, tidak lagi mengikuti Hana yang sudah memarkirkan kendaraannya dihalaman Polres.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2