Reminiscent

Reminiscent
TA'ARUF


__ADS_3

Hana membaringkan badannya diatas kasur kamarnya. Dengan posisi telentang, Hana lalu menatap kearah langit-langit kamarnya sambil menarik nafas panjang.


Sesaat kemudian, ia memejamkan matanya dan kedua tangannya diletakkan di atas dadanya. Hana dapat merasakan getaran di jantungnya yang berdetak semakin kencang dengan irama yang tak beraturan.


“Kalau seandainya… Asran bilang, kalau Asran sebenarnya… suka dengan kakak, apakah kak Hana bisa terima?” Kata-kata Asran tadi sore masih terniang-niang jelas di telinganya. Sejak tadi, Hana tidak berhenti untuk memikikan Asran yang sudah berani jujur mengutarakan perasaannya ke Hana.


Lelaki berwajah lembut itu sebenarnya sudah mengaduk-ngaduk perasaan Hana yang mulai goyah. Sebagai seorang wanita normal, tak dipungkiri dia mungkin juga memiliki rasa yang sama, tapi lagi-lagi egonya bertanya apakah pantas dia membalas perasaan itu? Akan dibawa kemana hubungan mereka nantiknya? Apa kata orang-orang, termasuk orang tuanya nantik, kalau tau lelaki yang dia pilih masih berusia jauh dibawahnya? Yang padahal orang tua Hana berharap agar Hana segera menikah.


Di singgung dengan kata nikah saja, Asran hanya diam membisu saat itu. Tidak mungkin kan Hana harus menunggu sampai Asran siap sedangkan usianya akan semakin bertambah. Memikirkan itu semua membuat kepala Hana jadi sakit. Lalu Hana memutuskan untuk mengistirahatkan dirinya dengan tidur lebih awal.


***


Keesokan harinya di Puskesmas, Hana terlihat duduk sendiri didalam ruangannya. Tia lagi turun vaksin, Lani dan Tika juga keluar entah kemana, kebetulan saat itu belum ada pasien.


Hana enggan untuk keluar ruangan ataupun sekedar berkumpul dengan temannya yang lain. Dia lebih suka menyendiri apalagi dengan perasaannya saat ini yang sedang tidak baik-baik saja.


Hana memandang Hpnya yang terletak manis diatas meja. Hening. Tidak ada satupun WA atapun panggilan masuk seperti beberapa hari belakangan ini. Dari tadi malam sampai pagi ini, ia sebenarnya sedang menunggu. Menunggu kabar dari Asran. Tapi, tak kunjung ada kabar darinya.


Hana menduga-duga dalam hati. Apakah Asran akan berpaling darinya setelah apa yang ia bilang semalam sore? Semudah itukah dia berpaling? Hana tersenyum pahit, benar juga kata kak Ria, ASran belum cukup dewasa dalam masalah hubungan yang lebih serius. Pikirnya dalam hati.


Beberapa menit kemudian, ada suara ketokan dari luar pintu. Hana mempersilahkan orang tersebut masuk. Hana yakin itu pasti pasien, dan mustahil itu salah satu temannya karena mana pernah sekalipun mereka masuk dengan mengetuk pintu, pasti langsung main nyelonong masuk saja. Pikir Hana.


Kemudian pintupun terbuka, terlihat seorang lelaki berjas putih dengan steteskop dilehernya menyembul dari balik pintu. Hana melotot kaget saat melihat Dokter Andra yang sudah berdiri didepan pintu ruangannya.


“Boleh mintak waktunya sebentar, kak Hana?” Tanyanya yang masih berdiri mematung didepan pintu.


“I-Iya.. boleh..” Jawab Hana yang entah kenapa menjadi agak gugup.


“Aku ngak disuruh duduk dulu nih,” Tanyanya sambil tertawa kecil setelah masuk dan berdiri didepan Hana.

__ADS_1


“Oh, ya… duduk aja Dok…” Kata Hana yang langsung mengambil pena dan pura-pura menulis sesuatu dibuku registernya.


“Sibuk kak?”


“Ngak…”


“Terus itu mau catat apa?”


“Ngak… ngak jadi…” Kata Hana setelah itu meletakkan penanya lagi.


“Ada apa ya, dok?” Tanya Hana kemudian.


“Sebenarnya, aku kesini mau mempertegas dan memperjelas atas ucapan aku dibengkel beberapa hari yang lalu kak..” Ucap Andra sambil menatap lurus kearah Hana.


Saat ini mereka duduk saling berhadapan, sehingga membuat mata mereka beradu pandang untuk beberapa detik, setelah itu Hana langsung buru-buru menundukkan wajahnya.


“Dan, sekarang aku tegaskan lagi kak… aku memang menyimpan rasa suka dan bahkan dengan seiring berjalannya waktu akan perlahan-lahan berubah menjadi rasa sayang… atau bahkan cinta….ke Kak Hana…” Lanjutnya lagi yang masih memandang lurus kearah Hana yang masih menunduk.


Hana masih diam. Dia tak tahu harus menjawab apa, dan juga tidak berani untuk sekedar mengangkat kepalanya dan balik memandang Andra.


“Tapi, kak Jangan Risau.. aku ngak butuh jawaban apa-apa dari kakak kok….” Katanya sambil tersenyum manis.


“Yang jelas saat ini perasaan aku sudah sedikit lega kak, setelah diungkapkan semua, seperti ngak ada beban lagi….” Lanjutnya.


“Perasaan Anda yang lega dok, tapi bagaimana dengan perasaan saya setelah mendengar pengakuan Anda ini?” Kata Hana yang hanya mampu berujar didalam hatinya.


“Oh ya Kak, waktu kami di Puskesmas ini tinggal seminggu lagi.. Ngak kerasa waktu berjalan begitu cepat ya kak… sudah hampir 3 bulan kami disini… dan Udah saatnya kami pulang ketempat asal kami masing-masing kak…” Ucapnya seperti mengingatkan Hana.


“Iya ya…?” Ucap Hana agak ragu. Andra mengangguk kepalanya.

__ADS_1


“Semoga sukses ditempat yang baru nantik ya Dok,” Ucap Hana kemudian. Mendengar ucapan Hana barusan membuat Andra kembali tersenyum, yang kini dengan senyuman yang lebih lebar.


“Ini Internship kami yang terakhir kak, setelah itu kami akan mendapat sertifikat dan akhirnya… kami akan jadi Dokter sungguhan lah kak, hehe…” Katanya sambil tertawa kecil. Hana ikut tersenyum..


“Alhamdulillah, semoga selalu sukses ya Dok,” Ucap Hana.


“Aamiin…” Jawabnya.


“Oiya, kak Hana… mengenai yang tadi... Apakah kakak mau menunggu ?”


Hana mengerutkan dahinya tanda bingung, dia sama sekali tidak paham apa maksud Dokter tersebut.


“Menunggu apa ya Dok?” Tanya Hana yang masih bingung.


“Hhmmm… Aku ingin ajak kak Hana ke hubungan yang lebih serius Lo kak, seperti Ta’arufan…” Katanya yang lagi-lagi masih dengan senyum manisnya itu.


Hana tersentak kaget. Ia membetulkan posisi duduknya yang mulai gelisah, Tangan dan kakinya serasa dingin semua.


Belum lagi dia harus mengatur detakan jantungnya mulai bergerak lebih kencang. Dan dia juga yakin saat ini wajahnya pasti terlihat pucat. Hana menelan ludah.


“Ta’arufan? Sama Saya?” Hana bertanya untuk menyakinkan bahwa yang barusan dia dengar itu tidak lah benar.


“Yup, Benar Kak,” Jawabnya dengan keyakinan penuh.


“Tapi, beri aku waktu sampai selesai internsip ini dan memperoleh sertifikatnya ya kak, kira-kira dalam waktu 2 atau 3 bulanan lah kak prosesnya… Setelah itu aku akan melamar kak Hana…”


Hana tak menanggapi lagi perkataan Andra yang terakhir itu. Ia saat ini berusaha untuk mengendalikan perasaan yang mulai berkecamuk. Tiba-tiba kepala Hana serasa sakit dan pandangannya mulai agak kabur dan setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2