Reminiscent

Reminiscent
PERMINTAAN TERAKHIR


__ADS_3

Hana menoleh ke Andra. Meminta persetujuan dari suaminya itu untuk masuk seorang diri kedalam sana.


"Ndra.." Lirih Hana dengan memegang lembut lengan suaminya itu. Andra masih diam, seakan tidak rela membiarkan istrinya masuk seorang diri kedalam sana, menemui lelaki yang begitu amat mencintainya. Sampai diakhir hidupnya pun, di masa-masa kritisnya, Hanya Hana lah yang ia ingat. Apakah memang begitu besarnya rasa cinta Asran terhadap Hana? Terhadap wanita yang sudah menjadi istrinya ini??


"Andra.." Hana kembali memanggil Andra dengan suara yang lembut. Hana menatap erat wajah suaminya itu yang masih bungkam dengan segala pikiran yang berkecamuk dibenaknya. Detik kemudian, dengan menarik nafas panjang akhirnya Andra mengeluarkan suaranya juga.


"Pergilah Hana, temui Asran. Tapi, Jangan lama-lama. Ingat, Ada aku.. Suamimu yang setia menunggu diluar sini" Ujar Andra dengan suara yang datar dan kemudian melepaskan pegangan tangan Hana pada lengannya.


"Yuk Hana, masuklah kedalam." Kata Reynald. Sebelum Hana masuk kedalam ruangan Asran, ia sempat melirik kearah Andra yang malah balik menatap Hana dengan tatapan kosong.


"Maaf ya, Ndra. Aku masuk sebentar ya." Lirih Hana. Andra hanya mengangguk.


Hana membuka pintu ruangan Asran dengan perlahan-lahan. Setelah pintu terbuka, mata Hana langsung tertuju kesebuah tempat tidur didalam sana. Ditempat tidur itulah Asran terbaring lemah lengkap dengan semua alat medis yang terpasang ditubuhnya.


Hana berjalan pelan mendekatinya. Saat Hana sudah berada didekat Asran, seluruh badan Hana langsung bergetar hebat melihat keadaan Asran yang sangat memprihatinkan. Mata Asran terpejam, namun mulutnya terlihat komat kamit menyebut sesuatu, Hana semakin mendekatinya dan kini sudah berdiri tepat disebelah Asran. Saat itulah ia mendengar Asran menyebut namanya.


"K-kak.. Ha..Na.." Rintih Asran dengan suara yang pelan.


Mendengar namanya dipanggil, Hana lantas saja memegang tangan Asran yang terasa dingin. Karena sentuhan dari tangan Hana itulah membuat mata Asran perlahan-lahan terbuka.


Hana menatap erat wajah Asran yang pucat pasi, mata Asran seakan berat untuk terbuka namun tetap dipaksakannya untuk terbuka juga. Akhirnya mata Asran terbuka lebar, mata merah itu langsung tertuju kearah Hana.


"K-kak..Ha..Naa..??" Lirih Asran dengan suara yang terbata-bata.

__ADS_1


"Iya, Asran. Ini.. Kakak." Kata Hana, masih menggenggam tangan Asran dengan erat.


"Kak.. Te..ri..makasih, sudah... mau.. Datang.." Kata Asran masih dengan kalimat yang terputus-putus. Dengan Masih menahan sakit, Asran tetap berusaha memberikan senyuman manisnya ke Hana.


"Kamu harus semangat Asran, semangat untuk sembuh. Karna kak yakin, kamu itu kuat. Bisa melawan sakit kamu ini, kak mau kamu sembuh. Ya?" Kata Hana dengan tersenyum lebar. Padahal didalam hatinya ia lagi berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya dari Asran.


"I-Iya Kak.. Mes-ki-pun, As-ran..Tau kemung-kinan sem..buh ituu kecil," Katanya setelah itu berhenti sesaat untuk menarik nafas panjang.


"Sudah Asran, kamu jangan mikir yang macam-macam. Kita semua selalu berdoa untuk kesembuhan kamu Asran. Dan juga, jangan banyak mengeluarkan suara dulu ya, kamu istirahat aja lagi ya. Kak gak bisa lama-lama disini." Kata Hana berusaha menenangkan hati Asran.


"Jangan..per-gi, kak. As-ran.. mohon.." Ucapnya lalu memegang tangan Hana dengan kedua tangannya. Asran memandang Hana dengan pandangan sayu dan juga memelas, membuat Hana benar-benar tidak tega untuk pergi meninggalkannya. Padahal Hana sudah berjanji pada Andra untuk tidak berlama-lama menemui Asran.


"Asran, kamu harus banyak istirahat. Kakak akan selalu mendoakan kamu kok, kamu harus tetap semangat ya, berpikiran yang baik-baik dan yang penting kamu harus yakin, kalau kamu pasti bisa sembuh." Kata Hana dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia tidak tahan melihat raut wajah Asran yang seperti menahan rasa sakit pada kepalanya. Tapi, tetap dipaksakannya untuk memberikan sebuah senyuman kepada Hana.


"Iya, Iya Asran. Kamu jangan banyak bicara lagi ya. Kamu.. Lebih baik sekarang istirahatlah lagi. Kak mau keluar dulu, ya?" Pamit Hana. Karena sesungguhnya ia tidak tahan juga harus berlama-lama didalam sana. Ia tidak sanggup melihat Asran yang merintih kesakitan.


"Kak.. Jan..gan, Tingal-kan As-ran.. As-ran, bu-tuh..Kak disaat ter-akhir, Asran.." Ujarnya lagi.


"Kamu ngomong apa sih Asran? Kamu harus berjuang, kamu jangan pasrah begini. Kak gak suka lihat kamu lemah seperti ini." Kata Hana dengan terisak-isak. Akhirnya air mata yang sedari tadi Hana tahanpun tumpah jua. Ia menangis.


"Kak, Ja-ngan... Nangis.." Kata Asran kemudian dengan bersusah payah ia mengangkat tangannya dan mengarahkan ke pipi Hana. Ia menghapus air mata Hana yang sudah mengalir dengan deras.


"Maaf-kan, As..ran kare..na. .se..la..lu, menyu..sahkan, kak.. Ha..na.."

__ADS_1


"Ngak, kamu gak pernah menyusahkan kakak kok Asran. Sudah ya, kamu jangan ngomong apa-apa lagi. Kak mohon, kak gak sanggup melihat kamu kesakitan saat mengeluarkan suara kamu, Asran." Kata Hana karena ia bisa lihat bagaimana susah payahnya Asran berbicara dan itu pasti berefek ke bagian kepalanya. Hana bisa membaca dari raut wajahnya, yang tampak meringis menahan sakit. Meskipun ia tutupi dengan sebuah senyuman.


Kini tangan Asran turun kebawah, memegang kembali tangan Hana dengan erat dan kemudian membawa tangan Hana tersebut mendekati wajahnya. Detik kemudian, tanpa diduga.. Asran malah mencium lembut tangan Hana. Hana hanya diam dengan apa yang dilakukan Asran tersebut. Agak lama juga ia melakukan itu.


"Asran.." Sampai akhirnya Hana menarik tangannya. Ia sadar bahwa dirinya sudah salah membiarkan lelaki itu mencium tangannya.


"Kak, As-ran.. Akan.. Se-lalu menya-yangi kak-ka.. sampai ka..pan.. pun.."Rintih Asran dengan suara yang semakin tidak terdengar jelas.


"Kak.. Men-dekatlah.. pe-luk As..ran, untuk.. Ter. akhir, ka-linya," Ucap Asran seraya kembali memegang dan menarik tangan Hana agar lebih mendekat kepada dirinya.


"Ngak Asran, ngak. Sudah ya. Kak keluar ya," Kata Hana yang kemudian berusaha melepaskan tangannya yang dipegang oleh Asran. Hana takut jika terlalu lama ia disana, ia akan lemah dan mengikuti apa yang Asran suruh. Padahal dia sudah bersuami, sudah ada Andra yang menunggunya diluar sana.


"Jangan per..gi, kak.. Plis..tema-ni As-ran disaat ter-akhir.. Agh.." Disaat kata terakhir tersebut, nafas Asran seperti tertahan, ia seperti susah untuk bernafas. Hana yang panik kemudian berniat keluar untuk memanggil dokter namun Asran malah semakin kuat memegang tangan Hana. Ia memberi kode agar Hana tidak pergi. Hana bingung, apa yang harus ia perbuat. sedangkan Asran sudah semakin sekarat. Hanya satu keinginan Asran saat itu. Hana tetap disana menemaninya, dan memeluk dirinya untuk terakhir kalinya..


.


.


.


.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2