Reminiscent

Reminiscent
RASA SAKIT


__ADS_3

Asran berlari mengejar Hana dan berusaha menangkap bagian belakang motor Hana. Namun, belum sempat Asran menangkap bagian belakang motor Hana, lelaki itu malah jatuh tersungkur ketanah dengan kedua tangannya memegang erat bagian kepalanya.


Asran terduduk ditanah seperti orang yang sedang kesakitan. Dia meraung-raung tak jelas dengan memegang kepalanya.


Hana melihat dari kaca spionnya bagaimana Asran yang jatuh tersungkur ketanah dengan tangan diatas kepalanya. Hana bingung apa yang harus diperbuatnya? Apakah dia tetap pergi meninggalkan Asran atau.. Malah berhenti dan kembali kebelakang? Tak dipungkiri juga ada rasa penasaran sekaligus khawatir dihati Hana ketika melihat Asran terjatuh seperti itu. Akan tetapi, pikiran Hana seakan menghasutnya. Bagaimana jika itu cuman akal-akalan Asran saja agar Hana berhenti dan kembali ke belakang. Ya.. Bisa jadi. Hana menyakinkan dirinya dan akhirnya Hana putuskan untuk pergi dari sana.


Hana terus mengendarai motornya dengan pelan dan sekali-sekali matanya melirik ke kaca spion. Untuk memastikan apakah Ada Asran dibelakangnya, jika ada berarti benar bahwa dia tadi berpura - pura tersungkur saja, buktinya dia sudah bisa kembali mengendarai motornya. Namun, sekitar 10 menit Hana bergerak dari sana, ia sama sekali tidak melihat Asran dibelakangnya. Hana berhentikan sejenak motornya kepinggir. Lalu mengambil handphonenya dan menghubungi nomor seseorang.


"Assalamu'alaikum, Sinta. Maaf kak mengganggu. Kak mau pastiin saja. Kamu bisa keluar sebentar gak ke parkiran? Coba kamu lihat ada laki-laki yang kesakitan gak diluar sana?" Kata Hana yang ternyata menelpon petugas shif siang itu.


"Wa'alaikumussalam, iya kak Hana. Ada nih kak.. Sudah masuk ke IGD." Jawab Sinta.


Mata Hana langsung terbelalak kaget mendengar jawaban Sinta itu. Rupanya Asran benar-benar kesakitan bukan akting belaka. Buktinya ia saat ini sudah berada di IGD Puskesmas. Perasaan khawatir langsung menyelimuti hati Hana


"Kenapa emangnya kak?" Tanya Sinta.


"Ng.. Gak, Kalau kaka boleh tau.. Emang dia kenapa ya, Nta?" Hana bertanya, karena ia sangat penasaran apa yang terjadi pada Asran.


"Dia mengeluh sakit dibagian kepalanya, nyeri seperti tertusuk-tusuk gitu, kak. Ini sudah diinfus dan diberi obat penghilang nyeri lewat infusnya" Jelas Sinta.


"Oohh.. Gitu ya.. Ya sudah, terimakasih infonya ya Sinta." Lalu Hana mengakhiri panggilannya dengan Sinta.


"Kasihan Asran, apa yang terjadi dengan dia ya?" Desis Hana. Cukup lama Juga Hana berdiam diri disitu. Ia merasa dilema dengan apa yang harus diperbuatnya, apakah ia terus melanjutkan perjalanan untuk pulang atau malah kembali ke Puskesmas dan melihat Asran?


Suara orang mengaji dari Mesjid terdengar ditelinga Hana, sebagai tanda bahwa sebentar lagi akan memasuki waktu maghrib. Hana menghela nafas panjang dan kemudian akhirnya ia memutuskan untuk segera pulang.


"Maaf kan kakak Asran, semoga kamu baik-baik saja.." Ucap Hana sebelum ia beranjak dari sana.


***


Setelah sampai, Hana langsung masuk kedalam rumahnya dengan hati yang masih diselimuti rasa kekhawatiran terhadap keadaan Asran. Tapi, ia berusaha menangkis perasaan khawatir tersebut. Karena Hana sudah bertekad tidak ingin lemah lagi terkait Asran.

__ADS_1


Hana lalu membersihkan dirinya dengan mandi dan kemudian sholat maghrib. Setelah selesai sholat maghrib, Hana mengalihkan pikirannya dengan menyibukkan diri untuk mempersiapkan baju-baju serta kebutuhan lainnya untuk dibawa berangkat.


Ditengah kesibukan Hana mempacking bajunya, tiba-tiba saja handphone Hana berdering. Hana lalu berdiri dan mengambil benda pilih tersebut yang masih berada didalam tas kerjanya tadi.


Hana mengerutkan keningnya saat melihat sebuah nomor yang tidak dikenal menelponnya. Cukup lama juga Hana mendiamkan panggilannya itu hingga akhirnya ia menekan tombol menerima.


"Assalamualaikum, Halo?" Sapa Hana ke sipenelpon.


"Wa'alaikumussalam, kak..." Jawab sebuah suara. Suara lelaki yang terdengar agak serak dan berat. Hana kenal suara itu.


"Asran..??" Lirih Hana karena tidak menyangka Asran yang menelponnya.


"Kak Hana benaran tidak peduli lagi sama Asran ya kak?" Tanya Asran dengan suara yang memelas. Perasaan Hana mulai tidak karuan mendengar suara lemah Asran tersebut.


"Kak Hana tahu Asran kesakitan, tapi.. Kak Hana gak datang nemuin Asran." Sambung Asran lagi dengan isakan pelan yang keluar dari mulutnya.


Hana masih diam dengan hati semakin tidak tenang.


"Padahal Asran sayang sekali sama kak Hana.. Tapi, kak Hana malah seperti ini. Apa salahnya Kak balik dan temuin Asran. Apa kak Hana gak khawatir sama Asran kak??" Asran kembali menodong Hana dengan pertanyaan yang seakan menyudutkan diri Hana.


"Bukan begitu Asran, kak.. cuman.. mau menjaga aja. Kak harap kamu bisa mengerti Asran, gak perlu lah lagi kak jelaskan panjang lebar sama kamu." Ucap Hana. Padahal dia sudah berusaha menahan dirinya agar tidak terlihat lemah dihadapan lelaki itu. Tapi, sepertinya Asran terus-terusan memancing kelemahan Hana itu.


"Kak.. Asran ada didepan rumah kak Hana sekarang.." Tutur Asran tiba-tiba. Hana langsung terlonjak kaget mendengar perkataan Asran barusan.


"Apa..?? Ngapain lagi Asran??" Tanya Hana dengan rasa geram dan kesal bercampur jadi satu dibenaknya. Sudah bersusah payah dia berusaha menghindar dari lelaki itu tapi ternyata percuma saja, Asran tetap bersikukuh dengan kekerasan hatinya itu hingga nekat mencari Hana sampai kerumahnya.


"Kak Hana bisa keluar sebentar?" Pinta Asran.


"Ngak.. Ngak bisa. Kak mau istirahat. Maaf.."Jawab Hana dengan tegas.


"Ya sudah, Asran akan tetap tunggu kak Hana diluar." Katanya.

__ADS_1


"Yadah, terserah..." Sahut Hana dan kemudian mematikan panggilan dari Asran tersebut


[Kak.. Asran sakit kak.. Plis.. Keluarlah sebentar..]


Asran mengirim pesan tersebut, lagi-lagi Hana dibuat bingung dan galau atas kelakuan lelaki itu.


[Kalau sakit, kamu pulang aja. Istirahat dirumah]


Hana mengirim pesan tersebut.


[Asran mau mengobrol sebentar kak, keluaralah kak.. Plis..]


Asran masih tetap ngotot untuk menyuruh Hana keluar.


[Pulanglah Asran, gak ada lagi yang perlu kita obrolkan. Entar ujungnya malah berdebat lagi seperti tadi..]


[Asran akan tetap disini sampai kak Hana keluar nemuin Asran]


Kata Asran setengah mengancam.


Setelah itu, Hana tidak lagi membalas chat Asran yang terakhir kalinya. Malahan Hana menjauhkan handphone dari dirinya dan kemudian mematikan lampu kamarnya. Ia putuskan untuk tidur dan beristirahat. Hana memantapkan dirinya untuk sedikit tega dengan Asran dan seolah tidak mempedulikannya. Yah.. Biarlah Asran beranggapan seperti itu, karena Hana sangat berharap setelah ini, Asran akan berpikir dua kali untuk kembali mendekatinya.


Beberapa saat kemudian, Hana yang sudah berbaring diatas ranjangnya lalu memejamkan mata. Ia Berusaha sekuat tenaga membuang jauh rasa kasihan, khawatir dan risau terhadap Asran. Dan... Hana rasa kali ini dirinya benar-benar telah berhasil untuk tidak menjadi Hana yang lemah dan plin plan seperti sebelumnya-sebelumnya...


.


.


.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2