
Pagi itu Hana sengaja datang terlambat ke tempat kerjanya. Hari sudah menunjukkan pukul 9 pagi tapi Hana baru saja sampai di parkiran Puskesmas. Karena tadi pagi-pagi ketika ia hendak mengeluarkan motornya ke teras rumahnya, tanpa sengaja ia melihat Asran melalui jendela kamarnya sedang berdiri di ujung jalan sambil memperhatikan kearah rumah Hana.
Sontak saja hal itu membuat Hana sedikit terkejut, meskipun Hana yakin pasti Asran akan mencarinya kerumah karena Hana yang dengan sengaja telah memblokir nomor Asran supaya lelaki itu tidak lagi menghubunginya. Tapi, menurut Hana, Asran begitu cepat bertindak dengan langsung mencarinya kerumah.
Hana menunggu sampai Asran pergi, setelah itu barulah ia mengeluarkan motornya dan selang beberapa menit kemudian langsung berangkat ke Puskesmas, tempat ia bekerja.
"Hai, Kak Hana.." Sebuah suara lembut menyapanya dari belakang. Hana menoleh dan mendapati Rini yang sudah memamerkan senyum manisnya ke Hana.
"eh, Rini.. Pa kabar?" Tanya Hana.
"Sehat kak.. Kak apa kabar? Bagaimana liburannya?? Oleh-olehnya mana?" Hana diserbu pertanyaan oleh Rini.
"Sehat juga.. Ada kok ini kak bawak kan oleh-olehnya. Nantik kita makan didalam aja sama-sama yang lainnya, oke?" Ucap Hana.
"Oke kakak.." Jawab Rini antusias.
"Oh iya kak . Tadi ada yang nyariin kakak Lo." Lanjut Rini yang langsung memasang wajah seriusnya. Hana memberi kode pada alisnya tanda bingung dan juga penasaran siapa yang dimaksud oleh Rini.
"Cari kakak? Siapa??" Tanya Hana akhirnya.
"Itu Lo kak Polisi Ganteng yang waktu di polres dulu ituu.." Kata Rini sambil senyum-senyum tak jelas.
"Ooh.." Kata Hana sambil memalingkan wajahnya kearah depan. Ia tahu siapa orang yang dimaksud Rini. Pasti Asran. Hana tidak menyangka Asran juga nekat datang ke Puskesmas untuk mencarinya dan malah bertanya sama Rini lagi. Hana yakin Hal itu pasti akan jadi pertanyaan di benaknya Rini.
"Kenapa ya dia nyariin kak Hana?" Kan.. benar.. Hana kenal sekali sifat Rini yang Kepo dan selalu ingin tahu itu. Kini ia malah menatap Hana dengan curiga.
"Kak Hana, Polisi muda itu bukan pacar kak Hana kann??" Tanyanya lagi yang mampu membuat Hana menjadi salah tingkah dengan pertanyaan Rini yang tiba - tiba itu.
"Ya.. Memang bukanlah.. kamu ini, aneh-aneh aja.." Jawab Hana sambil tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana .
"Tapi, tadi Rini lihat dia seperti kebingungan gitu kak Han.. Ya.. Seperti seorang cowok sedang menunggu kekasihnya, hehe.." Ucap Rini dengan gaya lebaynya. Hana hanya diam.
"Kalo bukan pacar.. terus dia ngapain donk nyari kakak?" Rini masih belum berhenti bertanya sampai akhirnya mereka sudah berada didalam Puskesmas. Hana sama sekali tidak menanggapi pertanyaan Rini.
***
Saat itu semua teman Hana berkumpul di ruangan Hana. Termasuk juga teman-teman yang dari ruangan lainnya. Mereka mencicipi oleh-oleh yang Hana bawakan.
Beberapa saat kemudian, sebuah panggilan masuk tertera di layar Handphonenya Hana. Ternyata Andra yang menelpon.
Kemudian Hana izin ke luar ruangan untuk mengangkat telpon. Hana merasa canggung jika harus mengangkat telpon diruangan tersebut karena satupun temannya di Puskesmas belum ada yang tahu tentang pertunangannya dengan Dokter Andra.
__ADS_1
"Halo, Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumusalam.. Hana..Syukurlah.. Kamu kemana Aja? Dari semalam aku hubungi kok ngak bisa-bisa?" Andra bertanya dengan nada khawatir.
"Maaf, Andra.. semalam hp saya habis baterai." Jawab Hana.
"Seharian? dan sampai malam juga? Kenapa tidak di cas?" Tanya Andra dengan bingung.
Hana terdiam. Ia seperti berfikir jawaban apa yang harus ia katakan ke Andra. Tidak mungkin ia menceritakan bahwa ia pergi bersama Asran. Hana tidak berniat untuk menceritakan tentang Asran ke Andra. Sedangkan dirinya sudah bertekad untuk tidak lagi berhubungan dengan laki-laki itu.
"Na..?" Panggil Andra yang mendapati Hana diam.
"Iyaa.."
"Kok diam? Ya sudah kalau tidak mau jawab. Yang penting bagi aku, kamu baik-baik aja.. Dan aku harap kamu jangan sungkan cerita ke aku kalau ada apa-apa ya. Karena.. Aku ini bukan lah orang lain lagi Hana.. Aku pengen kamu lebih terbuka sama aku, Ya.. meskipun kita belum resmi bertunangan. Tapi, InshaAllah dalam waktu dekat kita akan bertunangan.." Ujar Andra dengan lembut.
"Iyaa Andra, Akan saya usahain.." Jawab Hana.
"Oke, Kamu lagi dimana sekarang?"
"Puskesmas"
"Bukan..Diluarnya.."
"Bentar.. Biar aku tebak, pasti didalam ruangan kamu lagi ramaikan makanya kamu keluar angkat telpon aku ini..?"
"Iyaa.."
"Kamu belum cerita ke mereka tentang kita?"
"Belum Andra."
"Kenapa?"
"Belum sempat aja!"
"Oh Gitu, Kalau boleh aku kasih saran.. secepatnya dikasih tau biar nantik mereka tidak kaget tiba-tiba aja dapat kabar tentang pertunangan kita.."
"Hhmm.. iya nantik lah, Saya malas aja cepat-cepat kasih tahu.. Pasti semuanya pada heboh.." Kata Hana yang sudah terbayang bagaimana hebohnya teman-temannya nantik.
"Oke dech, terserah Hana aja, Bagaimana baiknya."
__ADS_1
"Hana.." Panggil Andra lagi.
" Iya.."
"Hana.. Sedang Merasakan sesuatu Ngak?" Tanya Andra yang membuat kening Hana berkerut bingung. Tidak paham maksud dari pertanyaan dari Andra tersebut.
"Merasakan apa?"
"Apapun itu.. ada atau tidak?"
"Apapun? Entah..Maksud saya Gak tau atau mungkin tidak ada.." Jawab Hana tidak yakin.
Terdengar tawa kecil Andra dari seberang sana mendengar jawaban Hana barusan.
"Hhhmm... Tidak ada ya, Berarti.. hanya aku aja donk yang merasakannya.." Kata Andra lagi.
"Emang merasakan apa?" Hana bertanya bingung. Ia masih belum mengerti arah pembicaraan Andra.
"Rinduu.." Jawab Andra dengan mantap.
"Rinduu?" Hana mengulang kata yang dilontarkan Andra barusan.
"Iyaa, Hana.. Rindu.. Sama kamu.." Jawab Andra dengan lembut sehingga membuat dada Hana tiba-tiba bergetar hebat.
"Oo...Eee...Hhmm..." Hana bergumam tidak jelas karena sebenarnya ia bingung harus jawab apa, belum lagi ia masih mengatur getaran dihatinya yang semakin kuat menguasai dirinya.
"Kalau Hana, bagaimana?Tidak kah rindu dengan Aku?" Tanya Andra lagi. Hana terdiam. Tidak tahu harus jawab apa.
"Padahal baru 2 hari ya kita tidak ketemu, Tapi.. rasa-rasanya sudah lama aja.. Jadi ngak sabar untuk ketemu lagi.." Celetuk Andra.
"Hana, Kok diam? Emang salah ya kalau aku rindu sama kamu?" Tanya Andra ke Hana yang masih diam, tidak menanggapi kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Andra.
"Ngak.. Ngak Kok Ndra," Jawab Hana.
"Syukurlah... Kalau kata rindu boleh diucapkan, berarti kata sayang juga boleh lah ya diucapkan..?" Tanya Andra yang lagi-lagi membuat Hana menjadi salah tingkah.
"Eee.. iya, mungkin boleh.." Jawab Hana sambil melirik ke kanan dan kekiri. Ia memastikan tidak ada temannya yang melihat ia sedang menelpon yang mungkin saja saat ini wajahnya bersemu merah dikarenakan kata-kata aneh yang diucapkan Andra kepadanya.
"Hana, Sayang...??" Panggil Andra dengan begitu lembut. Lagi-lagi Hana hanya terdiam dengan getaran aneh yang berkecamuk dihatinya.
Bersambung...
__ADS_1