Selendang Di Atas Ranjang

Selendang Di Atas Ranjang
S.2.26


__ADS_3

Varo meregangkan otot sejenak setelah selesai memeriksa berkas yang tertumpuk di atas mejanya. matanya mengarah ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul 20.00. Varo membereskan file yang berserakan sehabis diperiksa untuk persiapan rapat besok pagi.


Kakinya melangkah keluar dari ruangan, berjalan menuju lift yang akan mengantar ke lantai dasar. Sudah tidak banyak orang lalu lalang di perkantoran itu, karena jam kerja habis pukul lima sore. terkecuali beberapa orang saja yang terlihat masih lembur kerja.


Hujan turun dengan sangat deras malam ini, Varo menghela nafas, dengan badan yang sudah penat ingin rasanya segera mandi, kemudian bergelung dengan selimut menuju mimpi indah. apalah daya pekerjaan begitu menumpuk dan menghabiskan waktunya, hanya sekedar berkumpul dengan teman saja sangat sulit.


Varo mulai menghidupkan Mobil Mewah Bentley bentayga yang memiliki gaya sporty dengan kekuatan mesin melebihi range rover, dan tentu saja harganya wow, kisaran Sembilan milyar. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menembus derasnya hujan.


Varo tidak berani membawa dengan kecepatan tinggi karena rawan kecelakaan dengan kondisi jalanan licin ditambah kondisi tubuh yang sudah penat, letih dan ingin rasanya segera sampai rumah mandi air hangat kemudian bergelung di dalam selimut.


Untuk mengusir kesenyapan Varo menyalakan radio, saat itu terdengar lagu dari penyanyi dengan suara emas Bruno mars mengalun merdu di telinganya. terkadang dia ikut menirukan lagu tersebut sambil jari tangan mengetuk sesuai irama.


Saat sedang asyik mendengarkan lagu mata Varo menangkap sosok perempuan yang sedang duduk sendiri di halte busway, dia nampak kedinginan terlihat pula olehnya empat orang lelaki berjalan mendekati halte busway di mana perempuan itu duduk seorang diri.


Mobil Varo semakin mendekat ke arah perempuan itu dan mata Faro menangkap sosok perempuan yang baru beberapa hari dia kenal. Varopun menepikan mobilnya di dekat halte busway itu.


"Sita, Sita... ayo kesini!" ucap Varo dengan teriakan keras karena berlomba dengan suara rintik hujan setelah menurunkan kaca mobilnya.

__ADS_1


Sita yang mendengar suara seseorang memanggilnya langsung menengok ke arah datangnya suara, dia tidak tahu siapa yang memanggilnya, karena hujan memburamkan pandangannya.


"Hai manis sendirian aja nih kenalan yuk? mau Abang temani ya!" ucap lelaki bertubuh kerempeng dengan tindik di telinga dan juga hidungnya.


"hai cantik Kamu terlihat sangat menggemaskan malam ini, cuaca dingin begini enaknya yang anget anget, Abang kasih kehangatan plus deh buat neng cantik," ucap teman si kerempeng hendak menoel dagu Sita. namun sita berhasil mengelak kemugian berlari kecil menuju ke arah mobil.


Sita membuka pintu kemudian duduk dikursi sebelah Varo dengan nafas terengah-engah dan memejamkan mata berusaha mengatur detak jantung yang tidak beraturan kemudian menutup pintu mobil dengan keras.


Terimakasih tuhan, engkau masih menyayangi aku dengan mendatangkan penyelamatan untukku," gumam Sita yang masih terdengar oleh Varo.


"Nih, pake handuk untuk mengeringkan rambutmu agar tidak masuk angin karena kedinginan," ucap Varo mengulurkan handuk pada sita. Sita yang dari tadi memejamkan matanya perlahan membuka dan mengarahkan pandangannya pada Varo.


"Eh... mas temennya David, terima kasih banyak atas pertolongannya," ucap Sita sedikit terkejut melihat siapa yang menolongnya, sambil menerima handuk dari tangan Varo.


"Namaku Varo, ngomong ngomong dimana rumahmu?" tanya Varo sambil melajukan kembali mobilnya.


"Di jl Sudirman, gang setelah rumah sakit Medistra," jawab Sita sambil melepas kuncir pada rambut hitam panjangnya.

__ADS_1


"kamu bekerja di kafe sampai malam begini? bukannya berbahaya bagi perempuan, kenapa tidak mencari pekerjaan yang lain?"ucap Varo memecah kebungkaman.


" Aku bisa jaga diri kok, ya bagaimana lagi, masih kuliah sih jadi yang mau menerima kerja juga jarang, paling kalaupun kerja ya ambil part time seperti ini," jawab Sita.


"Kamu pindah dari kampus mana? tanya Varo lagi.


"Aku dari Makassar, kebetulan ada nenek, aku disuruh menemani nenek disini sekalian kuliah."


"Nah itu rumah bercat hijau, itu rumah nenekku. sekali lagi terimakasih Varo, maaf tidak menawarkan mampir karena sudah malam,"Ucap Sita sambil membuka pintu mobil dan berlari menuju ke rumahnya.


***


Pukul sembilan malam Varo sampai di rumahnya. suasana sudah sepi, Naura mungkin sudah tidur, sikembar masih ditempat Oma.


Rasanya plong saat membuka pintu kamarnya, secepatnya varo mandi, mengganti baju kemudian naik ke tempat tidur bergelung dengan selimutnya menuju pulau impian.


...

__ADS_1


__ADS_2