Selendang Di Atas Ranjang

Selendang Di Atas Ranjang
lima puluh


__ADS_3

posisi tubuh Axel dan Alexa sekarang, benar benar membuat sport jantung buat Axel . tubuh Axel menempel pada tubuh Alexa dengan tangan memegang pinggang Alexa.


melihat bibir merah nan seksi Alexa membuat Axel gelap mata dan hilang kesadaran, sehingga bibirnya menempel di bibir Alexa kemudian mulai ******* sambil memejamkan matanya. sampai saat keduanya kehabisan nafas mereka baru sadar.


Axel buru buru melepaskan pegangannya pada pinggang Alexa dengan muka yang nampak merah merona dan menahan malu karena kebabalasan.


"Nona Alexa, saya... saya... minta...


belum selesai mengucapkan Alexa yang sama sama blousing menutup mulut Axel dengan jarinya dan berucap.


"jangan minta maaf karena itu menyakitiku. Aku juga menikmatinya karena sebenarnya aku juga menyukaimu sedari dulu," ucap Alexa dengan menahan malu sambil menundukkan pandangannya.


Axel masih terbengong-bengong dan tidak percaya dengan pendengarannya. Apakah kalimat yang keluar dari mulut Alexa, dan terdengar oleh telinganya itu nyata?


"Benarkah, apa yang kau katakan, karena selama ini aku takut kalo perasaanku bertepuk sebelah tangan, jadi aku berusaha menyimpan dan mengubur perasaanku." ucap Axel yang serasa mimpi, kalau orang yang selama ini dia taksir ternyata juga menyukainya.


"boleh aku memelukmu?" tanya Axel yang diangguki oleh Alexa.


...


sementara itu Lou dan Charl sudah duduk dihadapan dokter Sarah.


"Charles, siapa yang sakit, kayaknya kamu dari dulu jarang sekali sakit, tanya Sarah.

__ADS_1


"bukan aku yang sakit tapi istriku, perempuan yang duduk di sebelahku, dia muntah muntah dan pucat wajahnya, ucap Charl menjelaskan.


"eh Charl, kapan kamu menikah, kok undangan belum sampai ke aku? dasar teman tidak ber peri pertemanan, " canda Sarah.


"Bagaimana keadaanmu nona, apa yang anda rasakan?" tanya Sarah pada louisa.


"hanya mual kok dok, tadi sempet muntah juga saat membau makanan,mungkin hanya masuk angin atau kecapekan saja.


"coba saya periksa dulu, ayo nona silahkan rebahan dibed dulu!" ucap sarah.


"pernah punya riwayat mag nona?


kapan terakhir kali nona haid?" tanya Sarah lagi.


"selama ini sih saya tidak pernah sakit mag, kalau untuk haid terakhir bulan kemarin, eh... iya sekarang ini harusnya waktu kedatangannya." ucap Lou sambil berfikir.


"Charles terlihat menyunggingkan senyum dari bibirnya, ada perasaan senang dan bahagia.


Lou diantarkan menuju poli kandungan. Tubuh Lou rasanya lemas saat dokter menyarankan agar ke dokter kandungan, ingin sekali dia menangis dan menumpahkan segala keresahan hatinya.


"Bagaimana nasib diriku seandainya aku benar hamil? aku tidak mau seperti mamah, yang tidak disukai ibu mertuanya bahkan diusir keluar dari rumahnya. Ya Tuhan, apa rencanamu dibalik semua ini, mengapa kilas balik hidup mamah seperti tergambar dalam hidupku." batin Lou berteriak.


Lou merebahkan diri di bed, dr Lusi membuka blazer Lou dan mulai mengoleskan gel ke perutnya. kemudian dokter mulai menggerakkan alat di atas perut Lou, terpampang jelas di monitor 4 dimensi gambar kantong dan sebuah biji kecil di sana.

__ADS_1


setelah selesai dokter membersihkan perut Lou dengan tisu dan mulai duduk di kursinya.


"selamat Tuan Charl, nona hamil dan janin sudah berusia dua Minggu."ucap dokter Lusi sambil menjabat tangan Charl dan Louisa.


setelah dokter memberikan hasil scan dan resep vitamin mereka berdua pun mohon pamit pada dokter Lusi.


Selama dalam perjalanan Lou sangat sedih, berbeda dengan Charl yang selalu menyunggingkan senyum dari bibirnya. Charles melirik perempuan yang ada di sebelahnya, ingin sekali dia memeluk tapi dia sedang mengemudikan mobil.


Lou nampak membuang nafas kasar, membuat Charl kembali melirik.


"Louisa, mengapa kamu tampak murung? bukankah harusnya kamu senang karena kita mau punya keturunan," ucap Charl sambil membelai rambut panjang isterinya.


Bukannya menjawab Lou malah menangis, air matanya mengalir tanpa diminta, kemudian dia memalingkan kepalanya ke arah jendela agar Charl tidak tahu kalo ia menangis.


...


sesampainya di mansion, Lou berusaha berjalan mendahului Charl, dan dengan cepat Charl menyusul setelah memarkirkan mobilnya di garasi.


Lou langsung menuju kamar mandi dan mengunci pintunya. dia menyalakan shower dan mengguyur badannya sambil menangis tersedu-sedu.


"Tuhan mengapa ini terjadi padaku, mengapa dulu Kau tidak ambil sekalian nyawaku. sehingga aku bisa tenang dengan kedua orang tuaku di sana!" hiks...hiks...hiks.


Charles membuka pintu kamar mandi namun terkunci dari dalam. Charles merasa takut terjadi sesuatu pada Lou, dia mengetuk pintu namun tidak ada sahutan. Lou duduk lemas di lantai.

__ADS_1


Hampir saja Charl mendobrak pintu kalau Louisa tidak keluar.


...


__ADS_2