
#Kalau ditanya mengapa aqoh menulis novel, jawabannya belajar, penasaran dan mencari pengalaman, Sebenarnya sih lebih suka baca, tapi kadangkala ingin menuangkan ide yang ada dikepala.
Apakah mendapatkan banyak uang? ha...ha...ha...tentu saja tidak. "padahal kan karya kontrak," iya tapi kebijakan platform berubah terus. membuosankeun kadangan.
dari itu kadang dukungan dari pembaca entah sekedar itu kritik saran yang membangun, like, rank sangat diharapkan, setidaknya tidak dapat money tapi dapat kepuasan 😬😬😬##
#####
Hujan turun dengan derasnya sore hari ini, anginpun bertiup dengan kencangnya. Naura dan Dimas menikmati segelas coklat panas wafle renyah di dalam kaffe, niat hati ingin segera pulang menuju rumah namun langit kurang bersahabat dan menurunkan hujan yang begitu deras sehingga menghalangi keinginan mereka berdua.
Hampir dua jam menunggu, tapi hujan tak kunjung reda, Dimas mengajak Naura keluar dari kafe kemudian mengelilingi pertokoan yang ada di tempat masuk untuk membeli sweater untuk Naura dan dirinya, juga membeli beberapa baju couple yang bertuliskan WBL sebagai kenang-kenangan dan oleh oleh khas daerah tersebut.
Sudah lelah mereka berkeliling, hujan masih belum reda malah semakin deras. udara dingin membuat Naura gelisah apalagi saat berusaha menghubungi kakaknya ternyata ponsel tidak ada signal. Naura tetap mengirim pesan lewat aplikasi WA, setidaknya saat signal datang pesan bisa terkirim.
__ADS_1
Dimas juga terlihat sedang berkutat dengan ponselnya, dia tidak berhasil menghubungi beberapa nomer dari papa, Adek, termasuk Varo. karena kondisi semakin gelap Dimas berusaha berselancar mencari penginapan, yang ternyata juga tidak bisa terhubung.
"Nau kita cari penginapan atau hotel saja ya, sudah malam hujan belum juga reda, nanti kalau hujan reda kita bisa pulang," ucap Dimas yang akhirnya memilih bertanya pada pedagang di area pertokoan itu lokasi hotel terdekat.
Dengan menggunakan payung yang dibeli mereka berjalan ke arah parkiran. walaupun menggunakan payung tetap saja mereka masih basah karena derasnya hujan dan berpadu dengan tiupan angin .Dimas membuka pintu kemudian membuka kunci pintu, setelah itu membukakan pintu untuk Naura masuk ke dalam mobil.
Jalan raya benar benar tergenang dengan air hujan, mobil berjalan dengan pelan menuju hotel X, biasanya hotel hanya ditempuh dalam waktu sepuluh menit dari WBL tapi sekarang membutuhkan waktu sampai dua puluh menit.
Mereka sampai di lobi hotel tersebut.
Dimas langsung memesan dua kamar , tapi lagi lagi kamar penuh dan hanya tersisa satu kamar. Dengan kondisi sekarang yang sudah malam dan hujan angin yang begitu derasnya Akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal dalam satu kamar.
"Naura, kamar yang tersedia hanya tinggal satu, sedangkan untuk mencari hotel lagi sepertinya tidak mungkin, kamu tidak apa-apa kan kalau kita samu kamar, biar aku tidur di sofa," ucap Dimas saat mendekat ke arah Naura yang masih duduk di lobi hotel.
__ADS_1
"Ya bagaimana lagi, kondisi memang tidak memungkinkan kita cari hotel lagi kak, eh... tapi kakak tidak boleh macem macem loh ya!"
Jawab Naura yang sebenarnya bimbingan harus satu kamar dengan laki laki. karena selama ini dia belum pernah tidur satu kamar dengan laki laki kecuali dengan kak Varo.
"Aku tidak macem macem, hanya satu macem kok," sahut Dimas sambil tersenyum.
***
Varo benar benar kalang kabut, saat menghubungi ponsel Naura tapi ponsel Naura tidak bisa dihubungi begitupun dengan nomer ponsel Dimas. dihubungi beberapa kali juga jawaban sama, " nomer yang anda tuju berada di luar area."
Varo berusaha menenangkan diri sendiri, dia yakin kalau Dimas itu mampu melindungi Naura, adik kesayangannya. Varo tidak berpikiran macam-macam yang dia takutkan hanya ada orang-orang yang punya niat jahat terhadap keluarganya dan mungkin akan melukai mereka berdua.
###
__ADS_1
tbc
yuk baca juga novel terbaru akuh yang berjudul ' Bukan Suami Kontrak'