Selendang Di Atas Ranjang

Selendang Di Atas Ranjang
140


__ADS_3

Naura memiringkan badannya ke arah Dimas, memandang takjub lelaki tampan dihadapannya yang salah tingkah karena Naura hanya memandang tanpa berucap sedikitpun.


"Ka...kamu tidak suka yah? karena rumahnya terlalu kecil," ucap Dimas yang mulai gugup dengan tingkah Naura yang diam dan terus memandangnya.


"Nau suka kok, kakak tenang saja, Nau hanya takjub saja sama kak Dimas, karena kakak kan masih kuliah, kok bisa beli rumah pake duit sendiri," jawab Naura menatap samping wajah Dimas yang termasuk golongan tampan.


Dimas ikut memiringkan badan sehingga wajahnya menghadap tepat ke wajah Naura, sesaat dia memandangi wajah cantik Naura kemudian meraba dengan jemarinya mulai dari wajah, hidung dan terakhir pada bibir, Nau yang mendapatkan perlakuan seperti itu wajahnya langsung merona dan mengalihkan pandangannya.


"Ish... kakak apaan sih, pegang pegang wajah Nau, geli tahu!" ucap Nau sambil berusaha menghindar dari tangan Dimas. Dimas tersenyum simpul melihat istri yang benar-benar masih kekanakan dan polos.


"kamu cantik Nau, gemes kakak lihatnya, jadi pingin cium nih!" goda kak Dimas.


" lah... kok jadi mesum, terus gimana ceritanya ini rumah?" tanya Nau yang masih penasaran asal muasal rumah yang sedang mereka singgahi ini. Dimas hanya tersenyum menanggapi rasa penasaran Naura.


" Jadi Kakak itu mulai berpikir untuk memulai membuka usaha mencari uang sendiri sejak mengenal Naura, saat itu kamu masih awal kelas 3 SMP, kalau kamu ingat Keke pernah memperkenalkan Nau pada kakak sesaat sebelum pertandingan basket dengan team Varo, saat pertama melihatmu saat itu, kakak sudah terpesona dengan penampakan santai dan jauh dari kata ganjen karena biasanya cewek kalo melihat kakak pasti langsung kegenitan.

__ADS_1


" itu mah kepedean kak," sahut Naura yang langsung diam saat Dimas mengancam tidak melanjutkan cerita lagi.


" Eh mungkin kita memang jodoh ya Nau,karena Tuhan mempertemukan kita kembali saat tanding karate, kamu tahu Nau, kak Dimas semakin menyukaimu saat melihat kamu sebagai gadis perkasa," ucap Dimas yang mulai mendekatkan tubuhnya ke arah Naura, kemudian menyingkirkan rambut yang sedikit menutup kening dan memainkan rambut panjang Naura.


"Nah saat aku merasakan perasaan lebih dan sudah jatuh cinta pada Nau, maka kakak berfikir untuk cari uang sendiri, berani pacaran maka harus berani punya uang itu prinsip kakak maka kakak membuka usaha ini, awalnya modal di dapat dari uang bantuin papi kerja di perusahaan saat pulang sekolah dan dapat bayaran seperti pekerja lainnya.


"Uang bayaran ditambah uang saku kakak tabung, setelah setahun dan uang tabungan sudah cukup, kakak membeli tempat untuk buka usaha dan sampai sekarang masih usaha masih jalan.


"Rencananya sih kak Dimas mau lamar Nau kalau sudah lulus kuliah, eh tapi Tuhan memang baik belum lulus sudah menikahi Naura.


"Eh... ka...kalau Nau sih terserah kak Dimas saja, ehmmm....tapi maaf, Nau tidak bisa masak, nyuci, beres beres rumah, karena dari dulu momy tidak mengizinkan Nau untuk mendekati dapur," Jawa Nau malu malu dengan wajah sedih.


Dimas tertawa dengan renyahnya, mendengar Jawaban Naura yang begitu polosnya.


"Nau, kakak cari istri bukan pembantu ya, sayang, jadi nanti kita kerjasama merawat rumah ini, kalau perlu kakak cari orang yang membantu kita membersihkan rumah," ucap Dimas yang sudah mendekat bibirnya ke kening Naura

__ADS_1


cup," suara bibir Dimas saat mengecup kening Naura. Sebenarnya Naura


kecupan bergeser ke mata, hidung, pipi dan berakhir mendarat ke bibir, begitu kaku ciuman Naura, karena ini ciuman pertama baginya. Naura mendorong kepala Dimas dan cepat cepat mengambil udara dari hidung dan mulutnya ke rongga dadanya dengan nafas tersengal sengal .


Dimas tersenyum melihat Naura.


"Lain kali kalau ciuman itu ya bernafas juga," ucapnya sambil menempelkan kening ke kening Naura.


"Ini pengalaman pertama Naura kak," ucapnya malu malu.


"terima kasih karena menjadikan aku yang pertama, aku mencintaimu Nau." sahut Dimas yang kembali menikmati bibir seksi Naura dengan lembut dan kemudian mengajarinya untuk bernapas.


"kringg... kringg... kringg," dering bunyi gawai Naura berhasil membuyarkan aktivitas mereka.


"aku angkat telepon dulu Kak," ucap Naura yang diangguki oleh Dimas.

__ADS_1


...


__ADS_2