Selendang Di Atas Ranjang

Selendang Di Atas Ranjang
131


__ADS_3

"Cantik loh kak Dimas, kok dianggurin," suara Naura setelah melihat Rachel pergi meninggalkan resto. Naura mulai menikmati hidangan ayam goreng nasi putih, sambel,bsayur asem dan kerupuk, tak lupa es lemon tea sebagai pelengkap.


"Bagaimana mau melirik ke yang lain, bila ratu bidadari ada dihadapannya," sahut Dimas yang juga sedang menikmati kudapan sama persis dengan yang dipesan Naura sambil terus menikmati wajah Naura yang sedikit manyun bibirnya. Dimas berharap Naura cemburu pada Rachel, karena itu berarti Naura juga mencintainya.


Naura menyelesaikan makan siangnya, begitupun dengan Dimas. Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke wahana berikutnya yaitu rumah hantu, Dimas memang sengaja ingin mengajak Naura melihat suasana yang mencekam di dalam ruangan itu, di samping itu Dimas juga punya niatan ingin memper erat hubungannya dengan Naura


Siapa tahu Naura akan takut dengan hantu, dengan begitu saat melihat hantu dia akan memeluk ku," pikir Dimas saat mengajak Naura ke rumah hantu itu.


Setelah mengantri beberapa saat mereka berdua mulai memasuki ruangan yang gelap dengan pencahayaan yang minim, ternyata rumah hantu ini agak beda dengan rumah hantu biasanya, dengan setingan ruang kamar mayat rumah sakit, benar benar membuat bulu kuduk Naura merinding.


Naura mulai merapatkan posisinya pada Kak Dimas, menggenggam erat lengan Dimas, saat melewati ruangan sempit dengan menyusuri lorong demi lorong mengikuti petunjuk arah, saat melewati ruangan yang agak luas,kondisi gelap dan terlihat samar ada mayat di atas bed terlihat bergerak hendak berdiri, Naura menjerit dan memeluk tubuh Dimas, Dimas tersenyum senang rencananya berhasil.


Dimas berusaha menenangkan Naura dengan mendekap erat kemudian berbisik," itu hanya boneka, sayang!"

__ADS_1


Tapi kenapa seperti beneran, aku tadi lihat loh mayat yang di bed sana mau berdiri, kenapa sekarang tidak ada," ucap Naura sambil mengedarkan pandangannya.


"Ayo kak, kita keluar dari ruangan ini," ucap Naura sambil mencari petunjuk arah, namun tidak ditemukan.


"kak kenapa petunjuk arahnya tidak ada?" ucap Naura yang diikuti pandangan Dimas memindai setiap sudut ruangan namun tidak terlihat ada petunjuk.


"Ya sudah ayok kita susuri dinding pembatas ini, pintu keluar pasti ada di salah satu sisinya." ucap Dimas yang melepas pelukan dan menggandeng tangan Naura,


Naura semakin ketakutan karena jalan keluar tidak juga ditemukan, dia semakin mendekap erat tangan Dimas. Saat mengelilingi dinding untuk mencari jalan keluar dan sampai dipojokkan tiba tiba terjatuh sesosok mayat menimpa tubuh Dimas, bukan Dimas yang berteriak namun Naura berteriak sangat keras.


Begitu cahaya di pintu keluar terlihat , gantian Naura yang menarik tangan Dimas agar keluar dari rumah hantu sialan itu.


"Kak ayo cepetan kita keluar noh... Pintu keluarnya," ajak Naura yang menggandeng tangan Dimas agar mengikutinya keluar dari sana. Dimas hanya tersenyum senang karena rencananya berhasil menjadikan Naura mendekap, memeluk dan menggandeng dirinya seperti saat ini.

__ADS_1


"Huhhhh... Akhirnya bisa terbebas dari tempat sialan itu, kenapa tempat itu bisa lebih menakutkan dari pada rumah hantu yang pernah ku kunjungi!" gumam Naura yang masih terdengar oleh kak Dimas.


"Gimana nih... Masa jagoan sama hantu takut, padahal sama penjahat saja tidak takut," goda Dimas yang membuat Naura mencubit pinggang lelaki yang masih berdiri di depannya.


Mereka duduk di ayunan yang di sediakan di pinggir pantai, tempat tujuan terakhir di WBL. Naura yang menikmati semilir angin dikejutkan dengan rasa dingin dipipi, ternyata Dimas membawa cup yang berisi juz mangga dan juz jambu dan menempelkan ke pipi Naura.Naura menerima es dan menikmati segar dan dingin juz mangga.


Dimas duduk di sebelah Naura, bukan suasana laut yang dilihat, namun mengamati wajah bersih tanpa riasan makeup dengan rambut dikuncir kuda yang sudah tidak rapi dengan anak rambut tertiup angin yang terlihat sangat cantik.


"Terimakasih kak untuk hari ini, aku senang sekali hari ini." ucap Naura yang matanya masih memandang luas laut di depannya.


"Kenapa harus berterimakasih sayangku, karena itu adalah kewajiban ku sebagai kekasih untuk selalu membahagiakan dirimu,"


ucap Dimas yang membuat Naura blousing.

__ADS_1


....


__ADS_2