
Bug ..
bug...
bug...
Tiga kali bogem mentah mengenai pipi Dimas. darah segar mengalir dari hidung dan sudut bibirnya.
Naura yang berada di dekat Dimas dengan cepat menghalangi kakaknya agar menghentikan pukul ke wajah Dimas.
"Kak !!! apaan sih aku pulang malah disambut bogem, kak Dimas tidak salah, mengapa kakak memukulnya!" seru Naura yang masih berdiri tegap di depan tubuh Dimas.
"Minggir kamu Naura, akan kuhabisi lelaki bejat seperti dia, bisa bisanya mengajak menginap dalam satu kamar di hotel," ucap Varo sambil menahan emosi karena masih ingin menonjok muka Dimas. dengan cepat Naura menggandeng tangan Varo dan mengajak masuk ke rumah.
"Dengarkan dulu penjelasan kami jangan asal main tonjok kak Varo, kasihan Kak Dimas noh ancur mukanya, kakak duduk sini dulu, biar Naura yang urus luka kak Dimas," ajak Naura ke ruang tamu dan duduk di kursi empuk yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
Dengan cepat Naura mengambil kotak p3k yang ada di ruang keluarga dan meminta bik Siti mengambil es . Naura menyuruh Dimas duduk dikursi yang berhadapan dengan Varo kemudian membersihkan luka dengan kapas yang sudah ditetesi alkohol, setelah itu mengompres lukanya dengan es yang di ambilkan bik Siti.Dimas sedikit meringis saat alkohol menyentuh luka karena terasa perih.
"Bik minta tolong buatkan teh camomile manis buat bertiga ya," ucap Naura
"Siyap non," jawab bik Siti yang langsung menuju ke dapur.
Setelah semuanya selesai Naura mulai membuka suaranya.
"Kak Varo bukan maksud kami mau menginap di hotel kemarin itu, tapi memang keadaan yang memaksa kami harus ada dalam satu hotel kalau , Sore hari saat kami mau pulang hujan derasnya dan angin bertiup kencang sehingga menjadikan kami mengurungkan niat untuk pulang, kami sudah berusaha ke beberapa hotel tapi hampir semuanya penuh, beruntung saat kami ke hotel satunya masih tersisa satu kamar, jadi kami memutuskan untuk menginap. dan kami benar-benar tidak melakukan hal yang aneh lagipula kami tidur terpisah, kak Dimas di Sofa aku di ranjang." penjelasan dari Naura panjang dan lebar, tapi sepertinya kakaknya tidak percaya.
Dimas menghela nafasnya kemudian mulai bersuara
"Varo, Sebenarnya apa yang kamu inginkan?" tanya Dimas yang gemas melihat Varo yang tidak percaya pada adiknya sendiri.
"Dimas kamu harus menikahi Naura secepatnya," Jawab Varo yang membuat tubuh Naura bergetar hebat kemudian dia berteriak dengan lantang,
__ADS_1
" Kakak yang benar saja, aku masih sekolah kelas 2 SMA masa aku harus menikah sekarang. Kakak yang wajar dong dalam berpikir jangan seenaknya saja main menikahkan kami, memang gampang urusan menikah. pokoknya Naura belum mau menikah,"
" Nau percayalah, itu yang terbaik buat kalian, saat mommy dan papi kembali dari Jepang Varo akan minta mereka untuk menikahkanmu," sanggah Varo yang kekeh akan tetap menikahkan mereka.
"Ya Tuhan, kenapa jadi begini, pokoknya Naura belum mau menikah hu...hu...hu...," ucap Naura sambil menangis dan berlari menuju ke kamarnya. sementara Varo hanya memijit pelipisnya yang terasa pening karena dari semalam tidak bisa tidur.
"Aku bersedia menikahi Naura, aku akan bertanggung jawab terhadap apa yang kami lakukan walaupun sebenarnya jauh dari perspektif kamu," ucap Dimas pada akhirnya.
"Varo aku mau menemui dan bicara dengan Naura dahulu,"
Dimas menunju ke kamar Naura di lantai dua, setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, Dimas melangkahkan kakinya mendekati ranjang dimana Naura masih menangis dan membenamkan kepalanya pada bantal.
"Naura aku akan menikahimu, Kamu tidak usah khawatir , masih bisa kok sekolah melanjutkan keinginan dan cita-citamu, untuk mengejar ilmu hanya status kita saja yang sudah menikah
"Yang benar saja kak, kita baru pacaran dua hari masak langsung nikah, terus bagaimana nasib masa depan kita."
__ADS_1
"life must go on, sayang,"