Selendang Di Atas Ranjang

Selendang Di Atas Ranjang
lima puluh enam


__ADS_3

Bik Siti, yang mendengar semua percakapan itu ikut menangis sesenggukan.


" kasian sekali kamu nyonya Louisa, padahal kamu perempuan yang baik, tapi kenapa nyonya besar tidak menyukaimu"


di dalam kamar Lou menangis dengan keras seolah ingin melampiaskan semua kemarahannya. Lou mengeluarkan tas besar dan mulai memasukkan beberapa bajunya ke dalam tasnya. setelah itu dia mandi masih dengan keadaan menangis terisak-isak.


hiks...hiks...hiks...


"*mamah apa yang harus aku lakukan, ternyata orang tua Charl yang menabrakmu, aku tidak ingin melihat mereka yang telah menyebabkan mamah pergi meninggalkan aku sendiri.


atau haruskah aku memaafkan dan tetap berada di sini. tapi mereka sangat membenciku, aku tidak bersalah, tapi kenapa mereka menyalahkan aku. bahkan mereka memberikan banyak uang agar aku meninggalkan Charl.


Aku memang harus pergi meninggalkan rumah ini . tidak ada kesempatan bagiku untuk terus berada di sini, Charles dengan kebersamaan sekian lama, aku akhirnya bisa membuka hatiku untukmu, tapi takdir berkata lain, mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk kita yaitu berpisah.


aku akan merawat anakmu dengan baik, Aku akan pergi menjauh darimu dan mencari jalan hidupku sendiri.


" biarlah kalau memang kita berjodoh suatu saat nanti pasti kita akan bertemu lagi . kamu tahu Charl kita memang berbeda, jurang yang ada di depan kita begitu curam dan dalam, tembok yang melapisinya pun begitu kokoh sehingga sangat sulit untuk aku ditembus*.


" selamat tinggal Charl" bunyi tulisan di atas kertas yang ditinggalkan Lou di atas meja.


Lou sudah selesai berbenah. semua pakaian, uangnya dan surat penting lainnya termasuk buku nikah miliknya sudah di masukkan ke dalam tas. Lou mengambil ponsel dari saku bajunya kemudian dia menelepon taksi online.

__ADS_1


*Aku tidak tahu, aku akan pergi ke mana.


Yang jelas malam ini aku ingin pulang ke rumah kontrakan. Besok pagi aku akan pergi meninggalkan kota ini, biarlah kuliahnya sementara cuti dulu.


suatu saat nanti jika memang Tuhan masih memberikan kesempatan, aku akan melanjutkan kuliah dan aku akan menjalaninya dengan sungguh-sungguh.


"Charl ku rasa cukup sudah petualanganku denganmu, selamat tinggal Charles, walaupun aku merasa mulai menyukaimu dan mencintaimu karena perhatianmu selama ini, tapi tidak dengan keluargamu." ucap Lou sambil memandang kamar mewah Charl untuk yang terakhir kali*.


Lou tidak ingin berlama-lama lagi, dia melangkahkan kakinya keluar dari rumah Megah milik Charl.


Bik s Siti yang melihat kepergian Lou berusaha untuk mencegah, untuk pergi dari rumah


"Cerita pada tuan seperti yang kamu lihat, dia pasti akan mengerti, terima kasih bik, bibik sudah seperti Ibu buat Lou. aku pergi dulu bik, selamat tinggal," jawab Lou dan memeluk bik Siti.


..


Charles berusaha mempercepat kerjanya, agar bisa pulang hari ini juga. dia bekerja siang dan malam agar bisa segera kembali ke rumah dan bertemu dengan istri dan calon anaknya.


"huh... akhirnya semua pekerjaan selesai juga, aku bisa pulang dengan penerbangan nanti Sore, ahhh Lou, aku kangen sama kamu, kamu baik-baik saja Khan, sabar yah sayang, aku akan pulang hari ini juga! gumam Charl yang sedang membayangkan wajah cantik istrinya tersenyum lembut.


pukul tujuh malam Charl sampai di mansion miliknya, kemudian membuka pintu depan. tidak biasanya rumah sepi, karena biasanya Lou sudah pulang dan menyiapkan makan malam.

__ADS_1


Charles berjalan ke arah kamar, sesampainya di depan pintu, dia berhenti sejenak, dia ingin memberikan kejutan pada istrinya.


Charles membuka gagang pintu dengan pelan, kemudian masuk ke kamar, namun dia kembali terheran, kamarnya terlihat gelap dan sepi, Charl menyalakan lampu, dilihatnya kamar kosang, Charl mencari Lou di kamar mandi juga tidak ada.


Charles mulai cemas, dia menuruni tangga dan menuju ke dapur, tapi juga sepi.


"bik...bik Siti," panggil Charl dengan suara keras.


bik Siti yang sedang menyetrika baju kaget, buru buru mematikan setrika dan berlari menuju dapur.


"iya tuan, jawab bik Siti dengan nafas tersengal.


"di mana nyonya Louisa, bik," tanya Charl, wajah bik Siti langsung memucat dan tergagap.


"A..an...anu tuan..., nyo...nyonya pergi dari rumah kemarin," gagap bik Siti dengan wajah pucat pias dan muka menunduk, takut melihat wajah tuannya.


"Lou pergi ke mana bik?" bentak Charl.


Bik Siti menceritakan semua kejadian kemarin sore, dengan detail dari mulai kedatangan nyonya besar, sampai perginya nyonya Louisa.


...

__ADS_1


__ADS_2