
tepat pukul 10.00 Varo meninggalkan kantor hari ini ada jadwal kuliah, setelah pamit dengan sekretarisnya Varo bergegas meninggalkan ruangan itu, bagaimanapun dia harus mengejar waktu agar tidak terlambat sampai di kampus dan dapat mengikuti perkuliahan dengan baik .
Entah mengapa suasana pagi menjelang siang ini terlihat mendung yang cukup tebal, awan cumulonimbus seolah memberi tanda bahwa sebentar lagi akan turun hujan dengan deras.
Varo menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena dia harus melewati pasar yang tentu saja ramai dengan mobil yang berlalu lalang, apalagi banyak kendaraan roda dua yang menyerobot jalan menjadikan mobilnya bergerak lebih lambat dan tentunya perjalanannya semakin lama.
Benar saja baru setengah perjalanan hujan turun dengan derasnya, saat melintas di depan sebuah halte terlihat seorang perempuan paruh baya berteriak minta tolong pada orang disekitarnya, karena tasnya dijambret, tapi karena sedang hujan suaranya tidak begitu terdengar. ibu tersebut nampak basah kuyup karena terkena air hujan karena berusaha berlari mengejar penjambret.
Varo menghentikan mobilnya mendadak karena perempuan itu tiba tiba menyebrang jalan tanpa tengak tengok dulu. jantung Varo serasa mau copot dan dia segera keluar dari mobil setelah sebelumnya mengambil payung dari jok belakang.
Varo menghampiri perempuan yang terduduk di jalan dalam kondisi basah kuyup dan menangis sesenggukan.
"Maaf ibu tidak apa apa kan, apa ada yang luka? sebaiknya kita ke tepi jalan dulu Bu, ini jalanan jadi macet!" ucap Varo sambil menggandeng tangan Ibu tersebut ke halte seberang jalan setelah itu Varo menepikan mobilnya dan kembali menghampiri perempuan dengan wajah memelas dan terlihat kedinginan karena baju yang dikenakan basahbasah kuyup.
"Ibu tidak apa apa nak, maaf tadi ibu tidak hati hati, berlari sembarang karena tadi tas ibu dijambret, yah mungkin uang itu belum jadi Rizki ibu, uang itu rejekinya si penjambret," ucap ibu itu dengan nada getir.
"Iya Bu, sabar saja ya, pasti nanti Tuhan akan membalas dengan memberikan ganti yang lebih banyak. oh iya Bu, mari saya antar pulang," Ucap Varo
"Terimakasih, apa tidak merepotkan nak, ibu bisa pulang sendiri,"
"tidak bu, ayo kita masuk dulu ke mobil!" ucap Varo sambil membuka pintu mobil belakang untuk ibu itu.
__ADS_1
"Alamat ibu di mana?" tanya Varo yang langsung tancap gas menuju alamat yang disampaikan oleh ibu tersebut.
Varo merasa tidak asing dengan rumah ibu tersebut, sepertinya dia merasa pernah ke rumah ini tapi kapan, dia sendiri lupa.
" Mari mampir dulu nak, hujan masih turun dengan lebatnya, minumlah sesuatu yang hangat dulu agar tidak masuk angin." ucap Bu Ratih perempuan yang Varo antarkan tadi.
"em... baiklah Bu Ratih, saya mampir sebentar," ucap Varo sambil mengikuti langkah Bu Ratih menuju ruang tamu sederhana dengan sofa bulu yang nampak sudah usang, tapi terlihat sangat bersih.
"Ibu masuk dulu, mau ganti baju." pamit Bu Ratih meninggalkan Varo kemudian melangkah ke ruang tengah menuju kamar anaknya meminta tolong membuatkan jahe hangat untuk tamu dan dirinya.
Varo masih duduk dengan menunduk memainkan ponselnya, dia sedang menghubungi David, dan memberitahu bahwa di tidak jadi berangkat kuliah siang ini karena ad sesuatu.
" Silahkan diminum tuan, mumpung masih panas agar badan tetap hangat karena cuaca dingin saat ini!" ucap gadis itu sambil meletakkan cangkir di atas meja yang ada di hadapannya.
"Sita"
"Varo" ucap mereka bersama an. Sita yang masih berdiri lantas ikut duduk di sofa kemudian menanyakan kepada Varo mengapa bisa datang bersamaan dengan bundanya.
Varo menceritakan kilas balik pertemuan dengan bundanya Sita. mereka akhirnya ngobrol.
###
__ADS_1
Sementara itu di sekolah Naura menatap teman temannya yang sedang menginterogasinya, matanya terlihat jengah mendengar pertanyaan dari sahabatnya.
"Nau, ayo cerita ngapain aja saat malam pertama," tanya Lusi yang mulai kepo dengan pernikahan sahabatnya.
" ngapain? ya tidurlah!" jawab Naura dengan malas.
"Ayolah Nau, cerita dong apa yang dilakuin sama kakak gue, masak iya gak ngapa-ngapain secara kan Lo sudah sah jadi istri kakak gue, sudah belah duren belum?" sahut Naura yang tidak kalah kadar ke kepo annya dari Lusi.
"pokoknya cerita, aku penasaran banget, cepetan sih ceritanya," sahut Lusi yang gemas dengan sikap Naura yang datar datar saja.
"eh emang apaan yang ada di otak kalian berdua? haissss ...iya iya gue ceritain," jawab Naura yang melihat Keke sudah melotot mendengar jawaban Naura
" malam pertama gue dengan kak Dimas ya ... emm... kami langsung tidur karena kami kecapean setelah sesiangan suruh jadi monumen," jawab Naura santai yang memanen jitakan dari teman temannya karena gemas mendengar jawaban polos Naura.
" maksudnya apa kalian sudah belah duren?" tanya Keke yang masih kesal.
"Belah duren Apaan sih! ngomong yang jelas gih, kak Dimas belum pernah beliin aku duren," sahut Naura bingung dengan pertanyaan Keke.
"ya Tuhan, aku lupa Naura masih polos Lus, mungkin karena kebanyakan berantem jadinya gini nih" gemas Keke pada jawaban Naura.
"Kamu sudah pernah ciuman dengan kak Dimas?" tanya Lusi yang sadar dengan kepolosan Naura.
__ADS_1
Naura yang mendapat pertanyaan itu pipinya memerah sambil tersenyum kemudian mengangguk perlahan karena malu.
"Ke, sepertinya sobat kita ini baru sekedar ciuman deh belum sempat belah duren," lanjut Lusi memberitahu pada Keke yang sama sama geleng geleng kepala.