Selendang Di Atas Ranjang

Selendang Di Atas Ranjang
lima puluh lima


__ADS_3

"Kalo seperti ini pekerjaan tidak akan selesai, ayo kita selesaikan kemudian pulang!"ucap Lou menghentikan aktivitas mereka. dengan malas Charl berhenti dari aktivitas panasnya dengan Lou dan memulai kembali berkutat dengan kertas yang harus di pelajari dan di tandatangani.


pukul tujuh malam louisa dan Charles hendak pulang ke rumah dengan mobil mewahnya. sebelum pulang Charl membelokan mobil ke sebuah tempat yang mana tempat tersebut memperlihatkan kondisi malam di kota Surabaya. "tempat ini sangat indah Charl, aku baru tahu ada tempat seperti ini di Surabaya." ucap Lou sambil memandang jauh ke depan.


Charles membukakan pintu dan menuntun Lou agar masuk ke kafe di atas bukit, mereka mencari tempat duduk yang dekat dengan jendela agar bisa memandang kelap kelip lampu di kota Surabaya. Charles memesan kopi Vietnam, sedang Lou memesan jus alpukat.


" Charles, siapa Tiara itu bagimu, sepertinya hubungan kalian sangat dekat dulunya?" tanya Lou sambil memandang ke luar jendela.


"Apa kamu cemburu, sayangku ha...ha...ha, dia hanya masa lalu bagiku, dan kamu juga anak kita adalah masa depanku," jawab Charl memegang tangan Louisa.


"Ish... apaan sih, Aku tidak cemburu, hanya kasihan melihat wanita cantik yang diabaikan," ucap Lou.


"Lou aku memberikan kartu kredit, itu untuk memenuhi kebutuhanmu, mengapa tidak pernah kau gunakan? apa kau mengira aku miskin dan jadi bangkrut kalo kamu gunakan." ucap Charl penuh penekanan karena ia tidak pernah menerima tagihan penarikan dari kartu kredit Lou, kecuali bayar kuliah.


"Aku tidak mau berhutang banyak padamu,"


sahut Lou.


"Kamu tidak berhutang apapun padaku, yang ada aku berhutang banyak kebahagiaan padamu, kamu memberikan aku banyak kebahagiaan yang belum pernah ku rasakan. terimakasih sayang," ucap Charles mengecup kening louisa.

__ADS_1


"Lou tersenyum mendengar pernyataan dari Charl," Ada terselip rasa bahagia dihatinya.


pukul setengah sembilan mereka sampai di rumah, mereka bergegas menuju kamar.


Lou terlebih dahulu mandi, kemudian disusul Charl.


"Yang, kalau lagi hamil boleh making love gak ya? tanya Charl pada louisa yang masih memakai handuk


"Aku juga tidak tahu," jawab Lou datar.


Charles mengambil ponsel dan berbicara dengan seseorang, kepalanya mengangguk dan wajahnya tersenyum senang. "yesss" ucapnya.


Charles dan Lou melakukan olahraga dengan perlahan dan lembut. karena takut Charl hanya melakukan sekali padahal biasanya bisa tiga sampai empat kali.


*Tiga bulan berikutnya*


Charles pergi ke luar kota untuk melihat pembangunan proyek mall di kota Y. Lou tidak diizinkan untuk ikut, jadi dia berangkat dan pulang kerja diantar supir.


Lou hanya diizinkan bekerja sampai jam lima sore, setelah itu dia harus pulang. pukul setengah enam dia sampai ke rumah.

__ADS_1


Lou masuk dan betapa terkejutnya ia, saat melihat mertuanya duduk di sofa ruang tamu.


Lou menyodorkan tangan hendak bersalaman dengan Mama mertuanya tapi tidak ditanggapi. dengan menyorotkan pandangan tidak suka mamah mertua meminta Lou untuk duduk.


"Eh... perempuan miskin, tidak tahu diri! berapa uang yang kamu minta agar kamu mau melepaskan dan meninggalkan anak saya, Apakah segini cukup?" ucap mamah mertua sambil mengambil beberapa gepok uang ratusan ribu dari dalam tasnya.


"Maaf, mamah mertua, saya tidak butuh uang darimu, kalau mamah ingin aku pergi, silahkan mamah bilang pada Charl untuk menceraikan saya, maka saya akan dengan sukarela pergi dari sini.


" dasar perempuan penggoda, apa kamu ingin mengambil anakku sebagai ganti atas meninggalnya mamahmu! Aku atas nama keluarga besar Beird meminta maaf atas kecelakaan yang menimpa mamahmu, itu benar benar karena ketidak sengajaan kami, tapi tolong lepaskan Charles, dan bawalah uang ini sebagai bentuk ikut berduka cita," ucap mamah mertua yang membuat duniaku seakan jungkir balik dan air mataku menetes tanpa disuruh, kembali mengingat kejadian delapan bulan yang lalu.


Lou berdiri dan langsung meninggalkan mamah mertuanya tanpa permisi, menuju kamarnya, Lou tidak menggubris ucapan mamah mertuanya yang mengucapkan kata tidak pantas untuk dirinya.


Bik Siti, yang mendengar semua percakapan itu ikut menangis sesenggukan.


" kasian sekali kamu nyonya Louisa, padahal kamu perempuan yang baik, tapi kenapa nyonya besar tidak menyukaimu"


di dalam kamar Lou menangis dengan keras seolah ingin melampiaskan semua kemarahannya. Lou mengeluarkan tas besar dan mulai memasukkan beberapa bajunya ke dalam tasnya. setelah itu dia mandi masih dengan keadaan menangis terisak-isak.


...

__ADS_1


__ADS_2