SHOLAWAT CINTA

SHOLAWAT CINTA
Haruskah Pasrah ?


__ADS_3

"Ka Boy kenapa Sih ?


aku udah tanya sama ka Siti tapi Dia juga gak tau apa-apa.."Sonia menghempaskan tubuhnya diatas Shoffa namun kedua matanya tak pernah lepas dari Kaka nya.


"Siti gak tau apa-apa ? " Andre terkejut mendengar ucapan Sonia yang seakan menutup jalan pikirannya yang sedaritadi berusaha menerawang masalah yang tengah dihadapi sahabatnya.


Sonia dan ketiga sahabat Boy hanya bisa duduk diam menunggu Boy tersadar dari pingsannya yang sudah lewat dari 3 jam.


Sementara Petter masih sibuk menenangkan istrinya yang terus saja menangis dalam pelukannya.


"Assalamu alaikum..


Siti melangkah masuk bersama Kong Mamat dan Arifin yang secara tidak sengaja mengetahui kabar tentang Boy yang diboyong ke rumah sakit.


Petter dan Shoffie langsung menghampiri kong Mamat dan mencium punggung tangannya meski masih merasa terkejut melihat kedatangan kong Mamat yang terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan putranya.


"gimane kondisi nye si Boy ? "Kedua mata kong Mamat menatap tajam kondisi tubuh Boy yang terlihat lemah karena sebagai seorang jawara sepuh Dia memiliki kemampuan mendeteksi keadaan tubuh seseorang.


"udah baikan Beh..Cuma belum sadar aja "Petter hanya menghela napas seakan kebingungan harus berkata apa.


Arifin tertegun dengan raut wajah pias melihat sahabat beda usia nya tengah terkapar tak berdaya.


Sementara Siti masih mematung diujung pintu masuk , tubuhnya seakan terasa kaku sulit untuk digerakan.


Entah apa yang dirasakan Siti , namun tak dipungkiri saat ini dadanya begitu sesak melihat sang pejuang masa depannya terbaring lemah berselimut selang infus.


Kedua mata Siti berkaca-kaca berusaha menahan airmata yang sedaritadi seakan memaksa matanya untuk segera menumpahkan kesedihannya.


Bibirnya tipisnya nampak bergetar seolah ingin berteriak memanggil sebuah Nama kesayangannya.


Beruntung Siti adalah gadis yang selalu bisa mengendalikan emosi dan perasaannya hingga tak pernah menunjukan perasaan dan suasana hati nya dihadapan orang lain.


"Ada apa Bang ? kenapa abang gak mau berbagi masalah abang ? jangan bikin aye khawatir lagi..! sudah cukup perjuangan abang..sudah waktunya kita berjamaah meraih Ridho ilahi seperti harapan kita..."


Kedua mata Petter dan Ricco tak melepaskan pandangannya memperhatikan Siti yang tengah berusaha menahan kesedihannya dan perlahan berjalan menghampiri Boy.


"JANGAAAANN...!!!


Boy terteriak dan langsung bangkit terduduk lesu dengan tubuh gemetar dan napas yang tersengal.

__ADS_1


Langkah Siti seketika terhenti begitu selangkah lagi dia mendekat kearah Boy.


Semua orang terkejut mendengar teriakan Boy yang terdengar begitu histeris dan membuat mereka berhambur berlarian menghampiri.


"kamu kenapa sayang ? "Mama Shoffie berhambur memeluk dan menghujani pipi boy dengan kecupannya.


"Tenang Boy..! Tenang..!


Atur napas kamu..! "Petter terduduk disebelah Boy mengusap-usap rambutnya berusaha menenangkan putranya yang masih gemetar dengan napas memburu.


"Dia gak apa-apa.. Cuma kaget aje ! Kong Mamat mulai angkat suara melihat kondisi Boy yang sadar dengan cara yang mengejutkan.


Siti kembali mematung melihat tubuh gemetar sang pejuang masa depan nya terdengar menangis dalam pelukan Mama Shoffie.


"Maaahh..."Lirih Boy semakin terisak membemamkan wajahnya dalam dekapan Shoffie.


Semua orang yang ada diruangan itu kini bisa bernapas lega melihat Boy yang sudah sadar namun suara isak tangisnya terdengar begitu pilu mencubit hati dan perasaan setiap telinga yang mendengarnya.


"Sudah sayang !


masa anak nakal Mama jadi cengeng gini sih ?


"Tiduran lagi Boy ! istirahat dulu..! "Papa Petter berusaha merebahkan tubuh Boy untuk kembali berbaring.


"Sialan lu kunyuk..!


Lu ampir bikin jantung gua copot "Ketus Andre kesal meski sebenarnya dia merasa sangat lega melihat Boy sudah sadar.


"Lu semua minggir dulu ! Biar dia bisa istirahat.."Arifin mengibaskan tangan nya mengusir tiga sahabatnya Boy.


"Haaiissh..."Mereka hanya mendengus kesal namun tetap menuruti permintaan Arifin.


Tinggalah Shoffie ,Kong Mamat dan Siti yang masih setia mendampingi Boy.


"Cengeng amat lu Tong..! "Ketus Kong Mamat melihat tubuh Boy yang masih gemetar disisa tangisannya.


"Kong..? "Lirih Boy berusah meraih tangan kong Mamat namun segera disambar oleh pak tua itu dengan sebuah sentilan


"Udeh diem aje Lu..! istirahat yang bener ! Jangan bikin orangtua lu khawatir sama keadaan lu.."Kong Mamat mendelik sinis menasehati dengan cara yang sedikit kasar seperti kebiasaannya.

__ADS_1


"Baang ?


Boy tersentak mendengar suara Siti karena sedaritadi Dia memang tak menyadari keberadaan Siti.


Mendadak dada nya terasa sesak setelah mendengar suara Siti seakan kehadiran Siti hari ini hanya menambah rasa perih dihatinya


Boy hanya terdiam tanpa menoleh sedikitpun ke arah Siti seolah enggan menatap wajah yang selama ini selalu dirindukannya bahkan bayangan wajahnya saja mampu memicu semangatnya dalam menjalani hari-hari terberatnya.


"Jangan kayak gini lagi bang !


aye gak sanggup liat abang kayak gini..."Bibir tipis Siti semakin bergetar dengan kedua mata tak berkedip berusaha menahan tangisnya.


Boy dapat merasakan kesedihan Siti meski hanya lewat ucapannya yang terdengar lirih Namun masalah yang baru dia ketahui dari mulut babeh udin membuat Boy tak kuasa menatap wajah Siti meski hanya menoleh saja rasa nya begitu menyesakkan dadanya.


"Makasih... "gumam Boy pelan dengan tatapan kosongnya hingga membuat Mama Shoffie merasa khawatir dengan sikap Boy yang mendadak segan dan terkesan menghindari Siti.


"Abang cepet sembuh ye !


aye mau pulang dulu..." Siti yang menyadari gelagat Boy yang selalu menghindarinya berusaha tetap tenang seolah biasa saja.


"gua balik dulu ye Tong...


Bae-Bae jaga badan.."Kong mamat berpamitan sambil menepuk-nepuk pelan bahu Boy dan langsung menghampiri Arifin yang sudah menunggu diujung pintu.


Siti pun membalikan tubuhnya berusaha melangkah tenang meski hatinya terasa sakit karena merasa dihindari oleh pejuang kesayangannya.


"LEBIH BAIK KEHILANGAN SESUATU KARENA ALLAH ..DARIPADA KEHILANGAN ALLAH KARENA SESUATU..."


"Deg.


Langkah Siti terhenti mendengar ucapan Boy yang secara tidak langsung menjelaskan bahwa Boy sedang berada pada keadaan pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa.


Kepala Siti tertunduk dengan kedua bahu yang gemetar menandakan dirinya tengah berusaha sekuat tenaga menahan tangisannya.


"Apa abang menyerah setelah perjuangan yang sudah sejauh ini...? "Batin Siti.


Kong Mamat yang menyadari keadaan Cucunya yang terjebak larut dalam kesedihan langsung menghampiri dan merangkul Siti membawanya keluar dari ruangan itu.


"Maafin gua Siti...! Saat ini gua cuma bisa pasrah sama keadaan..Kalau memang lu bukan jodoh gua..maka gua enggak bakal nikah sama cewe mana pun sesuai dengan janji gua.."

__ADS_1


__ADS_2