
Pukul 10 malam, Boy akhirnya pulang dan kebetulan Babeh Jali masih berada diluar rumah setelah beberapa saat mengobrol bersama Arifin dan Kong Mamat.
"Pegimane Emak sama bapa lu ? Aman kan ?
"Beres Beh , pokonya udah aman..hehe..
Siti udah tidur , Beh ?
"Noh didalem lagi nungguin elu , Sedari sore ngerengek aje.."
"Heh ? Wah gawat..."Boy malah terkekeh sambil tepuk jidat mengingat sikap manja istrinya yang sering ditunjukan padanya.
"buruan dah lu samperin ! Kesianan nungguin daritadi.."
"Kalo gitu saya masuk dulu , Beh !
"Ho'oh dah..."
Baru saja beberapa langkah Boy masuk kedalam rumah kedua matanya langsung tertuju pada Siti yang sedang duduk diatas kursi dan tertidur pulas dengan kepala yang bertumpu pada tangannya.
"Aissh..." Seketika Boy bergegas menghampiri dan duduk disamping Siti sambil menatap lekat raut wajah lelap istrinya.
"anugerah terindah dari Tuhan yang paling Abang syukuri adalah kamu , Siti..." Senyum Kecil dibibir Boy dan tatapan kagum nya tak bisa teralihkan dari wajah cantik istrinya yang tengah tertidur pulas dihadapannya.
"eheemm..."
"Aiihh.." Suara deheman Babeh Jali seketika membuyarkan kebahagiaan Boy yang sedang menikmati paras cantik istrinya itu.
"Bangunin aje , Boy ! Bisa sengklek kelamaan tidur sembari duduk begitu.."
"iya Beh..."
Tak sempat Boy mengusik Siti , Istrinya itu malah mengkerjapkan matanya setelah mendengar suara Boy dan Babeh Jali.
"Engghh..Abang udeh pulang ? " Suara serak khas orang yang baru bangun tidur itu malah membuat Boy tersenyum dan semakin menatap lekat wajah Siti seakan ada kepuasan tersendiri baginya ketika melihat raut wajah alami sang istri yang baru saja terbangun itu.
"Ehemmm..." Dan lagi-lagi suara deheman Babeh Jali membuyarkannya.
"Babeh masuk duluan yeh ! Lu berdua juga buruan masuk jangan kelamaan dimarih.."
"iya Beh..Beress..."Boy hanya terkekeh meskipun sedikit kesal karna merasa terganggu dengan tingkah mertuanya itu.
"Kenapa tidur disini ? leher kamu bisa sakit loh..kasian juga little bean gak nyaman tiduran diatas kursi.."
"Aye nungguin Abang , ehh malah ketiduran..."Seketika Siti bersandar nyaman pada bahu suaminya. Sementara Boy langsung menghadiahkan kecupan hangat dikening istrinya itu.
"Maaf yah ! Maaf , Abang kemaleman gara-gara Sonia telat pulang..Tapi semuanya udah beres kok.."
"udeh beres ?
"Yeah..everything its gonna be allright.."
"My husband emang paling the best.."
"Ehh..? Kamu kok baru sadar kalo suamimu ini paling keren , hihihi ?
__ADS_1
"isshh.."Siti malah mencebik lantas mencubit gemas dada suaminya ketika melihat Boy terkekeh menggodanya.
"hihihi..
"Abang udeh makan ?
"Nah itu , Abang gak sempet makan malam gara-gara sidang dadakan.."
"Kalo gitu Aye angetin sayur dulu ye , sekalian Aye temenin makan.."
"Biar Abang aja yang masak lagi , kamu tunggu disini ! Ibunya Little Bean gak boleh kecapean..bisa gawat kalo ampe Nyonya mertua tau anak nya yang lagi hamil kecapean gara-gara nyiapin makan malam..hehehe "
"issh..jadi karna Enyak ?
"Hahaha...iya dong ! Enyak tuh lebih mengerikan dibanding Babeh..hihihi.."
"Abang iihh..
"Hahaha...
.
.
.
Flashback On ;
Tatapan bengis dan raut wajah tak bersahabat yang ditunjukan Boy seketika membuat nyali Sonia menciut hingga tak sedikitpun berani beradu pandang dengan Kakaknya itu.
Petter yang sangat faham dengan karakter keras putranya itu sedikit menahan diri dihadapan istri dan anaknya demi menjaga suasana agar tetap kondusif.
"Aku gak mau tanya KENAPA ?
Aku juga gak mau tanya ADA APA ?
Aku cuma gak suka lihat Mamah kesepian dan kebingungan sendiri tanpa ada siapapun yang bisa membuatnya tenang..."Ucapan sarkas dengan intonasi penuh penekanan yang diucapkan Boy berhasil membuat Sonia semakin merapatkan mulutnya tak sedikitpun bersuara.
"Aku tahu dan Aku juga sadar kalo selama ini justru Aku yang tak pernah punya kontribusi apa-apa sama perusahaan, tapi...?
"Come on ! Jangan sangkut pautkan urusan perusahaan dengan urusan keluarga !
"And you , Dad ? Apa Papa gak bosen jadi orangtua yang keras kepala ?
"Astaga ! Huuhfh.."Sejenak Boy menghela napas panjang.
"Kalo memang Papa sama Sonia sudah gak sanggup dan gak mau mengurus perusahaan?
Okay , Mulai hari ini serahkan semuanya sama Aku , Kalian fokus saja dengan keinginan dan keegoisan kalian masing-masing "
"Shitt..Aku kecewa sama kamu, Sonia !
Mendengar pengakuan dan kekecewaan Boy dihadapannya, Sonia semakin tak berani bersuara dan memilih diam namun tubuhnya yang gemetar seakan mengisyaratkan emosi perasaan yang tengah tertahan.
"Sudahlah Boy ! "Akhirnya Petter angkat suara ketika melihat Sonia mendapat tekanan dari Putranya karna sejatinya seorang Ayah tetap saja tak kuasa melihat putrinya tertekan terlebih lagi Dia memiliki andil atas sikap Sonia yang menghindarinya itu.
__ADS_1
Boy hanya menoleh kearah Papanya dan tetap tak melepas tatapan yang mengintimidasi adiknya itu.
"Papa juga salah , Maafin Papa , Sayang ! "Helaan napas dan rangkulan tangan Petter pada bahu Sonia akhirnya berhasil mencairkan situasi tegang yang tengah menyeruak diruangan itu.
"Im So Sorry , My Sweety ! Maaf , Papa udah keterlaluan sampe marahin kamu didepan semua dewan direksi.."Sejenak Petter kembali menghela napas lantas melanjutkan penjelasannya.
"Papa terpaksa berbuat seperti itu demi menjaga kepercayaan dan nama baik perusahaan kita , Huuhfh..Tentunya kamu juga faham kan , bagaimana sikap mereka ketika kita melakukan sedikit saja kesalahan ?
Sonia masih saja tertunduk dan mencerna ucapan Petter namun jauh didalam lubuk hatinya tengah berdesir merasakan tekanan Boy dan permintaan maaf Petter.
"Mama gak ngerti soal keputusan kalian perihal kebijaksanaan perusahaan, tapi Mama yakin kok kalo kalian itu pasti bisa memberi solusi terbaik tanpa harus bersitegang seperti ini.." Pada akhirnya Shoffie pun tak bisa menahan diri melihat Sonia masih saja terdiam tak berani angkat suara.
Sejenak Sonia melirik kearah Boy lantas menoleh kearah Shoffie dan Petter , Dan dengan mengumpulkan keberaniannya yang sempat menghilang itu akhirnya Sonia mulai bersuara dan mengutarakan isi hati serta kecemasannya.
"Im so Sorry , Dad ! And you too ,Mom !
Maaf , kalo Aku egois dan kekanakan !
But , im tryin so hard and angry cause you are ,Dad..
"Uhss..Aku sebel sama Papah..You never see myhardwork and never give me space or rewards..you make me so hopless..
I hate you , Dad...
"Aiiihh...Im so Sorry , Honey ! Please forgiveme , Okay ! "Maafin Papa yang gak peka sama usaha kerasmu selama ini..Hey, Please keep smile and dont look at me like that ! Aaiihh Im feel like...? ahh..Damn it ! Sorry sweety !
"Uhss..Stoped , Dad ! Ckk..I'm not a children.." Decak kesal dan dengusan Sonia malah semakin membuat Petter gemas dan tergelak melihat putrinya merajuk.
"Hahaha..Oww, my sweety like a fire , burning on..hahaha
"Daddy..."Sonia malah semakin mendengus kesal melihat Papanya semakin mengejek dirinya.
"Aiihh..Dasar Gemblung , Kemarahan sesaat kalian itu jadi bukti kedekatan hubungan kalian tapi sampai kapan kalian akan menyadari tujuan Ku menyerahkan perusahaan itu.." Akhirnya Boy bernapas lega melihat Sonia mulai bersikap manja lagi dan Papanya kini sudah menunjukan kekonyolannya lagi , namun isi kepalanya masih saja tak habis pikir dengan pemikiran Mamanya yang memiliki tendensi kekonyolan dan sikap aneh.
"Sorry Bro ! " Ucapan Sonia terdengar lirih dan tetap saja tak berani bersitatap dengan mata Kakaknya itu.
"Yeah , Nevermind !
Boy hanya tersenyum kecil melihat adik kesayangannya itu tak berani memandang wajahnya.
"Kakak yakin mau turun tangan ngurus perusahaan ?
"Daripada perusahaan jadi kacau lantaran pimpinannya perang mulu , mending Gua yang turun gunung meramaikan dunia persilatan.."
Ucapan yang terdengar seperti candaan itu malah membuat Sonia semakin merasa bersalah pada Kakaknya yang sudah memberikan kebebasan dan menyerahkan segala keputusan padanya.
"Aku masih sanggup kok , Kakak jangan maksain turun tangan kalo memang gak bisa.."
"Are you sure ?
"Eemm..Im Sure !
"Good ! Okay , Closed case !
Aku mau pulang dulu , Kasian Kakak ipar mu pasti lagi cemas nungguin suami kerennya belum pulang..hehehe.."
__ADS_1
"Haiihh..."Sonia dan kedua orang tua nya mendadak melengos mendengar ucapan konyol yang keluar dari mulut Boy.
Flashback off ,