
Setelah seharian berada dalam suasana kalut dan tak berdaya, Kini Thonny mulai menenangkan emosinya berkat nasehat ketiga sahabatnya yang tetap mendukung meskipun dirinya sudah mempermalukan mereka dengan kelakuan yang sangat bertentangan dengan prinsip hidup mereka.
Semalaman Thonny tak bisa tidur demi memikirkan cara untuk mengakui kebodohannya dihadapan Tini.
Kepulan asap tembakau dan botol softdrink yang terlihat berantakan dan berserakan didalam kamarnya menjadi teman sekaligus asupan energi bagi otaknya yang semakin buntu tanpa adanya inspirasi.
"Gua gak berani kasih kesimpulan, Gua cuma bisa kasih saran sama Elu, Jangan lama-lama menunda masalah ! Usahakan sesegera mungkin Lu minta maaf sama Tini, Dan Lu harus siap sama konsekuensinya..dan yang terpenting, Jangan pernah egois ! Lu harus terima segala bentuk kemarahan dan kekecewaan Tini.."
Ucapan Boy itu terngiang-ngiang dikepalanya hingga membuat Thonny kembali kalut dan semakin ketakutan untuk menghadapi Kartini, gadis manis yang telah menerima perlakuan kasar akibat kekhilafannya.
"Aku siap menerima semua hinaan dan makian, aku juga siap menerima hantaman apapun..Tapi, Aku takut Kamu dan Budi tidak bisa menerima laki-laki bejad seperti aku.."
"Aaarrgghh..."Sebotol Softdrink dilemparkan Thonny hingga terdengar suara keras ketika beradu dengan dinding.
"Sholat Bro ! Berdoa sama Tuhan ! Bini gua pernah bilang sama gua, Sehebat apapun rencana manusia, tetap saja finishnya bergantung pada keputusan Tuhan.."
Sejenak Thonny tertegun mengingat ucapan Boy yang menyuruhnya sholat dan berdoa.
"Apa gua pantes ? Apa gua masih Hamba Tuhan ?
__ADS_1
Tak terasa kedua mata Thonny mulai berembun dan perlahan tetesan airmata berjatuhan menyadari kebodohan dan kealfaannya selama ini.
"Bokin gua juga pernah bilang, "Doa itu senjatanya orang yang beriman"
Lagi-lagi ucapan Boy berputar-putar dikepalanya hingga membuat Thonny tertunduk kaku terisak pilu.
"God ? Help me ! "Arrggghhh...."Thonny memekik histeris menyadari ketidak berdayaannya dihadapan masalah yang dibuat oleh dirinya sendiri.
"Satu lagi, Bokin gua selalu bilang bahawa, Allah itu sebagaimana prasangka hambanya" Jadi, Elu harus punya prasangka baik dalam menghadapi masalah ini supaya Allah kasih elu kemudahan dengan cara yang baik.."
"iyakah ? Apa gua pantas ? Apa gua pantas menerima kebaikan setelah melakukan kesalahan berat ?
"Gua cuma pemabuk, Gua cuma cowok sialan yang gak berguna, Gua udah ngerusak masa depan cewek..Apa gua pantas berdoa dan meminta bantuan Tuhan ?
"Kartini ? Arghh..Maafin aku ! Ampuni aku !
"Astaga ?" Haiihh.." Ricco yang ditugaskan menemani Thonny mendadak geleng kepala melihat sahabatnya begitu terpukul dan larut dalam penyesalan.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Hening suasana malam seakan menggambarkan suasana hati Kartini yang sepi dan suram tanpa ada sentuhan cahaya terang bahkan bias sinar harapanpun seakan enggan menenangkan hati yang terluka dan diselimuti kekecewaan.
Dibalik jendela kontrakan, Diantara pekatnya gelap malam, Kedua mata Tini menatap sendu separuh rembulan yang terlihat malu-malu menerangi malam.
"Huuuhfh..."Helaan napas yang begitu panjang seakan mengisyaratkan beban yang selama ini melekat dalam hidupnya.
"Aku serahkan semuanya padaMu, Rhobb.."
Semenjak pulang dari rumah ibunya, Tini mulai memikirkan Perihal sholat istikhoroh dan pada akhirnya dia pun melaksanakannya demi mencari ketenangan sekaligus jawaban atas segala kebimbangan dan ketakutannya.
"Aku ikhlas bila harus menjauh darinya, Tapi aku gak bisa jauh dari anakku.."
__ADS_1
"Yaa Rhobbi, irhamna..!