
Seketika tubuh Boy merosot dari soffa dan bersimpuh dihadapan bu Mirna seraya menggenggam erat tangan perempuan setengah baya yang tiba-tiba terlihat pucat dan nampak jelas raut kesedihan terpampang diwajahnya.
"Maafin aku Bu ! Maaf..!
"Andai saja Om Rizal gak gantiin aku jadi sopir..Mungkin Dia masih hidup sampai sekarang.."
"Maaf..Maaf.."Dengan napas tersengal dan tercekat suara Boy semakin lirih seakan tak kuasa untuk berbicara.
Bu Mirna hanya terdiam dengan tatapan kosong ketika Boy berulangkali meminta maaf padanya.
"Maafin aku Bu !
Sejenak Bu Mirna menghela napas seraya melepas genggaman tangan Boy dan perlahan mengusap pucuk kepala pemuda dihadapannya.
"Ternyata benar apa yang diceritain sama Mas Rizal, Kamu memang anak baik.."Seutas senyum tipis dibibir Bu Mirna tetap tak membuat Boy berani bangkit.
"Suami ibu itu selalu memuji-muji kamu, Bahkan berharap besar buat jadiin kamu sebagai menantu kami..Huuhfh.." Bu Mirna kembali menghela napas seraya meminta Boy bangun dan kembali duduk.
"Ibu sudah menerima suratan takdir ini meskipun butuh banyak kesabaran, Kamu juga harus bisa menerima semua ini !
Perlahan Boy beringsut dan mendekat seraya kembali menggenggam tangan Bu Mirna.
"Maafin aku Bu ! Semenjak Om Riri meninggal, Aku gak berani dateng kesini, Aku gak kuat tiap kali keingetan sama Om Riri.."
"Ibu ngerti Nak ! Meskipun kita gak pernah ketemu, Tapi ibu tahu kalau hubungan kamu sama mas Rizal itu sangat dekat, bahkan sudah seperti Ayah dan anak.."
__ADS_1
"Om Riri sudah banyak membantu saya Bu !
"Kalian itu saling melengkapi, Wajar kalo saling membantu.."
"Jangan-jangan uang bulanan yang diterima sama ibu itu kamu yang kirim ya ?
Sejenak Boy terdiam lantas perlahan menganggukan kepala.Sementara Bu Mirna kembali menghela napas panjang.
"Sampai hari ini Ibu masih bingung, Darimana datangnya uang bulanan itu ? Meskipun Kong Mail sudah menjelaskan sama ibu, Tapi ibu masih ngerasa janggal.."
"Maaf kalo saya gak sempet menjelaskan semuanya sama ibu, Saat itu saya bener-bener ngerasa kehilangan dan menyerahkan semua urusan Royalty Band dan keuntungan Pabrikan gitar sama Kong Mail, Karna saya gak sanggup datang kesini dan teringat sama kenangan kami.."
"Hanya itu satu-satunya permintaan Om Riri yang bisa saya lakukan, Menjaga keluarganya sebaik mungkin meskipun saya tidak selalu berada dikota ini.."
"Terimakasih Nak ! Uang itu sangat membantu kelangsungan hidup kami, Masya Allah, Beruntung sekali mas Rizal bisa kenal sama kamu.."
Sekilas Bu Mirna tersenyum lantas menepuk pelan bahu kanan Boy.
"Sayangnya harapan Mas Rizal buat jadiin kamu menantu sudah gagal yah.."
"Ahh..hahaha.."Sudah pasti Boy tertawa getir mengingat keinginan Rizal.
"Tapi calon menantu yang saya pilihkan buat anak ibu itu, insyaallah cocok..hehe "
"Ehh ? Jadi ada campur tangan kamu juga ?
__ADS_1
"Hehehe, Iya Bu ! Cuma ini yang bisa saya lakukan demi membayar keinginan Om Riri.."
"Huuhfh.."Bu Mirna kembali menghela napas panjang seraya melirik kearah pintu luar.
"Mungkin memang bukan jodohnya, Dan mungkin ini juga yang terbaik buat semuanya.."
"Aamiin.."
"Oh ya, Gimana kabar Siti ? Kandungannya sehat ?
"Alhamdulillah Bu ! Little Bean makin gede.."
"Eh, apaan ? Little bean ? ada-ada aja sih kamu?
"Hehehe..."
.
.
."Ternyata hubungan Bapa sama Kak Boy sedekat itu ? dan orang yang selama ini membiayai hidup kami ternyata Dia ? dan Dia juga cowo yang sering diceritain Bapa yang bakal jadi calon suami aku ?" Putry yang penasaran dan berusaha curi dengar percakapan ibunya seketika terdiam mengetahui peranan besar Boy dalam kehidupan keluarganya.
"Maafin aku gak cerita sama kamu, Aku cuma ingin kamu mendengar langsung dari mulut si Boy.."
"Jadi, selama ini kamu tahu ?
__ADS_1
Andre hanya bisa tersenyum kecut dan menganggukan kepala seraya merangkul Putry mencoba memberi ketenangan bagi calon istrinya yang terlihat terbawa suasana setelah mengetahui cerita masa lalu dan keinginan almarhum Bapaknya.