
Petter dan Shoffie nampak berdiskusi dengan begitu serius saat membahas Surat yang diserahkannya pada Kong Mamat.
"Apa Babeh baik-baik saja ?"Soffie semakin cemas karena belum mendapat kabar dari Romlah.
"Kamu tenang saja, Mah !
Papa yakin Babeh Mamat bisa mengerti, Meskipun Dia pasti sedikit marah..."Petter mencoba menenangkan istrinya yang terlihat semakin gelisah.
"Semoga saja begitu, Pah !
Mamah hanya khawatir sama nasib anak kita kalau sampai Babeh Mamat tetap saja bersikukuh sama pendiriannya..."
"Mau bagaimana lagi, Mah ?
Kita pasrahkan saja sama Tuhan...
Urusan jodoh kan cuma Tuhan yang punya kuasa, Santay sajalah ! yang penting kita sudah berusaha..."
"Huuuhfh..."Sekilas Shoffie menghela napas panjang berusaha menghilangkan kecemasannya.
"Hallo Duo Uzur ? Serius amat sih ngobrolnya ? "Sonia menghampiri sambil terkekeh mengejek orangtuanya.
"Haissh, Kamu kok sudah pulang ?
"lagi enggak ada kelas, Mah ! jadi pulang cepet deh..."
"Papa sama Mama lagi ngobrolin apa sih ? kayaknya tegang bener...?"
"eh masa sih ? Enggak Kok, Mama sama Papa cuma lagi ngobrolin soal hubungan Kamu sama Si Bocah Bisu itu..Hehe
"Haish, Kalau itu sih enggak usah diobrolin lagi, Mah ! Pokoknya Aku mau langsung nikah sesudah Ka Boy sama ka Siti menikah...hihihi.."
"Kamu yakin ?
"yakin dong, Pah...hihihi..
"Jangan ngada-ngada deh !
Mending kamu pikirkan kuliah kamu dulu ! "Soffie merasa malas mendengar ocehan putri manjanya.
"Santay aja kelesss ! biarpun sudah menikah kan tetap bisa kuliah...hihihi..."Sonia semakin merengek dan terkesan meledek.
"Auu Aahhh...."Shoffie lantas berdiri dan menggandeng petter melangkah cepat meninggalkan putrinya yang masih tertawa renyah melihat raut wajah kesal orangtuanya.
"Hey, Kenapa Aku ditinggalin ?
Haiissh, Kalian belum kasih Aku restu loh....hihihi" Sonia menyusul langkah kedua orangtuanya yang terlihat semakin kesal dan malas meladeni celotehannya.
.
.
Boy masih saja tak bisa diam dan selalu menggoda Siti tanpa peduli pada keberadaan Nyak Romlah atau pun Babeh Jali yang masih saja terdiam setelah beberapa saat beristirahat dikamarnya.
"Bang ! Bang Jali.."Suara teriakan Arifin membuyarkan kekonyolan Boy dan semua orang disekelilingnya.
"Bang..Hosh..Hosh "Arifin terlihat begitu tersengal setelah berlarian.
"Ade ape ,Fin ?
__ADS_1
"Engkong Bang ! Engkong pingsan..." Arifin mencoba berbicara meskipun dengan napas yang masih terengah-engah.
"Hah ?
"Masya Allah ?
"Astagfirullah ?
"What the hell..?
Seketika semua orang menjadi sangat terkejut saat mendengar kabar dari Arifin yang terlihat sangat panik dan khawatir.
"Elu ambil mobil, Beh ! Gua duluan.." Boy lantas melompati pagar kayu rumah Babeh Jali dan langsung berlari cepat tanpa peduli pada keluarga Jali yang terkejut melihat spontanitas Boy.
Jali bergegas mengambil kunci mobil dan membawa istri serta anaknya menuju Musholla bersama Arifin yang masih terengah-engah mengatur napasnya.
"Gile entu Bocah, Maen lompat aje..."Aripin hanya geleng kepala saat dirinya hampir tertubruk oleh Boy yang melompati pagar rumah.
Hanya butuh waktu 10 menit saja, Mobil yang dikendarai Babeh Jali sudah terparkir didepan Mushola.
Dan seketika Babeh Jali terperangah kaget saat melihat Boy sudah mengangkat tubuh Kong Mamat seraya menghampiri mereka.
"Enyak pindah kedepan ! "Boy langsung memboyong tubuh Kong Mamat kedalam mobil.
"Buruan jalan, Beh ! "Boy mendelik sengit sambil menyuruh Babeh Jali yang masih terkejut itu bergegas tancap gas.
Babeh Jali pun lantas tancap gas meski sedikit tersinggung karena merasa dibentak oleh Bocah tengik yang sedang sibuk memegangi tubuh lemah Kong Mamat mengapitnya berdua bersama Siti.
"klinik depan aja, Beh ! biar cepet..."
Babeh Jali lantas menekan pedal gas lebih dalam lagi hingga akhirnya mereka tiba di klinik yang pernah menjadi saksi terbaringnya tubuh lemah Sang Rocker.
" iya Pak..."Kedua perawat itu mendadak gugup dan panik hingga bergegas cepat menghampiri seraya memindahkan tubuh renta Kong Mamat keatas Brankar untuk segera mendapat penanganan.
Boy berjalan cepat mendorong brangkar itu bersama dua perawat yang mendadak panik karena ekspresi kemarahan pemuda disebelahnya.
"loh kamu kan ? "Sang Dokter menatap heran saat melihat kedatangan mereka.
"Help Me, Doc !
"tenang dulu ! kamu tunggu diluar saja !
"No Doc ! I want to know How the condition of my grand Fa ?
"Maaf, Sebaiknya Anda tunggu diluar saja ! Saya mau periksa kondisi tubuhnya dulu..."Dokter itu mulai merasa jengkel karena Pemuda dihadapannya itu tak mau beringsut.
"Okay ! Tolong selamatkan Kakek saya Dok.." Boy hanya bisa pasrah seraya menatap sinis wajah sang dokter yang terlihat jengkel itu.
Babeh Jali, Nyak Romlah dan Siti yang berdiri diambang pintu nampak terperangah menatap heran sekaligus terharu menyaksikan perhatian yang begitu besar ditunjukan oleh seorang pemuda yang selalu dimusuhi Babeh Jali dan Kong Mamat itu.
Sementara Boy lantas keluar ruangan dan mendadak mondar-mandir didepan pintu IGD dengan raut wajah khawatir dan gelisah.
"Bang ?
"Abang duduk dulu ye ! Abang harus tenang ! Aye jadi makin khawatir kalo liat Abang kayak gini.."
"Gua enggak bisa tenang, Gua takut Si Peot itu kenapa-kenapa.."Boy berbicara tanpa sedikitpun menoleh pada Siti karena kedua matanya tetap lurus dan focus mengamati penangan Dokter dari balik pintu kaca.
"Baiknye kita berdoa aje..."Siti tetap berusaha menenangkan pemuda tampan yang masih saja gelisah menatap pintu IGD.
__ADS_1
"Berdoa ?
"iya Bang..
"Apa doa orang Brengsek kayak gua ini bisa dikabulkan ?
"Hem, Allah selalu mengabulkan semua Doa-doa Hamba-Nya.."
"iya Kah ?
Siti lantas menganggukan kepala dengan sorot mata penuh keyakinan.
Seketika kepala Boy tertunduk hingga keningnya menempel pada pintu Kaca ruang IGD.
"Gua enggak pernah Berdoa, Gua Malu.."Boy mendadak membentur-benturkan kepalanya pada pintu kaca itu.
"Forgive me, God ! Help Me ! Jangan ambil Si Peot ! Dont make me so Scarries again !
"Please ! I need him..I need..Im very very need him.."Tak terasa Airmata Boy tumpah begitu saja saat wajahnya semakin menempel pada pintu kaca itu.
lirih suara Doa yang diucapkan Boy terasa begitu mencubit hati Siti yang kini tertegun melihat Boy sangat mengkhawatirkan kondisi Kong Mamat.
Babeh Jali dan Nyak Romlah yang tidak mengerti ucapan Boy mendadak terperangah saat menyadari Pemuda itu sangat mencemaskan Kong Mamat.
"Bang ? Udeh Bang ! insyaallah engkong kagak nape-nape.."Untuk pertama kalinya, Siti menepuk lembut bahu kanan Boy demi menenangkan kegelisah pemuda tampan dihadapannya.
Boy tetap tidak bergeming dan semakin tertunduk pasrah menanti keajaiban.
"Ceklek.."Suara pintu IGD terbuka disusul senyuman sang dokter melirik ke arah Boy yang masih tertunduk sendu didepan pintu.
"Ternyata Rocker juga bisa cengeng ya ? " Sang Dokter tersenyum kecil meledek Boy.
"Dont laugh with me ! How ? my grand Fa ?
"Pegimane kondisi Babeh saya..."Babeh Jali lantas berhambur menghampiri Dokter.
"Pasien tidak apa-apa Kok..."
"Seriously ? "Boy mendelik sengit saat melihat ekspresi Dokter itu.
"Pasien hanya mengalami Dehidrasi saja, Dan ada sedikit masalah pada lambungnya.."
"Lambung ? " Babeh Jali dan Nyak Romlah kompak terkejut.
"Sepertinya pasien belum sempat makan ditambah lagi Pasien sangat kelelahan sampai mengalami Dehidrasi akibat kekurangan cairan dan nutrisi.."
"apa kita bisa masuk kedalem Dok ?
"Bisa Kok, Pasien sudah mulai normal dan akan segera dipindahkan keruang perawatan"
"Alhamdulillah, Terimakasih Dok !
"Ya, Sama-sama , Sudah menjadi kewajiban saya melayani Pasien.."Dokter lantas berlalu dari hadapan mereka sambil tersenyum hangat.
"Bocah tengik itu kemane ?
"eh iye...kemane pegihnye Si Boy ?
"Bang Boy udeh masuk daritadi, Nyak "Siti tersenyum tipis seraya menunjuk kearah Boy yang sudah berdiri disebelah Kong Mamat.
__ADS_1