SHOLAWAT CINTA

SHOLAWAT CINTA
Welcome to the...?


__ADS_3

Begitu cepat kabar tersebar pada orang-orang terdekatnya Boy, hingga rumah sakit bersalin itu mendadak dipenuhi oleh kerabat keluarga Swarez dan juga kerabat dari keluarga Babeh Jali.


Ketiga sahabat Boy pun sudah berada dirumah sakit setelah mendapat kabar dari Sonia, mereka bukan hanya mengkhawatirkan proses persalinan Siti tetapi juga mengkhawatirkan kondisi Boy yang belum sempat dijenguk oleh mereka.


Raut wajah Putry dan Sonia mendadak pucat pasi saat mendengar teriakan dan eraman Siti dari balik pintu. Keduanya nampak hanyut dalam suasana tegang seolah merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Siti.


Para sepuh nampak terlihat lebih tenang meskipun raut wajah khawatir mereka tetap tak bisa disembunyikan.


Kong Mamat dan Arifin yang tiba paling akhirpun mendadak terbawa suasana saat mendengar rintihan kecil Siti dan suara kepanikan Boy dari balik ruang persalinan.


Andre, Tonny dan Ricco nampak hanya terdiam dan tertegun menyadari sahabat mereka tengah berjuang mengawal istrinya didalam ruang persalinan.


"Bisa kita bicara empat mata ? "


Arifin mendadak terkejut saat Puput tiba-tiba saja menyapa dan mengajaknya bicara, karena semenjak tiba dirumah sakit itu Arifin tidak menyadari keberadaan Puput.


"Emm, Maaf ! Kayaknye waktunye kurang pas, Gue kemari lantaran watir sama kondisi murid-murid gue, bukan lantaran mao reunian sama lu.."


"Kamu..? Ckk.. "Puput hanya bisa menghelas napas dengan raut wajah kesal ketika mendengar jawaban sarkas yang keluar dari mulut Arifin. Namun Puput tetap berusaha tenang karena menyadari kekhawatiran semua orang.

__ADS_1


.


.


.


.


Sementara didalam ruangan bersalin, Raut wajah Boy terlihat semakin panik dan ketakutan saat istrinya lagi-lagi merintih dan berteriak kesakitan.


Boy terus saja berdoa dalam hati sambil terus memberikan semangat dan kekuatan untuk istrinya yang tengah berjuang menjalani proses melahirkan buah hati mereka.


Hingga akhirnya lafadz Laa ilaha illallah yang keluar dari mulut Siti berbarengan dengan lahirnya bayi kecil yang langsung menangis kencang dalam pelukan sang Dokter specialis itu.


"Anak kita..."Boy bergumam dengan bibir dan tubuh yang gemetar saat melihat bayi kecil itu berada dalam dekapan dokter.


Sementara Siti nampak tertegun dengan napas yang tersengal-sengal seolah merasa tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Raut wajah Siti yang pucat dan air mata yang mengalir berbarengan dengan senyuman yang mengembang itu seakan menjadi wujud ekspresi kebahagiaannya.


"Anak kita, Sayang ! Anak kita sudah lahir..Kamu hebat ! Kamu luar biasa ! kamu yang terbaik ! terimakasih sayang ! terimakasih..."Boy langsung berhambur mendekap istrinya dengan kedua mata yang berkaca-kaca menerima kebahagian yang baru saja datang dihadapannya.

__ADS_1


"Anak Kita, Bang !..."Nada suara Siti terdengar begitu serak setelah terlalu lama berteriak kesakitan. Bahkan napasnya pun masih saja tersengal-sengal, Namun kebahagiaan dan kepuasan yang nampak dihadapan kedua matanya seakan membayar rasa sakit dan lelah selama ini.


"Ya Sayang, Anak Kita..."Boy kembali tersenyum dan mengecup kening istrinya.


"Selamat ya Pak, Bu ! Anaknya perempuan.."Sang Dokter memperlihatkan wajah dan jenis kelamin sang bayi pada mereka.


"Perempuan ? "Boy dan Siti seketika beradu pandang dan sesaat terdiam, namun- sesaat kemudian mereka terkekeh dan tertawa menyadari keinginan Boy yang berharap memiliki anak perempuan.


"Doa Abang dikabulin, MasyaAllah..."Siti tak berhenti tersenyum saat pertama kalinya menerima dan menggendong bayinya.


"iya sayang, Alhamdulillah...Thanks God ! Terimakasih atas Karunia Rizki ini..."


"Bapak sudah bisa mengadzaninya, karena kami akan segera membawa Bayinya untuk memberi langkah perawatan selanjutnya.."


"Ya Dok, Im ready..."Dengan penuh rasa haru kini Boy pun merasakan menggendong putri kecilnya dalam pelukan seraya mengumandangkan adzan ditelinga kanan dan membaca iqomah ditelinga kirinya serta mengucap Doa dan harapannya didalam hati.


Siti tak bisa berhenti tersenyum dan menangis haru melihat suaminya sedang mengadzani bayi kecil mereka.Gemuruh perasaannya bercampur aduk namun yang pasti hanya ada pancaran kebahagiaan dalam tatapan matanya.


"Subhanallah, Walhamdulillah walaa ilaha illallah Wallahuakbar, Laa Hauwla walaa quwwatta illa billahil aliyil adzim..Terimakasih yaa Rhobb atas karunia ini, lengkap sudah rumahtanggaku, Jadikan anakku sebagai keberkahan hidup didunia dan akhirat..." Siti berdoa dalam hati saat melihat Boy telah selesai melafalkan adzan dan iqomah.

__ADS_1


__ADS_2