
"Anda harus bisa menahan diri agar bisa meminimalisir potensi sekecil apapun yang berakibat menghambat kelancaran tugas dari petugas kami.." Petter teringat pesan Pak Surya yang membebani pikirannya semenjak Dia pulang dari kantor kepolisian.
"Bagaimana Pah ? Sudah ada kabar soal Boy kan ? " Shoffie langsung mencecar suaminya yang baru saja pulang setelah menemui Pak Surya.
"Apa yang harus ku jelaskan pada istriku ? Aku hanya tau tentang profesi rahasia putraku ini..Ckk " Sejenak Petter terdiam dan berusaha mencari jawaban dan pengalihan yang tepat.
"Pah ? Papah ? Kenapa malah diam ?
"Haish, Maaf ! Sepertinya mengecewakan kamu, Papah tidak mendapat informasi spesifik tentang kondisi anak kita.." Petter menghela napas panjang dan bersandar dipunggung soffa seolah merasa tak berdaya.
"Lalu kita harus cari informasi sama siapa lagi ? "Shoffie semakin cemas menyadari suaminya tak berhasil mendapat informasi apapun.
"Kita tunggu kabar dari Andre ! Dia sedang berusaha menghubungi sepupunya itu.."
"Ckk, Apa bisa di andalkan ?
"Setidaknya ada harapan.."
"Huuhfh..."Petter dan Shoffie nampak kompak menghela napas.
.
.
.
.
__ADS_1
"Belon ade kabar juga, Kong ? "Arifin yang diajak Kong Mamat Ngopi di warkop Junet nampak cemas melihat raut wajah Kong Mamat yang lesu dan tak bersemangat.
"Ora.."Kong Mamat hanya geleng kepala lantas menyecap Kopi hitam dihadapannya.
Arifin terlihat menghela napas dan menatap gelas kopi diatas meja.
"Eni Aki-aki sama Merbot ngapa pade ngejublek aje ? Entu Kupi uyuplah ! Keburu adem dah, panan kagak mantep lagi kalo udeh adem mah.." Bang Junet tiba-tiba memecah keheningan mereka.
"Kalo Adem tinggal panasin lagi, Net.."Arifin seolah malas meladeni celotehan Junet.
.
.
.
.
"Kenapa Aku mikirin Dia ? Apa karena Aku sudah terbiasa diganggu oleh tampang menjijikannya itu ? Ckk.." Tini malah bergumam sendiri hingga membuat Budi menjadi penasaran.
"Ibu kenapa ngomong sendiri ?
"Ehh, enggak Kok ! Ibu lagi ngitung jumlah belanja bulanan kita.."Seketika Tini menjadi gugup menyadari anaknya memperhatikan dirinya.
"Om Tonny kemana ya Bu ? Kenapa enggak pernah datang lagi ?
"Heh, Eemm, Mungkin Om Tonny lagi sibuk kerja.."
__ADS_1
"Enggak mungkin Bu ! Om Tonny pernah bilang sama Aku kalau dia cuma pengangguran dan enggak kerja apa-apa, Tapi duitnya banyak..?"
"Ckk, Hal buruk apa yang diajarkan Dia sama anak ku ? "Tini mendengus sebal mendengar ucapan anaknya.
"Aku kangen sama Om Tonny, Bu ! Padahal Dia janji mau ngajak Aku ke Sea World, tapi malah enggak dateng-dateng.."
"ibu juga kangen.." Ehh ? Apa sih yang aku pikirin ? Ckk..."
"Sudahlah ! Jangan bahas soal Om Tonny lagi ! Mending kamu kerjain PR mu lagi..!"
"Yaaahhh..Hemm.."Budi hanya melengos seolah malas menyentuh buku-buku diatas meja.
"Ada apa ya ? Biasanya Si Tonny enggak pernah melepas kesempatan sekecil apapun, tapi kenapa Dia enggak pernah datang lagi ? ishh Apa sih yang aku pikirin ? Kenapa malah ngarepin Dia datang ? Ckk.." Tini mendengus kecil sambil menepuk kepalanya seakan tak percaya dirinya teringat pada pemuda yang sangat dibencinya itu.
.
.
.
.
"Shitt..Anak bodoh !
"Hah ? Kamu kenapa Mas ? Apa salah meja itu sampai-sampai kena tendanganmu ? " Putry terkejut dan seketika merasa kesal saat melihat Andre menendang meja setelah menerima panggilan telpon.
"Kakak mu itu semakin gila dan Bodoh.." Andre berteriak kesal.
__ADS_1
"Eh, Kakak Ku ? Maksudnya Kak Boy ? Sudah ada kabar dari Dia ? "Putry langsung mendekat karena merasa penasaran.
"Hemm..."Andre hanya menganggukan kepala dengan lemah namun tatapan matanya seakan penuh dengan emosi.