SHOLAWAT CINTA

SHOLAWAT CINTA
Ckk..isshh..


__ADS_3

Sejenak Boy menghela napas kecil lantas meraup kedua belah pipi istrinya hingga pandangan mata mereka kini saling beradu.


"Abang salah, Ya, Abang sangat bersalah, Meskipun Abang terpaksa mengambil keputusan sendiri, Abang tetap bersalah karena menutupi semuanya dari kamu.."


Siti hanya terdiam dan terus menatap raut wajah sendu suaminya itu.


"Abang memang sudah berjanji akan selalu terbuka dan saling berbagi sama kamu, tapi situasi saat itu sangat tidak memungkinkan dan Abang khawatir sama kondisi kamu.."


"ini semua sudah diatur oleh atasan Abang sehingga Abang tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mengikutinya.."


"Atasan Abang ? "Siti mendadak merasa penasaran.


"Maafin Abang ! Selama ini, Abang menutupi identitas yang satu ini.." Boy menunjukan Lencana Kepolisian yang diselipkan didompetnya.


"Eni apaan Bang ? eni bukannye Lencana Polisi ? Nape Abang punya beginian ? "Siti meraih dan menatap heran lencana itu.


"Suami kamu ini seorang Polisi, Sayang ! Tapi karena kepentingan tugas, Abang terpaksa menutupi identitas ini.."


"Heh ? Seriusan Bang ?


"Hemm..Ya, Selama 2 minggu ini Abang pergi menjalankan tugas rahasia, Makanya Abang enggak bisa jelasin apa-apa sama kamu.."


"Jadi..? Abang beneran Polisi ?


"Hemm.."Boy mulai sedikit tersenyum sambil menganggukan kepalanya saat melihat raut wajah penasaran istrinya.


"MasyaAllah...Urusan kayak gini, Abang kagak mao bilang sama Aye ?


"Abang kan sudah bilang, Abang terpaksa, ini kepentingan tugas dan bersifat rahasia.."

__ADS_1


"Tapi Aye kan punya hak ?


"iya sayang ! Tapi, situasinya berbeda sehingga Abang terpaksa menutupinya dari kamu dan juga semua orang.."


"Kamu bisa maafin Abang kan ? Please ! Im so sad, Asal kamu tahu saja, Abang tuh langsung buru-buru pulang begitu sadar dari rumah sakit.."


"Rumah sakit ? Abang kenapa ? Abang kagak nape-nape kan ? maksudnye sadar pegimane ? Abang pingsan ? Bang ? Abang waras pan ? sehat pan ?


Seketika Boy terkekeh Saat raut wajah Siti berubah panik sambil memberondongnya dengan banyak pertanyaan.


"Abang enggak apa-apa, cuma sedikit terjebak insiden kecil saja.."


"Insiden ? "Siti malah beringsut semakin mendekat sambil meraba dan melihat kondisi tubuh Boy.


"Aww..Ssshh..."Boy mendadak meringis kesakitan saat tangan Siti menyentuh bagian pinggangnya.


"Cuma luka kecil kok, enggak apa-apa.."Boy hanya tersenyum namun tetap terlihat menahan rasa sakit.


"Luka ? Abang kena luka ? kenapa bisa begini ? "Siti menyibak Tshirt suaminya agar bisa lebih jelas memeriksa luka itu.


"Sshh..Kamu kangen ya sama Abang ? Agresif banget sih, sampai-sampai berani buka Kaos Abang ? Hehehe.."Boy malah terkekeh dan menggoda Siti mencoba memanfaatkan situasi demi mencairkan ketegangan antara mereka.


"Ckk..Kagak usah becanda deh ! eni nape jadi kayak gini ? "Siti malah mendengus kesal namun guratan kekhawatirannya terpampang jelas diwajahnya.


"Besok aja ya jelasinnya ! Abang janji bakal ceritain semuanya kok, Sekarang ini Abang cuma pengen peluk istri Abang yang paling cantik ini, Ahh Abang bener-bener kangen sama kamu.."


"isshh..."Siti mencoba sedikit meronta saat Boy memeluk tubuhnya.


"Entu luka nye beneran kagak nape-nape ? "Siti tetap saja merasa khawatir meskipun suaminya itu menampakan raut wajah tenang seolah tak merasakan sakit.

__ADS_1


"Lukanya enggak apa-apa, Justru yang lain yang enggak baik-baik saja.."


"Ehh ? isshh.."Siti hanya mencebik sebal karena mengerti maksud dari ucapan suaminya itu.


"Hahaha..."Boy tertawa renyah saat melihat istrinya mencebik kesal namun itu sudah menjadi isyarat bahwa Siti mulai berusaha berdamai dengan dirinya.


"Little Bean memangnya enggak kangen sama Ayahnya ? Hihihi


"Enggak ! Bean lagi kesel.."


"Kalau Bundanya kangen enggak ?


"Enggak ! Lagi kesel juga.."


"Kalau begitu Ayahnya harus bagaimana ? Aisshh, Padahal Ayahnya sudah menumpuk kerinduan selama 2 minggu lebih.."


"Ckk..isshh.."


"Hahaha..."Lagi-lagi Boy tertawa renyah karena berhasil mencairkan suasana meskipun raut wajah Siti masih kurang bersahabat.


Segala rasa melebur dan perlahan terlupakan saat Siti mulai mencerna segala penjelasan yang keluar dari mulut suaminya itu, namun tak bisa terbantahkan bahwa kegelisahan tetap menyeruak dalam pikirannya.


Sementara Boy berusaha meminimalisir pembicaraan demi menghindari rentetan pertanyaan dari Siti, karena saat ini Boy hanya ingin memeluk istrinya tanpa harus banyak memberi penjelasan sekaligus mencegah istrinya memikirkan hal-hal yang bersifat negatif bagi kehamilannya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2