
Flashback On :
"Aku..Aku hamil, Bu "
"Apa ? Kenapa bisa begini, Ndo ? "Bu Nina seketika terkejut mendengar pengakuan putrinya.
"Siapa laki-laki itu ? "Meski ingin meluapkan kemarahannya, Bu Mirna merasa tak tega ketika Kartini terisak dan terguncang menceritakan insiden yang menjadi aib seumur hidupnya.
"Elek tenan nasibmu, Ndo ! "Keduanya hanya bisa pasrah menerima nasib setelah Kartini kembali menceritakan pencariannya yang tidak membuahkan hasil.
"Aku harus gimana lagi, Mbok ?
"Kita pulang kampung aja, Ndo ! moga aja kamu bisa lebih tenang kalo tinggal dikampung.."
"Tapi, Mbok ? Aku masih belum tau siapa ayah dari bayi ini..Apa aku gugurin aja yo,Mbok!
"Istighfar Ndo ! Ojo kesetanan ! Bayi dikandungan kamu itu gak punya salah apa-apa, Kamu harus menjaga bayi ini meskipun belum tau siapa ayahnya, Mugi-mugi gusti ngasih jalan dimasa depan.."
"Aku takut, Mbok ! Aku bingung, aku gak tau mesti gimana ? Aku..aku..Hiks..hiks.."
Hanya pelukan dan nasehat yang bisa diberikan Bu Nina ketika Kartini semakin terguncang dan terisak pilu dalam dekapannya.
"Sing sabar, Ndo ! Wis nasibmu koyo ngene, Sing nerimo ! "Meski Bu Nina juga merasa kecewa, Namun kondisi putrinya saat ini tak bisa membuat dirinya meluapkan kekecewaannya.
Sebelum pulang kampung, Kartini tetap berusaha mencari identitas laki-laki yang melecehkannya dikamar hotel itu.
Sungguh sial, Tamu itu tidak terdaftar di buku pengunjung dan setelah bertanya pada rekan kerjanya sesama House keeper, Kartini hanya bisa mengetahui bahwa lelaki itu adalah relasi dari Bos besar Hotel tersebut.
"Aku hanya ingat tatto ditangan kanannya waktu dia nampar aku.."Sekilas Kartini menghela napas panjang merutuki nasib buruknya yang tak pernah terbayangkan.
__ADS_1
Perantauannya dikota besar untuk mencari rejeki dan mengejar pendidikan yang lebih baik kini terpaksa harus ditinggalkan demi mencari ketenangan bathinnya setelah menyadari usaha pencariannya selalu saja mengalami kegagalan.
Karena merasa frustasi dan tak tau harus melakukan apalagi, Pada akhirnya Kartini hanya bisa mengikuti saran ibunya untuk kembali ke kampung halamannya.
Namun, tak butuh waktu lama, Hanya dalam waktu 4 bulan ketika warga kampung mengetahui kondisi Kartini yang tengah hamil tanpa memiliki suami, Kartini semakin terguncang secara mental hingga pada akhirnya Bu Nina terpaksa membawa putrinya kembali ke kota besar demi menghindari gunjingan orang-orang kampung yang menghina putrinya.
Perjuangan Bu Nina menenangkan putrynya itu cukup berhasil ketika Kartini memutuskan untuk berdagang demi memenuhi kebutuhan mereka dan memberikan perawatan terbaik atas kehamilannya.
Beruntung Kartini memiliki seorang ibu yang selalu bisa dijadikan tempat bersandar dan selalu mendukung segala keputusannya.
Flasback Off,
"Huuhfh.."Tini menghela napas begitu panjang ketika mengingat pahitnya perjuangan hidup manakala stigma negatif melekat pada dirinya.
"Aku yakin itu kamu, Tapi aku malah gak berani bicara apa-apa.."Sekilas Tini teringat gambar Tatto pada lengan kanan Thonny yang sangat mirip dengan lelaki 5 tahun lalu.
"Ono opo, Ndo ? "Bu Nina bergegas menghampiri ketika Dia melihat Tini termenung dan menghela napas panjang hingga membuatnya khawatir akan keadaaan putrinya.
"Eh, ra po-po, Mbok !
"Tenanan ?
"enggeh.."
Bu Mirna malah semakin khawatir ketika menelisik raut wajah gelisah kartini.
"ono opo ? Jangan bohong sama ibu !
"Huuhfh.."Tini kembali menghela napas panjang seraya menatap teduhnya wajah renta sang ibu.
__ADS_1
"Kayaknya aku sudah tau siapa ayahnya Budi, Mbok.."
"Hah ? Tenan Ndo ? Sopo lanang pengecut itu Ndo ?
"Namanya Anthonny Wijaya.."
"Heh ? Namanya mirip wong sugih? mirip tenan sama cucuku Budiman Wijaya..Kok iso yo ?
"Dia memang orang kaya, Mbok ! Makanya aku takut Dia gak mau mengakui Budi sebagai anaknya.."Sekilas Tini tersenyum getir mengingat kesamaan nama belakang mereka.
"Jangan berprasangka buruk dulu ! Sebaiknya kalian bertemu dan berdiskusi dulu, selesaikan secara baik-baik.."
"Aku sering ketemu sama dia, Mbok ! Thonny sering mampir ke kontrakan.."
"Heh ? iki tenan to Ndo ?
"Aku bingung Mbok, Aku gak tau harus gimana ? Aku kecewa sama dia, aku benci sama dia, Tapi setiap kali ngeliat Thonny sama Budi ketawa bareng, Hatiku mencolos Mbok, Sakit, perih tapi gak tega pisahin mereka.."
"Sabar Ndo ! "Seketika Bu Nina mendekap Tini dalam pelukannya ketika air mata putrinya tiba-tiba saja keluar tanpa permisi.
"Aku takut Budi selamanya gak punya Ayah, Mbok..Tapi aku benci sama Ayahnya Budi tiap kali aku inget sama kejadian itu..belum lagi perjuangan kita ditengah gunjingan orang-orang"
"Aku harus gimana ? Budi butuh Sosok Ayah, Tapi aku benci, Benci tenan sama Dia.."
"Sing sabar to Ndo, Baiknya kamu sholat istikhoroh mugi dipaparin jalan sing apik.."
Tini hanya terdiam dan enggan berbicara lagi ketika dekapan hangat ibunya laksana sandaran terbaik ditengah kegelisahan dan ketakutannya.
"Om Thonny Ayah aku ? " Budi yang tidak sengaja mendengar pembicaraan ibu dan neneknya mendadak gelisah sekaligus senang ketika mendengar cerita ibunya.
__ADS_1