
"Boy ? "Petter dan Babeh Jali langsung berhambur mencegah dan menahan tubuh Boy saat pemuda itu melompat dan hendak memeluk keranda.
"Abang..? "Siti terisak panik melihat suaminya berteriak dan menangis histeris memanggil-manggil nama Kong Mail dan Nyai Mumun.
"Mail Sialan ! Kenapa lu tinggalin gua..Enyaaakkk..Enyaakk Mu muunn...Bukannya kalian mau melihat cucu kalian tumbuh besar ? Enyaaakkk..."Boy terlihat berontak dari hadangan Petter, Namun Babeh Jali sang pesilat tangguh itu langsung mengunci gerakan Boy.
Semua mata tertuju pada Boy yang meronta-ronta dan berteriak tak rela memanggil-manggil Kong Mail dan Nyak Mumun.
"Udeh- udeh, lanjutin bawa jenazahnye ! "Kong Mamat lantas menginstruksikan para warga agar meneruskan perjalanan mereka menuju pemakaman.
"Abang, Sabar Bang ! "Siti berhambur memeluk Boy yang masih saja berusaha meronta dari dekapan Babeh Jali dan Petter.
"Babeh Mail, Siti..Enyak..Enyak.."Boy semakin terisak dan terseguk tak beraturan melihat keranda semakin menjauh.
"iye Bang ! Abang kudu sabar ! Abang kudu ridho ! Tenangin diri Abang dulu..."Siti meraup kedua pipi suaminya seraya menatap kedua mata Boy, namun suaminya itu masih saja menangis dan berusaha meronta.
"Plaaakkk...."Satu tamparan tiba-tiba mendarat diwajah Boy hingga membuat Petter dan Jali terkejut.
"Jangan mewek kayak bocah lu ! Kalo lu sayang sama Enyak Babeh lu, jangan mewek ! jangan ngeratap kayak gitu ! "Kong Mamat mendengus sengit setelah menampar wajah Boy.
"Udeh Bang ! Sabar ! tawakal ! Kite kudu ridho, Kalo Abang kayak gini, kasianan Engkong sama Nyai..." Siti kembali berusaha menenangkan suaminya meskipun sebenarnya Dia pun merasa sangat sedih dan kehilangan.
"Bener Tong ! Kite jangan ngeratapin orang nyang udeh pegih, Hanyok kita liat Babeh lu buat terakhir kali.." Babeh Jali pun mendadak bernada lembut hingga membuat Petter hampir merasa tak percaya dengan sikap besannya itu.
__ADS_1
"Pak Tua ? Enyak ? "Boy berusaha bangkit dan berdiri sambil mengusap pipinya yang sudah basah oleh air mata.
"Pelan-pelan Bang ! Bareng ! "Siti menarik tangan Boy agar bisa berjalan bersama dan menghindari kecamuk emosi Boy yang tak menentu akibat rasa sedihnya itu.
Kong Mamat hanya menghela napas menyaksikan semua itu, Sementara Babeh Jali dan Petter tetap merasa waspada dan memilih berjalan beriringan untuk mencegah Boy melakukan hal diluar dugaan.
"Jauhin Putry sama Boy, Bu ! bisa gawat kalau mereka histeris dipemakaman.."Andre mencoba mengingatkan mertuanya agar memisahkan istrinya dari Boy yang masih saja sesegukan terisak-isak.
Sesampainya dipemakaman, Tubuh Boy mendadak merosot saat melihat jenazah Kong Mail dan Nyak Mumun diturunkan ke liang kubur.
"Ckk, Jangan Cengeng Bro ! Lakukan yang terbaik diakhir hayat almarhum ini ! Lu sanggup kan mengadzani almarhum ?
Boy menengadah mendengar teguran Ricco dan terlihat berusaha bangkit sambil berpegangan pada tangan Ricco dan Tonny.
Boy hanya menganggukan kepala dengan perlahan seraya melangkah menghampiri Arifin.
"Bantu Gua Bang ! "Entah apa yang dirasakan Boy, namun raut wajahnya tiba-tiba nampak datar tanpa ekspresi.
Kecamuk perasaan bergemuruh tak menentu saat Boy melihat wajah Kong Mail yang tertutup kain kaffan dan kapas diantara sempitnya liang lahat itu.
Dengan menguatkan tekadnya Boy mengadzani jenazah didalam liang kubur dan sekuat tenaga menahan diri agar tak menangis lagi.
Sementara pada liang Kubur Nyak Mumun nampak putranya juga sedang mengadzani jenazah ibunya itu.
__ADS_1
Selesai mengadzani, Boy lantas naik dan berpindah menatap wajah Nyai Mumun untuk terakhir kalinya sambil berdoa didalam hatinya.
Kong Mamat yang menyadari Boy mulai goyah, lantas meminta Petter dan Jali memapah Boy agar sedikit menjauh dari proses penguburan.
Hingga akhir proses pemakaman dan pembacaan Doa, Boy masih saja terdiam menatap kedua undukan tanah dihadapannya hingga membuat Siti semakin cemas melihat raut kesedihan suaminya itu.
Bahkan saat perlahan satu-persatu pelayat pulangpun, Boy masih saja tertegun menatap kedua makam itu.
Semua orang sangat mengerti dan mengetahui kesedihan Boy namun apalah daya segalanya adalah kuasa-Nya.
Siti semakin menempel dan tak sedikitpun menjauh dari suaminya karena merasa cemas dengan kondisi suaminya yang terlihat semakin hilang kendali.
"Hanyok balik ! Kite urusin nyang dirumah lagi, masih banyak nyang kudu digawein.."Nyak Romlah mencoba mengajak pulang agar menantunya itu tak berlama-lama dipemakaman.
"Ayok pulang Sayang ! Kita kembali kerumah dulu.."Shoffie pun berusaha mengajak Boy pulang, namun Boy masih saja terdiam dan terlihat enggan pergi.
"Sudahlah ! Kalian semua pulang duluan ! Bawa Siti pulang juga ! Biar Papah sama teman-temannya Boy yang menemani Dia.."Petter mencoba mencari solusi karena memaklumi kesedihan putranya itu.
Siti nampak tak rela saat diajak pulang oleh Romlah dan Shoffie, namun Dia juga tak berani menolak perintah mereka.
Akhirnya hanya Ricco dan Tonny yang menemani Petter karena Andre harus menenangkan istrinya yang juga sulit untuk ditenangkan.
"Sebegitunya rasa kehilangan anak ku, Apa Dia bisa seperti ini juga jika aku yang meninggal ? "Petter menghela napas merasa cemburu melihat kasih sayang Boy terhadap orangtua angkatnya itu.
__ADS_1