
"Huuuhfh.."Tini menghela napas panjang setelah menyelesaikan tugas barunya menjadi Leader sekaligus koordinator dari Pesta yang akan diselenggarakan di Hotel itu.
"Akhirnya selesai juga, Tinggal eksekusi doang ! Haish, Hari pertama diangkat jadi Leader langsung dikasih tanggung jawab sebesar ini ?" Sekilas Tini tersenyum kecut menyadari tanggung jawab yang diserahkan padanya dihari pertama kenaikan jabatannya.
"Sudah selesai ?
Seketika Tini terdiam mematung saat mendengar suara khas yang sangat dihafalnya menyapa dari arah belakang.
"Kenapa Dia datang kesini sih ? Ckk.." Perasaan Tini mendadak tak karuan saat pemuda yang sudah berhari-hari dihindarinya kini menghampiri dan mendekat padanya.
"Jangan menghindar lagi ! Kita harus bicara.."Secepat kilat Tonny menangkap tangan Tini demi menahan gadis itu yang berusaha pergi dari hadapannya.
"Lepas ! "Kedua mata Tini mendelik sengit sambil mengibaskan tangan Tonny yang mencengkram tangan kirinya.
"Maaf.."Tonny langsung melepas genggaman tangannya namun tetap berusaha menghalangi Tini dengan tubuhnya.
"Aku mohon, Jangan menghindar lagi ! Kita harus bicara..."
"Enggak ada yang harus dibicarakan, Aku mau pulang, Permisi !
"Tini ! please ! Dont go a way ! Sampai kapan kamu akan menghindar ? Kita harus bicara dan menyelesaikan masalah ini.."
"Sudah aku bilang, Enggak ada yang harus dibicarakan, Apa telinga Anda bermasalah Tuan Anthonny ? "Tini semakin mendelik sengit sambil mendorong tubuh Tonny dan menyingkirkan pemuda itu dari hadapannya.
"Pliss, Tin ! "Tonny kembali berusaha menahan langkah Tini.
__ADS_1
"Tolong jangan ganggu saya lagi ! Apa perlu saya panggil Security ?
"I dont care ! Apa kamu tidak bisa merasakan kesungguhan Aku, Tin ?
Sejenak Tini terdiam saat ucapan Tonny membuatnya teringat pada perjuangan pemuda itu, Namun kebenciannya tetap menolak semua rasa hingga hanya tersisa amarah dan kekecewaan.
"Jangan ganggu KAMI lagi ! "Tini kembali mendorong Tonny seraya bergegas melangkah cepat menjauh dari pemuda itu.
"Dia juga anak ku, Tin !
Tini semakin berlari cepat dengan kedua mata yang berkaca-kaca saat mendengar teriakan Tonny yang mengakui Putra kesayangannya.
"Ampuni Aku, Tin ! "Sementara Tonny hanya bisa pasrah dan menghela napas kasar menatap kepergian Tini yang berlari menghindarinya.
Tonny seketika menoleh saat seseorang menepuk bahunya sambil menasehati dan memperingatkan dirinya.
Dan tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Tonny langsung berhambur berlarian menyusul Tini.
"Haiissh, Kalau Tania ngeliat reaksi dan raut wajah Si Tonny, Mungkin Dia bisa sepenuhnya merelakan mantan pacarnya ini.."
.
.
.
__ADS_1
.
Andre yang baru saja terbangun dari tidurnya mendadak kebingungan saat menyadari dirinya tertidur diatas Soffa.
"Astaga, Gua lupa tanya Report dari Tini soal persiapan pesta besok...Haissh.." Andre lantas bergegas menyambar Handphonenya yang tergeletak diatas meja.
"Heh ? "Andre malah berdecak saat melihat pesan Chatt yang dikirim oleh Kepala keamanan Hotel miliknya.
"Pantas saja Dia buru-buru pulang, Ternyata lagi berjuang memburu Emaknya Si Budi.."Sudah pasti Andre terkekeh setelah membaca isi Chatt itu.
"Ada apa sih ? Cengengesan sendirian kayak orang gila ?
"Astaga Sayang ? Masa Suamimu yang paling ganteng dan keren ini dibilang orang gila ? "Andre semakin terkekeh saat istrinya menghampiri sambil mencibir.
"Haissh.."Meski tak terbiasa mendengar panggilan Sayang keluar dari mulut Andre, Namun Putry mulai merasakan debaran kecil didadanya.
"Hihihi..Kenapa Gua enggak dibangunin ?
"Ckk, Elu budek ! Gua ampe bosen bangunin Elu, Tapi Elu malah makin mungkel diatas Soffa.."
"Heh ? Seriusan ?
"Haiihh, Dasar Kebo !
"Hahaha.."Andre malah tergelak saat melihat ekspresi sewot istrinya.
__ADS_1