SHOLAWAT CINTA

SHOLAWAT CINTA
Tempat Terpanas Dimuka Bumi


__ADS_3

"Ckk, Masih saja seperti ini ? "Boy yang baru saja sampai didepan rumahnya, sejenak menghentikan langkahnya saat mendengar suara teriakan dari dalam rumah.


"Kalian sama saja dengan anak tidak tahu diri itu.." Suara Papahnya yang sedang murka itu sudah biasa didengar oleh Boy, Namun suara isak tangis Mamahnya seketika membuat Boy bergegas menerobos masuk sambil membanting Pintu rumahnya.


" STOPED !


Boy berhambur menghampiri sambil berteriak lantang ketika melihat Papahnya yang sedang mengangkat telapak tangan dan hampir menampar Mamahnya.


"Dont Touch My Mom.."


Boy kembali berteriak dan menunjuk wajah Papahnya seraya menghampiri dan menarik Mamah Shoffie kedalam dekapannya.


"Kamu lihat anak yang kamu manjakan itu ! Dia sudah semakin berani menantang orangtuanya sendiri.."Papah Petter semakin murka ketika Boy yang baru masuk rumah menunjuk-nunjuk wajahnya.


Mamah Shoffie hanya bisa menangis terisak dalam dekapan Boy sambil memeluk Sonia adik perempuan Boy yang terlihat sangat ketakutan menghadapi amarah Papahnya.


"What the Hell going on ? Heh ? Are you crazy , Dad ? Heh ? "Boy merentangkan tangan meminta penjelasan sekaligus mengisyaratkan ancaman.


"Hey, What you talkin about ? are you kidding me, Son ? Shitt, its all about you..,Damn it ! " Petter semakin murka dan menatap sengit wajah putranya.


Sekilas Boy mendengus sengit seraya merangkul dan memboyong Mamah serta Adiknya masuk kedalam kamar demi menahan amarah diri sendiri sekaligus menghindari murka Papahnya.


"Like a Father, Llike a Son ! Damn you, Dad !


Aku kasar karena Papa juga selalu kasar.."Boy mendelik sengit menatap sinis wajah Papahnya.


Seketika Petter tak bergeming seakan tertohok, terbelalak sinis mendengar ucapan putranya yang begitu tajam merobek prinsip hidupnya yang selama ini menjadi fondasi kepemimpinan didalam keluarganya.


"Aku juga gagal memberi contoh yang baik untuk anak-anak ku..." Petter terduduk diam dan hanya bisa menatap sendu langkah anak dan istrinya yang sedang masuk kedalam kamar.

__ADS_1


"Jangan selalu menentang Papahmu, Boy ! Cobalah untuk saling terbuka dan berbicara.."


Mamah Shoffie mengelus lembut pipi putranya yang jarang sekali pulang.


"Aku gak ada niat buat melawan apalagi menantang dan mengancam, Aku cuma gak suka sama sifat Otoriternya Papah.. " Boy menjawab dengan raut wajah datar dan terkesan malas berbicara.


"Anak Mamah ternyata makin dewasa..." Sekilas Shoffie tersenyum meski wajahnya masih dibasahi airmata.


"Aku harus pergi lagi, Mah ! Aku mau tidur di Studio lagi..." Boy berbalik lantas mengecup kedua pipi Mama shofie.


Shoffie hanya menghela napas panjang dan tidak mau mencegah anaknya pergi dari rumah karena Mama Shoffie sangat mengenal sifat anaknya yang keras kepala itu.


"Memangnya kamu gak kangen sama Mamah ? Sama Sonia ?


"Aku selalu kangen sama Mamah dan juga Sonia, Tapi Saat ini Aku masih merasa bahwa Rumah ini adalah tempat terpanas dimuka bumi.."


"Aku gak betah lama-lama disini, Kalau Mamah sama Sonia mau ketemu aku, Datang aja ke Studio !


"are you OK ? "Sonia hanya bisa menahan diri tiap kali Kakaknya hanya bisa pulang cepat namun selalu pergi dalam waktu yang lama bahkan tanpa kabar berita.


"Dont Worry ! Im good, Jaga Mamah ! Telpon Kakak kalau Si Tua Bangka itu bertindak kasar sama kalian !


Boy lantas masuk kedalam kamar pribadinya yang sudah begitu lama ditinggalkan.


Sesaat Boy menatap kondisi kamarnya yang tidak berubah sama sekali tetap dalam suasana remang dan minim cahaya.


"Huuhfh.."Boy hanya menghela napas panjang lantas bergegas mengambil beberapa salinan dan memasukannya kedalam Tas ransel.


"Jangan pergi lagi, Den ! "Bibi yang sudah bertahun-tahun bekerja dirumahnya tiba-tiba saja menghampiri dan mencegah Boy pergi dari rumah lagi.

__ADS_1


"Aku muak berada dirumah ini, Bi "


"Tapi, Den..Kasian Nyonya, Tiap hari Nyonya sendirian, Kesepian.."


"Aku tahu, Bi "


"Huuhfh, Aku titip Mamah ya, Bi ! Tolong temani dan jaga Mamah.."


"Aden bener-bener mau pergi lagi ?


"Ya, Aku gak bakal pulang sebelum Papah menarik Kata-katanya.."


"Den ?


"Sudahlah, Bi "


"Jangan lupa kabarin Aku kalau ada apa-apa sama Mamah atau Sonia..."Boy tersenyum kecut seraya menyambar Tas ransel lantas melangkah cepat keluar dari kamarnya.


"Sampai kapan Boy ? "Petter hanya menghela napas pasrah ketika putranya melenggang pergi tanpa permisi bahkan tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.


*


*


*


*


"Nyamboeng, Next episode yah..

__ADS_1


"Author lagi sibuk ngitung jumlah bintang dilangit jadi gak sempet ngetik banyak-banyak"


(padahal masih siang tapi kok banyak bintang)


__ADS_2