
Sambutan hangat dan pelukan erat Mama Shoffie seketika terhambur ketika Boy dan Siti tiba dirumahnya.
Celotehan Sonia pun mendadak nyaring tanpa jeda ketika pasangan pengantin baru itu berkumpul bersama mereka.
Namun semua mata tertuju pada Petter ketika sebuah amplok berwarna coklat disodorkannya kehadapan Boy dan Siti.
"Ambilah ! ini kado dari Papa sama Mama.." Senyum lebar tersungging pada bibir Petter dan Shoffie.
Boy dan Siti sejenak beradu pandang merasa heran dan penasaran atas pemberian orangtua mereka.
"Heh ? "kedua mata Boy mendelik ketika membuka isi amplok itu yang berisikan sebuah surat kepemilikan rumah dan sertifikat tanah atas namanya.
"Kalian ngasih aku rumah ? Astaga ?
Buat apa ? Aku masih sanggup kok beli rumah sendiri..."
"Baaaang ! "Siti menepuk tangan suaminya yang terlihat menolak pemberian itu tanpa terlihat menghargai niat baik orangtuanya.
"Tuh kan ! Aku udah bilang , Pasti Ka Boy gak mau terima rumah itu..."Sonia terkekeh mengejek orangtuanya.
"Haiissh..."Petter hanya bisa geleng kepala meskipun kesal melihat tanggapan Boy.
"Kamu terima ya sayang ! "Shoffie langsung menyelak karna dia tau putranya itu cukup keras kepala.
"Kamu sudah melarang Papa ikut campur membiayai pernikahan kamu , sebagai orangtua sudah pasti kami kecewa meski akhirnya cuma bisa pasrah terima keputusan kamu..Karna itu Papa sama Mama inisiatif membeli rumah itu buat kalian ,yah setidaknya sebagai orangtua kami jadi merasa sedikit berguna...
"Haiisshh.. "Boy mendadak merasa bersalah mendengar keluhan dan kekecewaan orangtuanya.
"Mama bakal marah kalo kamu gak mau terima rumah itu..."Ketus Shoffie sengit.
"eemm...Aku juga pasti marah , Soalnya aku yang pilih rumah itu...hihihi..."Sonia ikut mencecar Kaka nya.
"Huuuhfhh..."Boy menghela napas lantas menatap wajah istrinya seakan meminta pendapat Siti.
"Terserah Abang ! "Ujar Siti menjawab tatapan Suaminya itu.
"iisshh...
"udah terima aja sih ! "Ketus Sonia sengit.
"Tapi gak ada tujuan apa-apa kan ? kok aku jadi curiga yah ? "Boy melirik sinis kearah Papa nya yang terlihat mengulum senyumannya.
"Aaiihh...Sama orangtua aja kamu curiga ? "Soffie mendelik kesal.
"Harga rumah ini pasti mahal kan ?
__ADS_1
Aku yakin Papa punya maksud terselubung ?
"Hahaha..."Petter tergelak mendengar ucapan putranya yang mencurigai dirinya.
"Tuh kan ?
"Kayaknya kamu masih aja gak bisa percaya sama Papa ? hahaha...Tapi emang ada yang harus Papa sampaikan sama kamu..
"Apa ?
"Ehemm.."Soffie mendelik sinis melirik suaminya.
"Aku makin curiga .."Cetus Boy.
"Huuhfh..Sudah waktunya kamu ikut urus perusahaan, Papa gak mau menantu Papa hidup susah karna kamu tetap keras kepala..
"Halaahh klise banget...."Ketus Boy sengit.
..Jadi rumah itu sogokan ? umpan supaya aku mau turun tangan ngurus perusahaan ?
"Haiissh..Rumah itu murni niatan kami..Tapi soal perusahaan itu kan emang tanggung jawab kamu.. jangan lupakan kepemilikan saham 45% itu atas nama kamu...
Sampai kapan kamu menolak pemberian kakek mu itu ?
"Sudahlah Pah ! Biarkan saja Boy hidup dengan cara dia sendiri ! Mama gak keberatan kok kalo dia gak mau ngurus perusahaan kita..
"Hemm..."Sonia hanya menghendikan bahunya
"Jangan lupa kalo Sonia itu Cuma punya hak 15% Saham ,sementara Si Boy itu 45% ..Papa yang selama ini mengurus perusahaan itu aja cuma punya saham 25%..Sisanya 15 % saham investor... Sampai kapan Dia menolak tanggung jawab nya ? ini amanah kakek loh ?
"Haiisshh..jangan tekan aku pake nama Kakek!
Aku tau ini rencana Papa kan ? Papa gak suka aku bikin usaha Caffe ?
"Mungkin buat Papa usaha Ku itu tidak punya potensi yang bagus ,Tapi buat aku usaha itu sangat berarti ,karna lewat usaha itu aku bisa bantu orang-orang yang sedang kesusahan..
"Aku tidak mengutamakan Laba dari usaha itu, Aku hanya berusaha sebaik mungkin supaya usaha itu terus berjalan dan bermanfaat buat orang lain..
"Kebahagiaan itu gak cuma soal uang Pah , Yah walaupun faktanya semua hal butuh uang Tapi Aku bangga bisa bantu orang-orang lewat usaha kecil ku itu..
"Lalu ? Kamu yakin bisa menghidupi keluargamu mengandalkan usaha itu ? "Petter terkekeh meremehkan.
"insyaAllah ...Sekarang ini aku lagi jalanin kontrak sama perusahaan Om Fian buat bikin ressort di Bali ,Aku yakin prospeknya bagus !
"Haiissh..kamu malah bantuin perusahaan orang lain ?
__ADS_1
"ini murni bisnis Pah ! Aku juga masih sibuk ngurusin pembangunan pesantren diBandung, aku gak punya waktu buat turun tangan ngurusin perusahaan kita ! Lagian Sonia pasti bisa kok , Aku bisa pantau dia dari balik layar..
"Pesantren ? Di Bandung ? "Sonia mendelik curiga.
"Hemm...Aku lagi join sama calon mertua kamu bangun Pesantren modern..
"Haiisshh..Kaka Curang ! "Ketus Sonia.
"Maafin aku Pah ! Aku belum bisa turun tangan ngurus perusahaan warisan kakek itu , aku bener-bener gak bisa bagi waktunya...
Urusan Caffe aja aku serahin sama Bagas dan Halimah..Urusan ressort lebih sering di handle sama Andre ..Aku lagi fokus ngurus pembangunan pesantren sama sekolah umum disana ,dan rencana nya bakal ada cabang baru karna pembangunannya sudah hampir selesai...Belum lagi usaha pabrikan yang aku bangun sama Ricco makin bagus kemajuannya...
"Aku bener-bener gak punya waktu pah , Makanya aku serahin semua nya sama Sonia!
Semua orang terdiam mencerna ucapan Boy yang terlihat begitu serius dan berambisi.
Petter tak pernah menyangka putra sulungnya itu begitu sibuk Padahal selama ini terlihat santay dan terkesan pemalas.
"Huuuhf..Ya Sudahlah !
Lanjutkan saja apa yang sudah kamu mulai !
Tapi jangan lupakan tanggung jawab kamu disini , Papa kan cuma antisipasi kalo tiba-tiba Si Bisu melamar adik kamu..."Petter terkekeh melirik kearah Sonia.
"Heh ? Maksudnya apa Pah ? "Semua mata tertuju pada Petter.
"Si Bisu itu sudah janji sama Papa bakal ngelamar kamu kalo urusan dia selesai.. Lalu Siapa yang mau ngurus perusahaan kalo kamu ikut sama Ricco ?
"Kok aku gak tau ? "Cecar Sonia.
"Kamu tuh cuma tau manja-manjaan aja sama dia , tapi gak pernah peka sama masalah dia..."
"Haiissh..Papah gak asyik...
"Hahaha...
"Masih lama kan Pah ? "Cecar Boy.
"Entahlah ! Dia belum ada omongan lagi sama Papah...
"Bearti aku masih punya waktu ?
"Hemm...semoga saja...
"Haiissh...
__ADS_1
"Bang Boy sesibuk itu ,tapi Dia keliatan tenang aja kayak orang gak punya kesibukan ? Apa ini cuma alesan dia supaya bisa nolak ? Sedari Awal Siti memilih diam dan hanya mencerna setiap pengakuan suaminya.