SHOLAWAT CINTA

SHOLAWAT CINTA
BonChap Part 1


__ADS_3

Boy tersentak kaget seakan hawa dingin menyelimuti tubuhnya yang gemetar dilanda kecemasan hingga jantung nya berdebar kencang tak karuan melihat Siti dikejauhan tengah menangis histeris sambil memanggil nama nya.


Untuk pertama kali nya Boy melihat tangisan pilu seorang Siti yang seketika itu pula membuat dada Boy terasa sesak menahan gejolak bathin yang menghujam perasaan dan menggoyahkan pendiriannya.


"Kenapa Siti ? Kenapa harus menangis ? Air mata lu bikin gua makin berat ninggalin elu.."Kedua mata Boy semakin terbelalak melihat Siti semakin histeris sambil memukul-mukul sekat kaca dihadapannya.


"Astaga Siti ? "Lirih Boy semakin kalut dan bimbang dengan keputusannya menyaksikan gadis yang paling disayanginya begitu histeris memanggil-manggil nama nya.


Kedua mata Boy semakin berkaca-kaca berusaha tetap tegar dan sekuat tenaga menahan air mata yang seakan berontak ingin segera meluap tak ingin terbendung oleh tembok keegoisannya.


"Bugh.."Boy memukul sekat kaca dengan kepalan tangan yang gemetar meluapkan kegelisahannya seraya membalikan tubuhnya berjalan menjauh tak kuasa menyaksikan isak tangis pilu Siti yang begitu menyayat hati dan menggoyahkan keyakinan Boy atas keputusan yang dipilihnya.


Langkah kaki Boy terasa begitu berat seakan digelayuti beban yang membelunggu setiap hentakan langkah gontai nya.


Hati nya terasa begitu teriris dan pilu menyadari Siti begitu mengharapkannya hingga tanpa sadar Boy malah keluar dari jalur keberangkatan penumpang pesawat.


"Apa keputusan gua salah ? "Lirih Boy mengingat sifat dan karakter Siti yang sudah pasti menerima perjodohan itu karna sifatnya yang selalu manut dan menuruti semua kemauan orangtua dan tak ingin mengecewakan mereka.


"Gua harus gimana Siti ?


"Aaarrghh..."Boy memekik menempelkan keningnya pada dinding tembok, suaranya terdengar serak dan berat dengan tangan mengepal memukul dinding tembok itu hingga perlahan tubuhnya merosot bersimpuh dilantai menghadap kedinding.


"Gua harus gimanaaaa...? "Akhirnya airmata yang sedaritadi ditahan sekuat tenaga itu kini meluap tak terbendung lagi membasahi pipi hingga mengalir deras menetes diujung dagunya.

__ADS_1


Kepala Boy semakin tertunduk dan hampir menempel ke lantai dan tubuhnya pun semakin bergetar seirama deru napas nya yang terdengar kasar tak beraturan akibat luapan emosi yang begitu menyesakan dada.


"Ada apa Mas ? Ada yang bisa saya bantu ? Tolong jangan menangis disini karena bisa mengganggu kenyamanan ditempat ini ! "Seorang keamanan Bandara menghampiri dan langsung memapah Boy untuk duduk diatas kursi diseberang pintu masuk penumpang.


"Sorry Pak ! Gua kebawa suasana..."Ucap Boy lirih dengan kepala yang masih tertunduk.


"gak apa-apa Mas ! cuma gak etis aja kalo si Mas nya jadi tontonan penumpang lain..


O'ya Mas ini keluar dari jalur keberangkatan loh ? dan pesawat nya juga baru aja take of..


"iya kah ? "Boy menengadahkan wajahnya melihat pintu masuk nampak lengang dan hanya menyisakan petugas jaga.


Sang keamanan nampak tersenyum tipis melihat ekspresi Boy yang terperangah keheranan.


"ehh iya Pak ..Makasih ya Pak.. "Boy berusaha tersenyum disela kesedihan dan kebimbangannya.


"Kalo begitu saya permisi dulu dan tolong jangan nangis lagi yah ! Sang petugas keamanan pun bangkit dan menjauh dari hadapan Boy.


"selalu ada hikmah dari setiap kejadian Mas..."Ucap sang petugas keamanan sambil melangkah dan memalingkan wajahnya.


Sejenak Boy terdiam berusaha mencerna ucapan Petugas keamanan itu dengan tatapan lurus kedepan.


"Benar..selalu ada hikmahnya ? "Gumam Boy pelan lantas bangkit berdiri dan berlarian keluar area boarding dengan tergesa-gesa hingga tubuh gemetarnya sedikit terhuyung tak seimbang dengan langkah cepatnya.

__ADS_1


Hingga diujung sekat kaca langkah kaki Boy terhenti,Kedua matanya kembali berkaca-kaca menyaksikan orang-orang yang disayanginya tengah bersiap pergi dari bandara.


Mama Shoffi terlihat menangis pilu dalam pelukan Papa petter, sementara Ricco dan Andre terlihat begitu marah sambil menendang apa saja yang ada dihadapannya.


Dibelakang mereka nampak Sonia tengah berusaha menenangkan Siti yang masih saja menangis terisak pilu dalam pelukannya.


Boy semakin dilanda kegelisahan dan kebimbangan melihat pemandangan yang terasa pedih dimatanya.


kedua tangannya mengepal begitu kencang seakan ingin segera meluapkan perasaan yang berkecamuk dan tak terbendung.


"Maafin aku Mah..aku harus tetap pergi.."Lirih Boy menatap dari kejauhan sang Mama yang masih saja terisak ketika masuk kedalam mobil.


"gua titip keluarga gua Bro..! "Kedua mata Boy menatap lurus kearah Ricco yang terlihat mendengus kesal membanting pintu mobil.


"Biarlah tuhan yang menentukan nasib kita.."Suara Boy terdengar lirih dan berat ketika kedua matanya tertuju pada Siti yang melangkah perlahan masuk kedalam mobil.


Sementara Siti mendadak menghentikan langkahnya seakan ada perasaan yang tak bisa dijelaskan oleh akal sehat namun menggetarkan hatinya.


"Bang Boy ? "Lirih Siti membalikan tubuh dan mengedarkan pandangannya kesegala arah mengikuti naluri nya yang berlawanan dengan logika nya.


Dan diujung sekat dibalik jendela kaca Boy tersenyum kecut melihat Siti membalikan tubuhnya sambil mengedarkan pandangannya.


"Apa lu bisa ngerasain keberadaan gua,Siti ? aah Shitt..wajah itu akan sangat sulit untuk dilupakan..

__ADS_1


__ADS_2