
"Aku didepan kontrakan.."
"Heh ? "Tini mendadak terkejut ketika membaca isi pesan Chatt yang terpampang dilayar Handphonenya.
Dengan rasa penasarannya Tini menyibak korden jendela mencoba melihat tamu yang datang dipagi buta.
"Ibu ngintip yah ?
"Ehh, Enggak Kok ! Tadi ibu denger suara mobil didepan kontrakan.."Seketika Tini berkilah saat Budi tiba-tiba saja menebak tingkah lakunya.
"Jangan-jangan Om Thonny yang dateng ? "
"Aiihh..Kenapa anak ini cuma inget sama Si Thonny sih ? Ibunya aja daritadi dicuekin.." Tini hanya bisa berdecak gemas melihat anaknya berlarian keluar.
"Mau apa sih pagi-pagi datang kesini ? Jangan-jangan dia mau ikut ke rumah neneknya Budi ?" Dengan langkah gontai dan terlihat malas, Tini menghampiri Thonny yang sudah terlihat begitu akrab dengan anaknya.
"Hey,
"Yah..
"Asem amat itu muka ? "Thonny malah terkekeh melihat raut wajah Tini yang terlihat enggan menyambut kedatangannya.
"Ah iya, Gitar buat kamu udah Om bawain.."
"Beneran Om ?
"iya dong ! Tuh ambil aja didalem mobil !
"Beneran ? yeeaahh..."Budi langsung berlarian menuju mobil yang terparkir didepan kontrakan.
"Kenapa ? Maaf, kalo kedatangan aku malah ganggu kamu..Aku cuma mau tepatin janji aku sama Si Budi sekalian bawa sarapan buat dia.."
"Haiish.."Tini tak bisa berkata apa-apa lagi ketika melihat Budi kembali dari mobil membawa gitar baru dengan raut wajah yang begitu senang dan antusias.
"Makasih Thon ! Tapi, Jangan kayak gini lagi ! Aku gak suka liat Budi terlalu dimanja.."
"Hey? Aku gak ada maksud manjain dia, Aku cuma membuka sarana buat dia mengembangkan potensinya.."
"Maksud kamu ? Aku gak mampu kasih dia semua itu ? Ya, emang benar ! Aku memang gak mampu, Tapi aku masih mampu kasih pendidikan yang baik tanpa harus sering memanjakan dia.."
"Astaga Tini, Kamu tuh bener-bener, Aahh ? Sudahlah..Aku gak mau debat.."
Sekilas Tini menyembunyikan senyum tipisnya ketika melihat Thonny mendengus kesal dan hanya bisa pasrah dihadapannya.
"Keren Om, Gitarnya bagus banget.."
"iya dong ! Khusus buat kamu..Nanti kalo udah jago mainnya, langsung rekaman distudio Om Boy..hehehe"
"Beneran Om ?
__ADS_1
"iya dong.."
"Kalo gitu aku mau serius belajar biar bisa rekaman..hihihi
"Goodboy ! Tapi, Kamu juga jangan lupa sama pelajaran sekolah !
"Tenang aja Om ! Aku kan juara kelas hehehe.."
"Mantap ! My Boy emang paling the Best..haha
"iya dong..hehehe
"Les Paul ? Astaga, gitar itu harganya mahal banget.." Seketika Tini merasa bingung dan tak enak hati ketika melihat harga dari merk gitar itu dilaman pencarian mbah google.
"Gitar ini udah gak diproduksi lagi ? berarti termasuk barang langka dong ? Harganya juga lebih dari 40 juta ? Astaga ? " Tini semakin bingung harus berkata apa setelah mengetahui bahwa gitar pemberian Thonny itu sangat mahal dan berharga.
"Thon ?
"Yah..
"Engh..Emm..
"Apa sih ? Kenapa mendadak gagap gitu ?
"Kamu beneran beli gitar itu ?
"Enggak kok, Gak bakal bisa beli gitar itu dalam waktu semalam.."
"Kenapa harus gitar itu ? Budi gak pantes pake gitar itu, Lagian kalo nanti rusak bakal susah benerinnya..'
"Hey ? Itu pemberian aku, Bukan soal pantas atau tidak, Tapi ini soal janji aku sama dia.."
"Janji ?
"Iya..Kalo aku gak bisa tepatin janji aku sama dia, Gimana aku bisa tepatin janji sama kamu.."
"isshh.."Tini hanya mendesis jengah melihat Thonny tersenyum mengejek dirinya.
"Tapi gitar itu kan mahal.."
"Heh ? Kamu tahu harga gitar itu ?
"Barusan aku liat di embah Google.."
"Astaga, Kamu tenang aja ! Gitar itu satu-satunya koleksi yang aku simpan di studio, Daripada cuma jadi pajangan mending aku kasih sama Si Budi.."
"Tetep aja harganya mahal.."
"Haiissh..Gak apa-apa, Anggap aja rewards buat dia, asalkan mau belajar lebih baik lagi"
__ADS_1
"Aku gak mau berhutang sama kamu.."
"Hey ? Kok ngomong gitu sih ? Sudahlah, Jangan ngomongin obrolan gak penting.."
Meski berat hati, Tini tak bisa lagi menolak pemberian Thonny yang terlampau mewah bagi dirinya yang selama ini hidup dengan segala kekurangan.
"Huuhfh..."Hanya bisa menghela napas pasrah yang Tini lakukan ketika melihat raut wajah bahagia anak kesayangannya.
"Aihh, Kamu gak tau aja Tin, Itu gitar kesayangan aku, Dan aku ikhlas ngasih gitar itu buat calon anak kesayangan aku.." Kini Thonny yang terlihat menghela napas ketika menatap wajah Budi yang terlihat semakin ceria.
Namun ketika Thonny menatap lekat wajah Budi, tiba-tiba saja Dia teringat peristiwa memalukan yang selalu menjadi penyesalan seumur hidupnya.
"Kamu kenapa ? Kok bengong ?
"Eh, Gak apa-apa kok ! Cuma keingetan sama dosa masa lalu.."
"Heh ? Dosa masa lalu ?
"Hemm.."Thonny hanya menganggukan kepala tak berani menjelaskan apapun.
"Hah ? itu ? "Tiba-tiba saja Thonny terperangah dan terkejut ketika melihat sebuah seragam pelayan yang sedang dijemur dihalaman kontrakan.
"apa sih ?
"itu seragam siapa ? Punya kamu ?
"Ya iyalah, itu semua jemuran aku, Masa ada pakaian orang lain?
"Seragam itu ? itu kan seragam pelayan Hotel?
"iya..Itu seragam lama, dulu aku pernah kerja di Hotel itu.."Entah kenapa nada suara Tini terdengar begitu berat seakan menutupi sesuatu.
"Kapan ? "Thonny malah semakin penasaran.
"5 tahun yang lalu.."
"5 Tahun ? berati si Budi belum lahir ?
"Justru karena kerja di Hotel itu, Aku jadi punya si Budi.."Sekilas senyum getir Tini dan ucapan bernada berat itu malah membuat Thonny berdesir dengan degup jantung tak beraturan
"Apa mungkin..? Aahh..."Seketika Thonny bangkit dengan raut wajah kebingungan.
"Eh, Kamu kenapa Thon ?
"Aku, aku..aahh.. Aku harus pergi, Ada urusan penting.."
"Loh, Om Thonny mau kemana Bu ?
"Mungkin mau kerja.." Tiba-tiba saja perasaan Tini terhenyak tak menentu ketika melihat Thonny terburu-buru berlarian masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
"Kenapa Dia buru-buru banget ? Apa aku salah ngomong ? Eh, kenapa dia bahas soal seragam hotel ?" Entah apa yang dipikirkan Tini namun dia hanya tahu bahwa perasaannya menyeruak dipenuhi kekhawatiran.