SHOLAWAT CINTA

SHOLAWAT CINTA
Sesal ?


__ADS_3

"Ahh Shitt..Shitt..


Damn !! kenapa gua ngomong kayak gitu? dia juga mungkin gak tau soal perjodohan itu..Tapi..tapi..? Aahh..Shiitt..Siaaall..Kenapa gua jadi ceroboh? Damn! ..gua harus pastiin ? apa siti tau soal perjodohan dia? Shitt..ceroboh!..Cerobbooohh...Shitt.."


Boy melepas selang oksigen dari mulutnya denggan kasar melemparnya kesembarang arah dan tanpa peduli pada darah yang keluar dari tangannya Boy melepas jarum infus yang menusuk sela tangannya.


"Ssh..ahh.."Sekilas mengkerjapkan matanya Boy merasakan perih ditangannya ,Namun rasa bersalahnya pada Siti membuatnya tak menghiraukan rasa sakit itu.


"Booyy..? Apa yang kamu lakukan ?


Papa petter berhambur mencengkram bahu boy yang masih gemetar namun Boy segera menghempaskannya dengan kasar


"jangan gila kamu..! Petter terperangah melihat raut wajah bengis putranya yang baru pertama kalinya dia lihat.


Mama shoffie terkejut dan hanya bisa mematung melihat tingkah dan ekspresi wajah Boy yang membius akal sehatnya hingga tak mampu berkata apa-apa.


"apa-apaan sih Lu..? Pekik Andre berlarian bersama Ricco dan Tonny yang juga terkejut melihat Boy sudah berdiri tegak turun dari ranjang brankar.


"Diam..!!!

__ADS_1


Dengan Sorot mata tajam dan aura bengis yang terpancar diwajahnya Boy menunjuk kearah tiga sahabatnya hingga mereka sontak menghentikan langkah mereka.


Sonia bergidik ngeri melihat aura bengis kakanya yang baru pertama kali dia lihat seumur hidupnya.


Dengan kaki yang gemetar dan tubuh yang sedikit terhuyung Boy berlarian keluar dari ruang rawat menyusul Siti.


"Aargh..Shitt.."Karena pandangannya hanya lurus kedepan Boy malah menabrak kursi tunggu pengunjung dan sebuah box sampah yang berada dijalur keluar ruangannya.


Dengan sisa tenaga nya meski kaki nya terasa nyeri akibat berbenturan dengan kursi Boy kembali berlari dengan napas terengah-engah.


"Bodoh ? kenapa gua bisa seceroboh itu..?Shitt..tunggu sayang! gua harus bicara.."


Beberapa orang disepanjang kursi tunggu yang melihat Boy berlarian dengan penampilan acak-acakan berdecak heran dan terkejut menyaksikan seorang lelaki mengenakan pakaian khusus pasien berlarian dan sesekali terhuyung dan berpegangan pada dinding rumah sakit disusul dengan beberapa orang yang juga berlarian menyusulnya.


"SITIII..."Boy berteriak kencang begitu dirinya sampai didepan parkiran rumah sakit dan melihat Siti dibalik jendela kaca mobil tengah tertunduk dan tak mendengar panggilannya.


"Siti..? Aargh..Shitt..!!! "Dengan tubuh limbung Boy berusaha mengejar Mobil yang berada diportal keluar rumah sakit itu


Dengan napas memburu sesekali terengah-engah Boy berusaha memekik memanggil nama Siti namun tenggorokan nya terasa tercekik karena napasnya tak beraturan.

__ADS_1


"Damn..! Ceroboh..ceroboh..


Siaaall..Arghh..


Boy hanya bisa mengumpat dalam hati merutuki kebodohannya yang sudah menyakiti gadis kesayangannya dengan tingkah dan kata-kata yang membungkam keyakinannya.


"Maaf Siti.."Suara lirih dan lemah keluar dari mulut Boy selepas kepergian Mobil yang membawa Siti terlihat begitu cepat keluar menembus jalanraya.


"Bangsaaadd..."Ricco melompat dan menarik kerah baju Boy dengan kasar.


"otak lu dimana Nyet ? Jangan egois kayak gini ! kelakuan lu ini bikin semua orang makin khawatir.."Ricco semakin meradang dengan kedua tangan yang begitu kencang mencengkram kerah baju Boy.


Sementara Boy hanya terdiam tanpa peduli dengan teriakan dan makian sahabatnya itu karena isi kepalanya saat ini hanyalah merutuki kebodohannya yang telah menyakiti gadis impiannya.


Andre dan Tonny bergegas menenangkan Ricco dengan menepuk-nepuk bahu nya kemudian memboyong Boy kembali menggunakan kursi roda yang disodorkan oleh Sonia.


Petter dan Shoffie seakan tak berdaya dengan keadaan saat ini ,mereka hanya bisa terdiam menyaksikan putranya yang hilang kendali dan menyusahkan semua orang.


"Sebegitu sayangnya kamu sama Siti sampai-sampai kamu mengabaikan keadaan dirimu sendiri ? kamu memang anak bodoh ku Boy.."Batin Petter terenyuh.

__ADS_1


__ADS_2