Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Bagai Hidup Di Neraka


__ADS_3

"Heh j*l*ng! Kemarilah dan puaskan kami! Hehehe," Hina lelaki yang tak jauh umurnya dengan Vie yang berusia 17 tahun.


Bukan meng-iyakan kalimat lelaki itu dengan hanya diam dan tetap melanjutkan langkahnya menuju sekolah, hanya saja dia muak untuk terus terusan marah dan meladeni orang yang tidak penting sama sekali!


"Heh j*l*ng! Kau dengar tidak!... Sok sok-an tuli lagi! Dasar sampah yatim!"


Kata kata itu mampu membuat Vie berhenti melangkah. Kupingnya sangat panas mendengar kalimat yatim.


Memangnya apa yang salah dengan yatim ?


Dia bahkan tak menginginkan menjadi seorang yatim dalam hidupnya!


Vie mencengkram telapak tangannya dan membalikkan badannya menatap lurus ke lelaki yang menghinanya itu, yang tak lain adalah teman sekelasnya dengan tatapan marah.


"Apa? Gak senang? Lah kan emang iya yatim... Y-A Ya.. T-I Ti tambah M, YATIM!" Ledeknya dengan mengeja kalimat yatim dengan tawaan.


Vie menarik nafas dalam dalam. Mencoba berfikir panjang. Jika dia membalas lelaki tersebut, dia akan semakin terjerat dalam masalah karena lelaki itu merupakan keturunan dari Investor terbesar di negara ini dan adalah salah satu keturunan dari orang yang paling berpengaruh di beberapa negara.


Sial!


Vie hanya mengumpat dalam hati dan kembali berbalik dan berjalan masuk ke dalam sekolah.


Kenapa hidupku sangat tak adil!


***


Vie membaca buku di dalam perpustakaan sekolah dan tak memperdulikan betapa laparnya dia sekarang di jam istirahat ini. Bukan karena dia ingin belajar seserius mungkin, tapi karena dia memang tak memiliki uang yang cukup untuk jajan sana sini. Dia harus berhemat jika dia ingin lebih lama bertahan hidup.


"Is... Itu anak yatim itu kan? Yang nunggak nunggak bayar SPP sekolah. Iya ngak sih?..."


"Ho'oh... Najis ya kan. Udah gembel sok sok-an tetap mau sekolah. Ngak tau diri."


"Stt... Ntar si gembel dengar tau.."


"Hahah... Ups.."


Sering kali terdengar bisikan yang di lontarkan murid murid sekolah yang selalu merendahkannya.


Berbisik tapi kedengaran. Dasar sialan!


Vie menatap tajam mereka dan di balas tatapan merendahkan oleh mereka terhadap Vie. "BISA DIEM NGAK KALIAN SEMUA!" Emosi Vie memuncak.


"VIE!" Pekik seseorang dari arah meja pengawas perpus membuat Vie spontan melihat ke arah sumber suara.

__ADS_1


"KAMU ITU YA! SELALU BUAT KERIBUTAN! PERGI SANA!" Usir wanita paruh baya yang duduk di sana yang bisanya setiap murid memanggilnya petugas perpus.


"Ta-tapi Bu... Bukan saya deluan.. tapi mere..."


"DIAM VIE! PERGI KELUAR. SE-KA-RANG!" Kata ibu itu dengan penuh penekanan dan merendahkan.


Vie terdiam. Kemudian merundukkan kepala pergi keluar perpus dengan membuat sang wanita pembuat onar yang sesungguhnya tersenyum menang.


Begitu salahkan aku huh?!


Kenapa aku harus lahir kalau hidup dengan tersiksa seperti ini?!


***


Vie menatap mesin kasir yang ada di hadapannya dengan berfikir panjang selama dia bekerja paruh waktu sekarang.


Dia bahkan tak punya waktu untuk istirahat karena harus bekerja dan memenuhi kebutuhannya sendiri agar dapat bertahan hidup.


Ada suatu ide gila yang muncul di pikirannya.


Bagaimana jika aku sungguh menjadi wanita malam saja?... Toh gajinya sangat mengiurkan di bandingkan kerja paruh waktu di supermarket seperti ini. Dengan uang itu aku dapat bertahan hidup dengan keuangan yang lebih layak...


Hidupku sungguh tak berguna...


Plak..


Vie menampar dirinya sendiri menyadari kebodohannya. Apa apaan coba pikirannya itu!


Vie yang beremuk terus dengan pikiran dan batinnya membuat dia jadi pusing sendiri.


"Heh Vie? Kenapa?" Tanya salah satu karyawan yang tengah aneh menatap Vie yang terus melamun.


Vie pun tersadar dari lamunannya, "Eh. Ngak kak."


Lelaki itu masih tak percaya, "Yakin?"


Vie mengagguk cepat. Dan tersenyum ramah. "Gak apa kak. Ingat banyak pr di sekolah aja. Hehe."


"Oh.. Oke kalau gitu. Btw ntar lagi kita pulang. Kamu siap siap gih."


"Oh iya kak. Makasih udah mengingatkan."


Vie langsung berbenah dan menyiapkan diri untuk sebentar lagi pulang.

__ADS_1


Tanpa di sadari Vie, lelaki yang menegurnya tadi masih terus menatapnya dengan penuh rasa kuatir. Dia merasa kasian dan perduli padanya dan bahkan ingin melindunginya dari pada apapun. Namun lelaki itu merasa dia bukanlah siapa siapa yang bisa menjadi heroik di hidup Vie.


Setelah segala pekerjaan di supermarket selesai Vie pun berjalan pulang ke rumahnya yang berukuran kecil dan lebih layak di katakan hanya sebuah kamar kos kosan.


Di perjalanan Vie terus melamun dan tak menyadari kalau langkah kakinya menuju arah yang berlawanan dari rumahnya.


Dan tersadar saat mendengar suara dentuman lagi yang keras dari suatu tempat elit yang terlihat seperti bar mahal.


Vie melihat begitu banyak wanita yang berbaju ketat tengah mendampingi lelaki yang bahkan sangat tua dan akhirnya wanita itu mendapatkan uang yang banyak.


Apakah itu yang di katakan dengan ******?


Vie mendekati bar tersebut dan mencoba masuk ke dalamnya. Saat di dalam suara DJ sangat terdengar memekakkan telinga dan membuatnya merasa tak nyaman dan memutuskan untuk kembali keluar dari bar ini.


Tep


Tangan Vie di tahan oleh seseorang. Vie melihat ke arah lelaki itu.


Lelaki paruh baya dengan wajah sangat tampan dan dada bidang yang tampak karena bajunya setengah terbuka.


Vie menarik tangannya dan menatap marah lelaki itu. "Dasar gak sopan! Berani beraninya kau menyentuh ku!" Jerit Vie membuat lelaki itu heran sesaat kemudian tersenyum dengan bibir yang sangat indah.


Lelaki itu berdiri dari duduknya membuat Vie mendongak karena tubuhnya yang tinggi. Mencondongkan tubuhnya dan berbisik, "Malam ini jadilah milikku, aku akan membayarmu dengan harga tinggi." Katanya dengan suara bariton lembut menggoda yang membuat bulu kuduk Vie merinding.


Vie adalah wanita yang sangat polos tapi juga galak, "Apaan kau?! Setres ya?! Pergi sana!" Vie mendorong tubuh lelaki itu namun tertahan dengan tangan lelaki itu yang sangat cepat merangkul pinggang Vie.


Lelaki itu tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke arah Vie, wajah yang tampak manis jika di poles sedikit. Membuat lelaki itu semakin tertarik. Lelaki itu bernama Brandon.


Ntah apa yang di pikirkan Brandon saat itu, seperti ada suatu tarikan yang membuat dia menginginkan wanita ini.


Bukan hanya untuk pemuasnya dalam semalam.


Tapi untuk menjadi budak pemuasnya untuk beberapa hari kedelapan.


Catatan penulis:


Gimana gimana guys?!....


Ngerih ngak tuh si Brandon... Mwehehe...


Kalau suka tinggal di rate bintang 5, like, comment, vote, beri hadiah dan masukkan ke dalam perpustakaan kalian ya guys... Biar bisa melihat chapter up terbarunya sayy...


Ingat loh ya... Tinggalkan jejak... Jangan nge-ghosting. Karena di ghosting-in itu ngak enak dan ngak bagus untuk kesehatan...

__ADS_1


Oke deh... Tunggu chapter berikutnya ya sayang.... Bye....


__ADS_2