
Catatan penulis:
Hai hai... Aku up lagi nih...
Jangan lupa di like komen vote dan beri hadiah juga ya...
Oh ya... Seriusan guys. Paling ngak kalian like dong guys cerita aku nya, jangan hanya di read doang tanpa ada dukungan. Please dong... Jangan jadi silent reader pleaseeee....
Aku lihat banyak yang baca tapi kenapa yang like ngak sebanyak yang baca guyss🥺...
Please dong di dukung akunya... Semakin banyak dukungan aku akan semakin semangat update cerita loh guyss...
Oke deh. Cuma mau bilang itu doang. Jangan lupa di hayati dan di lakuin ya guyss...
Oke deh... happy reading all 🤩👍
-----------------------------------------------------------
Aku memasang dasi Ryan dan membenarkan jasnya. Setelah selesai aku hendak kembali duduk di kursi.
Dia menatapku tajam.
"Kenapa?" Tanyaku.
Dia diam menatapku semakin kesal. Seperti bermakna sesuatu. Tapi apa?
Aku menatapnya heran, "Ya apa?"
"Kau adalah Nyai. Dan kau tak tau apa yang hendak kau perbuat?"
Aku mengerutkan keningku, "Memangnya apa?"
Dia menarik tanganku dan meletakkan nya di bahunya sedangkan tangannya yang menarik tanganku tadi pindah ke pinggangku. Dia mendekatkan wajahnya ke leher ku, "Manjain aku."
Dia mencium leherku dengan sedikit menyesapnya dan kemudian beralih mencium bibirku lembut.
Dia kemudian menatapku, "Aku mau kau menciumku setiap pagi tanpa ku minta. Manjakan aku sebagaimana kau memperlakukan aku layaknya suami." Dia mengelus pipiku di sela sela kalimatnya, "Lembut dan manis." Katanya dengan tatapan yang sulit ku artikan.
Deg!
__ADS_1
Getaran apa ini?!
Ngak! Aku gak boleh baper!
Ingat Vie, dia lelaki buaya!
Dia mengeratkan pelukannya seketika itu angin berhembus ringan.
Ryan melemahkan pelukannya dan melihatku bingung, "Aku pergi dulu. Banyak kerjaan." Katanya. Dia pergi meninggalkanku dengan raut wajah bingung sama sepertiku. Yup, ini terasa aneh, dia kenapa? Kenapa tiba tiba tingkahnya seperti orang linglung?
Ah terserah lah.
Aku membalikkan badan dan sangat terkejut saat melihat Dion ada di belakangku.
Cletak. Pintu tertutup seketika dengan seketika dengan keras. Namun kenapa pada asisten rumah tangga di rumah ini sama sekali mendatangi kamar Ryan dan panik?
Dia berjalan mendekatiku dengan cepat dan berhenti di hadapanku dengan tatapan tajam.
Mataku terbelalak saat dia tiba tiba langsung menciumku dan menyesap leherku.
Dia melakukannya lagi.
Jantungku sungguh tak karuan. Kemudian dia melihat ke arahku dengan tajam, "Menghapus jejaknya."
Dan ntah kenapa aku menyadari ini hal yang aneh tadi adalah perbuatannya, mulai dari Ryan yang tampak bingung dan dentuman pintu yang sama sekali tak terdengar oleh penghuni rumah.
Dia mendekati wajahnya namun aku menahan badannya, "Dion."
Dia tak menjawab dan menatapku datar.
Apakah ini yang di namakan hantu mengamuk? Atau... Inikah rasanya ketindihan?
Aku menatap matanya, sepertinya dia jatuhnya lebih ke marah. Sepertinya dia memiliki masalah dan karena dia bule jadi pelampiasannya hendak melakukan hubungan intim dengan wanita. Apakah hidupnya sebelumnya memilih masalah berat dan kembali terngiang di pikirannya lagi?
Astaga... Terlalu banyak pikiran ku terhadapnya.
Aku mengelus kepalanya lembut berharap dia lebih tenang.
Tatapannya tajamnya melemah dan kemudian memelukku erat dan terlungkup di atas bahu depanku.
__ADS_1
Aku masih mengelusnya dan menenangkannya. Aku tak mau memulai bicara, aku takut salah ngomong dan berakhir dia semakin marah dan membuat barang barang berterbangan dan hancur.
Dia mendongakkan kepalanya. "Apa Tuanmu berlaku baik padamu?"
Aku terkekeh remeh singkat mengingat Ryan yang semakin aneh. "Dia aneh makin lama. Makin gak jelas, sudah itu dia kadang lembut tiba tiba seperti binatang buas. Aku tak mengerti."
Dion menatapku datar dan dalam mengintimidasi, "Kau menyukainya?"
Aku menggeleng. "Gak. Siapa bilang? Ngapain juga suka sama dia? Ish.."
Dion kembali menatapku tajam, "Dia tak baik untukmu. Jangan pernah menyukainya."
Aku tersenyum kecil. "Terus aku menyukai siapa? Kau?" Aku terkekeh.
Dia menatapku dalam diam.
Aku jadi gerogi sendiri, "Ehem." Aku sedikit berdehem kecil menenangkan diri, "Ya kali ya kan. Kita kan beda alam."
Dia masih diam dan mendekatkan wajahnya perlahan, berhenti saat dia berada tepat 2 cm di depanku. "Namun kau bisa mengubah cara pikirku jika aku manusia bukan?"
Wajahku memanas dan gerah. Seperti kekurangan oksigen.
Aku menahan Dion. Dan kemudian mengipas kipas, "P-panas sekali. Apakah kita tak bisa melanjutkan perbincangan di saat duduk."
"Aku lebih nyaman seperti ini." Dia menurunkan kepalanya dan berada di leherku, dia menghembuskan nafas perlahan.
Aku sama sekali tak merasa panas ini semakin menurun, malahan semakin meningkat.
Dia mengelus leherku perlahan membuat aku seperti tersengat suatu hal aneh. "Kau berkeringat."
"Em. Oh ya! Aku sedang ingin ke taman. Bisakah kita ke sana? Aku sangat ingin ke sana!" Kataku dengan sedikit kekakuan menahan rasa deg-degan.
Dia menatapku, "Aku suka posisi ini." Katanya blak blakan.
"T-tapi aku mau ke taman... Please yaaa." Aku memohon.
Dia menatapku datar, "Hm. Kita berangkat."
Seketika angin dan kesilauan singkat menerpa kami dan membawa kami ke taman yang indah.
__ADS_1
Aku melihat dia dengan wajah dinginnya berdiri di sebelahku.
Aku menggeleng menyadarkan diri karena teenganga melihat view wajahnya yang tampak sangat tampan di sinari matahari pagi.