Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Bangkai akan tercium juga


__ADS_3

catatan penulis:


jangan lupa dukungannya ya guyss... (Like komen and vote.. kalau bisa kasih tips juga ya... hehehe) lop yu ol..


---------------------------------------------------------------------------


...Author POV...


Fian terus menerus minum minuman keras di bar semenjak sidang perceraiannya berjalan. Mereka akan resmi bercerai setelah 6 bulan kedelapan. Fian tak dapat mengelak dari keputusan Vie yang ingin menceraikannya.


Fian melihat jam tangannya,


02.00 AM


Sudah selarut ini dan dia belum pulang.


Fian mengusap wajahnya dan kemudian berjalan dengan gontai ke parkiran mobilnya.


Brukk


Tak sengaja seseorang menabraknya.


Mereka sama mabuknya.


Lelaki tua itu awalnya ingin memaki Fian namun dia terdiam kemudian menatap Fian dengan tubuh yang masih olang oleng. "Kau.... Sangat mirip dengan seseorang.... Hehehe.." ucapnya dengan suara berat dan serak.


Fian yang masih dapat fokus memperhatikan lelaki ini dengan datar.


"Wanita licik dan picik... Hm... Pembunuh sahabatnya sendiri agar tidak dapat menyainginya." Katanya.


"Wanita... Itu bahkan membayar ku untuk membunuh anak dari sahabatnya itu. Cih. Bedebah!" Sambung lelaki itu.


Fian menggeleng malas. Tampaknya lelaki tua ini sudah lepas kendali karena alkohol.


Fian kembali melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


"Andini! Andini... Ha ha ha... Karena kau aku menderita!!"


Deg!


Tubuh Fian membatu. Jantungnya berdetak kencang. Dengan kekakuan Fian membalikkan badannya, "Apa maksudmu!"


Lelaki itu tertawa menggelegar di ruangan parkiran kosong ini. "Dia. Membayarku membunuh sahabatnya bersama anak sahabatnya."


Deng


Telinga Fian seakan berdengung, dirinya seakan tertusuk ribuan panah mendengar hal ini, 'Sahabatnya? Apakah maksudnya adalah ibu Vie? Ibu Vie sahabat karib Mamanya bukan? Tapi Bukankah ibu Vie lah yang melakukan kejahatan pada Mama.' batin Fian memburu. Dia tak mempercayai apa yang di katakan lelaki tua ini. Namun Fian kembali bertanya tanya, bagaimana lelaki ini bisa mengenal ibunya?


'Tidak... Tidak... Ibuku tidak akan pernah melakukan itu.' batin Fian menguatkan diri.


Kemudian lelaki itu mulai marah membeludak seperti orang kesetanan, "Dan... Karenanya anakku mati dalam insiden itu!" Di akhir kata dia menjerit dan sangat marah.


"Dengan bodohnya dia membawa anakku ke tempat kejadian itu membuat anakku melihat semua nya. Anakku membenciku bahkan menjadi trauma... Anakku bunuh diri setelah nya!!! Sialan kau Andini!!!"


Lelaki itu berlari dengan gontai ke  arah Fian dan kemudian menarik kerah baju Fian, "Andini kau sialan!!! Aku tak punya siapapun lagii!!!"


Lelaki itu menjerit pada Fian seakan akan Andini adalah Fian.


Mereka menahan tangan lelaki itu yang hendak memukul wajah Fian karena sungguh emosi terhadap Andini yang memiliki wajah mirip dengan Fian.


"Lepaskan aku!!" Jerit lelaki itu saat terus di bawa oleh penjaga itu menjauh dari pada Fian.


Fian terduduk di lantai dan memegangi kepalanya.


"Tidak. Ini tidak mungkin!"


Fian segera bergegas menuju rumah orangtuanya.


Sesampainya di sana Fian di rumah orang tuanya pagi pagi subuh, Fian mengetuk pintu rumah.


"MA... MAMA..."

__ADS_1


Jerit Fian. Fian menuntut kebenaran.


Kedua orang tua Fian terbangun dari tidurnya dan segera keluar setelah mendengar suara Fian yang menjerit dari luar rumah.


Pintu di bukakan. "Ada apa Fian?!" Kedua orang tua Fian pun panik.


Fian memegang bahu mamanya, "Ma katakan padaku. Katakan kalau orang itu berbohong... Katakan kalau Mama bukan wanita sekeji itu..."


Jantung Andini berdetak kencang, 'A-apa, apa mungkin maksud Fian mengetahui kejahatan yang selama ini di tutupinya?' Batin Andini.


"Ada apa nak?! Katakanlah apa maksudnya?!" Papa Fian semakin bingung.


"Mama... Bukan mama yang membunuh Ibu Vie kan ma?... Please katakan itu bohong. Katakan bahwa pria yang ku jumpai berkata omong kosong. Katakan maa..." Fian mulai menangis.


Mama Fian tercekat dengan kalimat Fian. Anaknya telah mengetahui segalanya.


Melihat ekspresi wajah Mamanya dan sikap diam sang Mama, Fian tertegun.


Kaki Fian melemah dan badannya jatuh dengan berlutut. Dia tak menyangka.


Papa Fian terdiam. Dia menatap sang istri sungguh tak percaya. Bagaimana bisa Andini melakukan kejahatan itu dan menyembunyikan hal sebesar itu dari padanya?


"Untuk apa kamu lakukan ini Andini... Katakan!" Papa Fian mulai tersulut emosi.


Mama Fian menunduk. "Maafkan aku mas. Aku memang kejam, aku termakan api cemburu."


"Apa yang kamu cemburukan Andini. Aku suami kamu. Aku milikmu. Kenapa kamu malah menyakitinya... Kenapa Andini?!..."


"Maafkan aku mas... Aku sangat bersalah. Aku sudah mencoba untuk akan membicarakan hal ini pada kalian, namun aku tak memiliki keberanian sebesar itu." Andini mulai menangis tersedu sendu, "Aku minta maaf... Ku mohon maafkan aku..."


Hatinya sangat meringis, "Terserah aku mau di apakan. Aku tak tau lagi bagaimana menebus dosa ku ini. Hu hu hu... Maafkan aku..."


Fian tak perduli lagi. Dia bangkit berdiri dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya dengan megap. Jantungnya sungguh tak baik sekarang.


Dia menyalakan dirinya sendiri bagaimana dia begitu tak mengenal istrinya selama ini. Begitu baik istrinya bagaimana dia bisa mempercayai sang mama tanpa melihat kebenaran dan mencari tau. Sungguh bodoh!

__ADS_1


Fian mengemudikan mobilnya dengan brutal di jalan sepi di pagi buta.


Menangis dan meringis. Hanya itu yang menjalar dalam tubuhnya sekarang.


__ADS_2