Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Anak Didikan Ryan


__ADS_3

Catatan penulis:


Hai guys... Terimakasih atas dukungan kalian selama ini yaa... Aku jadi makin semangat mengupdate ceritanya..


Dan well, hari ini aku double up... dan bonus yang eps ini aku buat panjang 😆✌️... Semoga kalian suka yaa...


Btw, terus dukung karya author yaa... Semakin banyak dukungan kemungkinan besar aku juga bakal buat crazy up 😁✨...


Thank you guyss... Love you 🥰


 


Author POV


Ryan hanya diam dalam acara pemakaman yang di adakan pagi hari ini.


Andra dalton yaitu teman Ryan sedih melihat sahabatnya itu terus merenung dengan tatapan kosong.


Jika kau ingat siapa Andra. Dia adalah sahabat dekat Ryan dari luar negeri, wanita ini mencintai Ryan dengan sepenuh hati namun cintanya itu tak terbalaskan karena Ryan sungguh hanya menganggapnya sebagai teman.


Sesungguhnya Andra merasakan sedih bercampur senang. Sedih karena melihat Ryan yang sama sekali tak menunjukkan sikap bahagia, namun bahagia karena wanita yang di cintai Ryan alias saingan terbesarnya sudah tiada.


Mungkin terdengar kejam dan jahat. Namun itu semua karena dia sungguh mencintai Ryan dengan sangat tulus.


Andra memegang bahu Ryan, "Ryan. Sudahlah... Kau jangan terlarut dalam  kesedih seperti itu. Istrimu juga akan sedih jika melihatmu seperti ini."


Ryan tak menggubris dan terus saja melamun. Dia kehilangan harapan hidup, tak ada lagi Vie sama dengan tak ada lagi rasa cinta dalam kehidupannya.


Melihat hal itu membuat Andra semakin sedih dan prihatin. Dalam pikiran lain, Andra mencari cara untuk dapat merebut hati Ryan. Dia takkan bisa kalah dengan wanita kampungan seperti Vie kelas bawah itu, yang jelas jelas saja berbanding terbalik dengan dirinya yang berada pada kalangan high class di antara wanita yang pernah dekat dengan Ryan.


Setelah dikebumikan dan acara pemakaman telah selesai. Semua tamu yang hadir pun pulang, memang tak banyak yang hadir dalam acara ini karena para kolonial juga sedang sibuk berbenah untuk kembali kenegaraan asal mereka untuk menyusun rencana terbaru mengusir keberadaan Jepang dan kemudian kembali menduduki Indonesia.


***


Ryan pulang bersama Andra ke rumahnya. Suasana kosong.


Mayat mayat Nippon yang tadinya ada di ruang tamu telah di bersihkan dan di buang ke sungai oleh anggota Ryan, yang kemudian setelahnya pembantu Ryan mulai membersihkan rumah dari darah yang berceceran.


Karena malam telah tiba. Andra tidur di kamar tamu sedangkan Ryan masih menetap di bar mini yang berdekatan dengan ruang tamu. Dia meminum Anggur tua dengan brutal.

__ADS_1


Ryan melihat ke arah tepat Vie di hunus pedang oleh Nippon, memori kematian Vie kembali tereview pada pandangannya. Ryan kembali menangis dan memegangi dadanya yang sangat sesak dan teriris oleh kejadian itu. Dia tak tahan dengan tatapan Vie yang menahan rasa sakit untuk terakhir kalinya saat menatapnya.


Ryan memukul kepalanya prustasi dan kemudian memukul dadanya, "Vie..." Lirih Ryan.


Karena rumah ini begitu kosong membuat tangis Ryan terdengar di setiap penjuru rumah, dan bahkan sampai ke kamar Andra.


Andra yang mendengar tangisan Ryan pun ikut menangis, Andra sangat tersakiti melihat Ryan menderita. Dia merasakan bahwa Ryan sungguh hancur sekarang.


Dan Andra... Apa yang bisa dia perbuat? Dia tak tahu harus berbuat apa?


Andra pun memberanikan diri untuk menghampiri Ryan. Betapa tercengangnya Andra melihat sungguh banyak botol minuman keras yang di minum Ryan.


Segera Andra mengambil botol ke lima yang akan segera di habiskan Ryan. "Ryan cukup! Jangan bodoh Ryan! Sadarlah!"


Sontak Ryan melihat ke arah Andra dengan tatapan sayu. Dia kembali menangis, "Ini semua salahku Andra... Salahku... Karena aku dia tiada... Aku... Aku..."


Andra langsung memeluk Ryan. Hatinya sangat hancur melihat keadaan ini, "Ku mohon... Jangan begini..."


***


Ryan kembali ke negaranya.


Bahkan baru 2 hari kematian istrinya yang tersayang itu dan dia sudah membunuh 50 orang pekerjanya yang lemah dan di anggab menyusahkan.


"Tuan... maafkan saya... Jangan bunuh saya..." Ucap pegawainya sambil menyembah.


Ryan menatap lelaki itu dalam diam dengan sangat dingin. Lelaki itu tengah menggandeng seorang anak laki-lakinya. Anak laki-lakinya itu hanya diam, melihat Ryan datar tanpa rasa takut.


Ryan yang melihat anak itu tersenyum miring dingin, bagaimana anak ini sama sekali tak takut padanya sedangkan ayahnya sudah ketakutan sambil bertekuk lutut?


"J-jika aku mati, anak ini akan menjadi yatim piatu T-tuan. Ibunya telah meninggal dunia saat melahirkannya... K-ku mohon tuan. A-ampuni aku..." Mohon lelaki itu tersungkur pada kaki Ryan.


Ryan melihat ke arah anak lelaki itu, yang menurut perkiraan usia sepertinya umur anak itu 10 tahun.


Ryan mengacungkan pistolnya pada kepala ayahnya itu, namun anak itu tetap diam dan melihat datar kejadian yang akan menimpa ayahnya itu.


Di umur 10 tahun di jaman ini setiap anak sudah tau mengenai kematian dan ketakutan. Mereka lebih dewasa karena di tuntut oleh jaman mereka yang kejam. Namun anak ini, dia sama sekali tak merasa takut dan gentar dan malahan menatap ayahnya dingin.


Ryan melihat ke arah anak itu, "Kenapa kau diam? Tak takutkah kau jika aku membunuhnya dan mungkin juga akan membunuhmu?" Anak itu melihat ke arah Ryan dan tak menjawab, dia hanya diam.

__ADS_1


Ryan berjongkok dan melihat anak ini lekat. Sungguh pemberani... Atau mungkin bisu?


Ctak


Ryan menyentil keras jidad anak lelaki ini membuat anak itu memekik, "Apa kau gila?!"


Deg!


Keberanian anak ini mengingatkan dirinya akan sesuatu. Yup, akan dirinya sendiri. Dia seperti berkaca pada anak ini.


Ryan menatap anak ini tajam, "Kau berani denganku hm?"


"Tentu. Kenapa aku harus takut?" Ucapnya dengan tatapan datar dan dingin.


Ryan merasa sedikit terhibur dengan anak ini. Mungkin...


'Bagaimana jika aku memeliharanya?' batin Ryan.


Ryan mengangkat kepala sang ayah anak ini dengan ujung pistol, "Serahkan anak ini padaku. Dan kau selamat."


Ryan pikir ayah anak ini akan menahan anaknya karena ikatan keluarga yang erat. Namun Ryan salah...


Lelaki itu segera mengangguk cepat. Ryan sedikit heran dengan ayah anak ini, bagaimana dia bisa menyerahkan anaknya dengan mudah? Padahal tadi dia seakan akan ketakutan jika dia mati meninggalkan anaknya seorang diri.


Apakah mungkin anak ini di gunakan hanya sebagai tameng lelaki ini saja?


Ryan kembali melihat anak ini. Tatapannya tajam namun seperti ada kekosongan dari dalam dirinya. Tatapan kebencian ada dalam diri anak ini seperti membara dalam matanya.


Sepertinya memang benar apa dugaan Ryan. Ada kesamaan antara dirinya dan anak ini.


Ryan bangkit berdiri, dan


Dorr


Ryan menembak mati sang ayah dan anak itu hanya diam tak perduli walaupun cipratan darah terkena pada baju kemejanya.


"Hei boy. Follow me," ucap Ryan pada anak itu yang di sambut anggukan kepala oleh anak itu.


Dan mulai saat itu Ryan mendidik anak itu menjadi pribadi yang sama sepertinya. Yaitu bengis dan kejam.

__ADS_1


__ADS_2