
...Author POV...
Vie terus mengeluh kesakitan. Dan kini sakit perutnya sungguh tak tertahankan, "AAAA.... DIONN SAKITTT," jerit Vie menangis tak karu-karuan sungguh sakit rasa perutnya sekarang.
Dion meneteskan air mata terus menerus, dia binggung harus apa dan hanya dapat memanggil tabib kerajaan. Dion mengusap air mata istrinya yang terus menangis itu.
"Sabar sayang.... Bertahanlah..."
Dion terus merutuki dirinya kala mengingat kebodohannya memperbolehkan mereka keluar istana. Dan lihatlah, suatu yang paling tak ingin di harapkannya terjadi.
"Tuan. Ini kasus besar. Saya tak dapat membuat janin ini bertahan. Tak ada pergerakan sama sekali dan darah terus keluar Tuan," ucap sang tabib yang sekarang telah dibanjiri oleh peluh keringat karena menangani hal yang di luar batas kemampuannya.
"BODOH!! JIKA ISTRIKU TAK DAPAT SELAMAT, AKU AKAN MEMBUNUHMU BESERTA KELUARGAMU!!" bentak Dion. Sungguh pikirannya sangat kacau.
Dengan nafas termegap-megap Vie mencoba tetap bernafas. Namun karena sakit yang tak dapat dia tahankan lagi Vie pingsan tak sadarkan diri.
"VIE!!! VIEE!!! BANGUNLAH SAYANG.... KUMOHON..." Dion menepuk pelan pipi Vie berharap wanita itu sadar.
__ADS_1
Dion mengumpat dan kemudian keluar dari ruangan ini. Dion segera berlari menuju altar keramat tempat Dion sebelumnya berjumpa Dewa Kebengisan untuk bertapa.
Sampailah Dion di tempat itu dan mulailah dia menjerit, "DEWA!!! LEPASKAN VIE DARI KUTUKAN ITU!!! AKU TAK SANGGUP MELIHATNYA!!!"
Tak ada jawaban dan kekosongan yang terpampang di sana. Dion mengumpat dan memanjat altar itu, "JADIKAN AKU KURBAN PENGGANTI VIE!!! BIARKAN AKU YANG MENDERITA!!! KUMOHON PADAMU DEWA!!!" jerit Dion tak karuan. Sangat prustasi dan kakinya sangat lemah. Dion ambruk dan bertekuk lutut lemah, "Kumohon...."
Seketika angin kencang menerpanya dan kesilauan meliputi tempat dimana Dion sekarang.
Terdengar suara gemuruh tertawaan dari langit, "HAHAHAHAHA..... KAU TAK TAHAN BUKAN?.... DASAR RAJA YANG BODOH!.... HAHAHAHA...." Suara yang menghinanya itu akhirnya menampakkan sosoknya.
Dewa Kebengisan hadir dan berdiri di hadapan Dion dengan melayang, "Kau yakin akan menukarkan nyawamu demi gadis bodoh itu hm?"
Sang Dewa yang mengetahui alam pikiran Dion kembali tertawa, "Hei... Aku bisa menukarkan nyawa kehidupan mu dengannya Dion... Namun perlu kau ketahui, dia akan melupakanmu seumur hidupnya. Dia takkan pernah mengingatmu bahkan setitik pun tidak. Semua yang kau alami bersamanya akan lenyap, waktu akan terulang tepat di saat dia berjumpa denganmu pertama kalinya. Dirimu akan di hilangkan dari kehidupannya."
Deg!
Dion yang mengetahui itu terhenyak. Hatinya merasakan sesak di dada dan jantungnya merasa sangat sakit. Bagaimana jika Vie melupakannya? Dia tak dapat bayangkan jika wanitanya melupakan dirinya total. Sungguh sangat menyakitkan.
__ADS_1
"Kau tak terima?... Baiklah kalau begitu... Kau harus menerima jika dia akan sungguh mati tepat di depan matamu!"
Jantung Dion kembali terhenti, dia tak bisa... Dia tak bisa melihat orang yang paling di cintai nya dalam kehidupannya mati di hadapannya.
"Tapi aku mohon satu hal padamu... Izinkan aku dapat melihatnya untuk terakhir kalinya..."
Sang Dewa terkekeh, "Karena aku berbaik hati, aku akan mengizinkan mu untuk dapat berjumpa dengannya hingga 3 kali pertemuan dalam 1 minggu. Dan setelah itu kau akan lenyap. Dan.... Selama seminggu itu juga, kulitmu akan menua, mengering dan terlihat sangat tua dengan cepat."
Dion mengangguk pasrah. Inilah konsekuensinya, dia harus dapat menerima hal itu terjadi bukan?
Melihat persetujuan Dion, angin kembali bergemuruh dan suatu kilatan cahaya melingkupi dirinya.
Dion menutup matanya dengan tangannya. Setelah di rasa sinar itu tak menyilaukan lagi, Ryan membuka matanya.
Dia tengah duduk di singgah sananya.
Waktu kembali terulang. Kemudian Dion melihat tangannya.
__ADS_1
Lihatlah... Tangannya mulai mengeriput dan menua... Dion sudah pasrah.