Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Dion Hadir


__ADS_3

Catatan penulis:


Yuhu... Jangan lupa tinggalkan jejak ya...


Oke deh... Happy reading guys 🤗😁


-----------------------------------------------------------


Aku memeluk bantal guling dan melihat ke langit langit, memikirkan Hal yang teraneh yang masih belum bisa aku pecahkan.


Bagaimana aku bisa hidup tenang. Tanpa gangguan dan hambatan, tanpa pemaksaan dan kekerasan, tanpa apapun itu yang menyisaku. Apakah bisa?


Aku menelentangkan badanku dengan tangan melintang lebar, "Hidup oh hidup..."


Dreb..


Aku terbelalak saat melihat Dion memeluk dari sebelahku, "Kenapa hidupmu?"


Aku menghembuskan nafas berat, "Susah! Lelah hayati!" Kesal ku membuat dia terkekeh.


"Terutama memikirkanmu," ucapku malas.


"Aku?"


"Hm. Kau ini manusia, setan, jin atau apa sih?"


Dia terkekeh, "Memangnya penting?"


Dia menatapku, "Jadi kau menginginkanku jadi apa hm?"


"Hm. Gimana ya bilangnya, tadi kan aku yang nanya, kenapa jadi kau yang nanya?"


Dia terkekeh, "Aku akan beri tahi kalau kau menciumku lebih dari 10 menit." Ucapnya membuat aku bergidik ngeri.


"Apaan. Gila ya!" Kesalku.


Aku terkejut saat dia menempatkan wajahnya di atasku dan tersenyum miring, "Hanya 10 menit saja hm?"


Aku mendorongnya menjauh kemudian menjitaknya, "Kau itu ya. Aneh banget, tiba tiba muncul tiba tiba hilang. Kalau di tanya ngak di jawab. Heran." Kataku kesal.


Dia terkekeh dan kembali memelukku dari sebelahku, "Sebenarnya aku juga tak tau aku ini sebenarnya apa." Jawabnya.


Aku menoleh ke arahnya.


"Kadang orang lain menyebutku manusia yang paling berguna... Kadang mereka bilang aku iblis yang kejam. Aku tak tau." Katanya tanpa melihatku.


Dia menatapku, "Makanya aku tak tau mau jawab apa."


Mendengar pernyataannya aku jadi makin pusing.


Aku berfikir beberapa hal. Ada 4 ciri ciri manusia yang paling umum yang ku ketahui. Jika semuanya benar berarti dia manusia


__ADS_1



Memiliki wujud


Nah ini dia memiliki wujud.




Bernafas


Aku melihat perutnya kembang kempis berarti dia bernafas.




Bergerak


Dia bisa bergerak.




Merasa lapar dan haus


Kemarin dia makan sushi bersamaanku bukan?




"Ada satu hal lagi untuk memastikan aku manusia," ucapnya.


Aku menoleh ke arahnya. "Ck, pasti kau baca pikiranku lagi."


Dia tersenyum.


"Apaan?" Tanyaku lagi.


"Bereproduksi,"


Aku menyerngitkan dahiku, "Memang sih. Tapi gimana cara biar aku tau?" Tanyaku bingung.


Dia menaikkan salah satu alisnya dan tersenyum nakal, "Mau coba?"


Aku mencubitnya membuat dia meringis kesakitan, "Aw.."


"Rasain."


Dia terkekeh dan kembali memelukku, "Udah ah. Untuk apa juga mikirin yang sesuatu yang tak penting. Mendingan kita tidur aja."

__ADS_1


"Ah terserahmu lah. Aku lagi banyak pikiran," ujarku malas.


Gimana ya cara ubah nasib burukku?


"Itu mudah," katanya sambil bangkit duduk.


Aku mengikutinya duduk di sebelahnya, "Gimana?"


"Hm. Kau harus menikah denganku," katanya di akhiri dengan smirk jahil.


Aku memutar bola mataku malas, "Hem Hem... Perkataanmu sama sekali tak membantu." Aku berdecak kesal, "Padahal aku udah serius tadi. Aku pikir beneran."


Aku melihatnya kesal, "Dasar makhluk ngak jelas."


Dia tersenyum kecil kemudian mencium pipiku singkat. "Aku jelas tau." Ucapnya tak berdosa.


Aku menlap pipiku kasar dan menatapnya tajam. "Udah deh. Aku beneran serius ini."


Dia memelukku, "Jangan pernah berfikir mengubah apapun." Katanya dengan suara pelan.


Aku menjauhkan diriku untuk menatapnya, "Kenapa? Hidupku sudah sangat susah." Ucapku datar.


"Karena aku bersyukur kita bisa di pertemukan dengan takdir yang kau benci ini." Dia tersenyum dan mengelus kepalaku, "Aku sangat senang berjumpa denganmu kau tau."


Aku berdecak dan memalingkan wajahku. Namun tangannya mengelus pipiku dan menatapku lekat, "Aku akan ada di manapun kau ingin aku ada. Aku akan hadir dan menemanimu kapanpun kau memanggilku Vie.." dia menatapku begitu tulus.


Aku tersenyum, "Makasih."


Aku memeluknya erat sambil menggoyangkan badannya ke kanan dan kiri, "Makasih ya mahluk aneh.." ledekku.


Dia terkekeh. "Dasar pendek."


"Biarin." Jawabku.


Kami berdua saling menghangatkan. Suasana lebih nyaman dan hatiku terasa aman.


Aku mencium aroma tubuhnya. Terasa harum madu bercampur melati yang sangat khas. Berbeda dan bahkan seperti ada campuran lain di sana.


"Harummu unik." Ucapku.


Dia terkekeh, "Hanya 1 orang di muka bumi ini yang memiliki aroma ini sekarang, maka ciumlah sepuasnya." katanya sambil mengeratkan pelukannya


"Eleh. Berlebihan."


But really, I like this smell.


Tok tok tok tok


aku menoleh ke pintuku yang tertutup, "Siapa?"


"Heh babu! aku memerlukan tenagamu!" katanya dari balik pintu.


aku mendengus kesal. mau ngapain coba malam malam manggil.

__ADS_1


ngeselin banget!


__ADS_2