Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Baikan


__ADS_3

Catatan penulis:


Hehe. Hai guyss.... epribadeh ai lop yu so much!!!


mohon maap ye lama up. Harap maklum aja guys, lagi sibuk ngampus 😂...


Btw, karena semangat dukungan kalian aku jadi semakin semangat untuk up cerita guys.. 🤩💓


Thanks ya dukungannya...


Okelah langsung saja kali ya guys, HAPPY READING GUYS...


Don't forget to like comment dan vote ya...


________________________________________________


......Ryan POV......


Hatiku terasa remuk dan ingin sekali memeluknya dan menciumnya. Namun aku tetap tak bisa memaafkannya mengingatkan dia ingin pergi meninggalkanku tanpa alasan yang jelas menurutku, dan aku pikir itu pasti karena dia telah mencintai pria lain bukan?


Aku bangkit berdiri dan menatapnya tajam, "Diamlah. Kau terlalu banyak bicara. Kerjakan saja pekerjaanmu. Dan oh ya, karena kau langcang tak memanggil namaku dengan sebutan tuan kau ku hukum. Lari 100 kali lapangan dan push up 100 kali. Segera!"


Dia bangkit berdiri dan langsung mengangguk dengan wajah kesal, "Baik Tuan."


Aku pergi meninggalkannya.


Cih. Aku takkan membiarkanmu merasakan kebahagiaan!


***


Aku pulang dari kerjaanku melihat rumah yang sangat kosong. Aku masuk ke mengetuk pintu rumah, "Heh babu!"


Beberapa saat kemudian pintu rumah terbuka, aku terdiam saat melihat wajahnya begitu pucat.


Apa dia sakit?


Aku menggeleng. Cih, palingan ini cuma alasannya saja agar pekerjaannya di ringankan.


Aku tak perduli dan tetap masuk meninggalkan dia di belakang.


Bruk


Aku menoleh saat mendengar suara terjatuh, "Vie!" Jeritku saat dia terkulai di lantai.


Aku langsung menggendongnya ke kamar ku, begitu panik ku rasa.


Aku membaringkannya dan memegang tangannya, "Vie sadar ku mohon..."


Dia tak bergeming dan tak menjawab.


Dan ntah kenapa aku baru sadar ternyata badannya sangat panas.


Sial!


"Ergh..." Ucapnya, seketika membuat kepalaku menoleh.


"Sayang...?" Panggilku lembut menahan tangis.


"Tuanh.. huk.. maafh - lamah - menjawabmuh. Janganh - hukumh - akuh - lagih," ucapnya lemah.


Aku menggeleng, "Sayang... Maafkan aku. Aku terlalu egois padamu. Aku yang salah.. maafkan aku..."

__ADS_1


Sungguh aku sadar akulah yang salah di sini, aku yang terlalu terbakar cemburu buta membuat Vie jadi menderita tanpa bertanya apa dan kenapa dia sungguh ingin keluar dari rumahku.


Vie menggeleng, "Aku yang salah. Maafkan aku."


Air mataku keluar. Dia terlalu berbesar hati pada orang kejam sepertiku.


Aku memeluknya dan segera mengambil air putih kemudian membawanya pada Vie, saat aku ingin membantunya untuk duduk dia menggelengkan kepalanya, "Kepalaku sungguh pusing. Tak bisa..."


Aku sungguh takut namun aku tak ingin kehilangannya. Aku segera memasukkan obatnya yang ku bawa ke dalam mulutku dan menyeruput air dalam mulutku. Aku menautkan bibirku padanya dan mendorong isi mulutku padanya agar dia dapat meminum obat serta minum.


Dia meneguknya membuat aku lega.


Manik mata kami bertemu, Vie tersenyum dan kemudian menciumku lembut, "Maafkan aku yang dulu terlalu naif untuk ingin meninggalkanmu." Ucapnya.


Aku kembali menciumnya, "No baby, You're not wrong. Please don't said it again."


Aku kembali menciumnya dan memelukku tidur di sebelahnya, aku memeluk badannya, "Kau milikku dan aku milikmu."


Vie mengeratkan pelukanku, "Love you."


Aku mencium dahinya, "Love you too,"


***


Aku terbangun di pagi hari, memeluk ke arah sebelahku, terkejut karena Vie tak ada.


Tok tok tok


Aku melihat ke arah pintu, melihat Vie tengah memakai celemek untuk masak, dia menampakkan diri dan tersenyum, "Masakan sudah selesai."


Aku segera menghampirinya.


Dia tersenyum kecil, "Masih sakit sih. Tapi kan aku harus melayani."


Aku menggendongnya membuat dia menyerngit shock. Aku membawanya ke atas ranjang sambil menimpanya.


"Kalau masih sakit jangan kerja."


Dia melingkarkan tangannya di leherku, "Maafkan aku Tuan, tapi aku sungguh tak apa, aku akan melayanimu."


Mendengar itu membuat senyuman kecil mengulum di sudut bibirku, "Bukan begitu melayaniku."


"Jadi?"


Aku menyentuh bibirku dengan telunjukku


Dia menatapku tajam.


Aku tersenyum miring, "Tentu."


Pastinya dia takkan melakukannya bukan?


Aku terkekeh singkat, menyebalkan.


Dia mengedikkan bahu, "Baiklah jika itu keinginanmu."


Mataku terbelalak, Huh?


Cup


Dia mengecup bibirku singkat membuat aku terdiam.

__ADS_1


"Sudah. Aku mau kembali masak," ucapnya santai membuatku tersadar dari lamunan.


"Kenapa? Itu belum cukup." Ucapku dan kemudian menciumnya kembali, ********** perlahan dan merasakan bibirnya yang masih sedikit hangat karena sisa demam kemarin.


Bibirku perlahan turun ke lehernya dan mengecupnya di sana sini. Kemudian kembali mencium bibirnya.


Sungguh aku merindukannya.


Aromanya,


Deru nafasnya,


Serta kelembutan kulitnya saat ku jamah.


"Vie.. boleh ya?" Izinku.


Ntah sejak kapan aku meminta izin saat sebelum melakukan hubungan intim. But, aku rasa ini perlu ku katakan pada seseorang yang sungguh ku cintai.


Vie menggeleng pelan, "Aku masih sakit Ryan. Besok besok saja."


Aku mengecup bibirnya dan mengerucutkan bibirku, "Yah sayang..." Kataku kecewa.


Dia tersenyum, "Jangan gitu ah. Kamu mendingan mandi aja sana. Sebentar lagi kerja." Ucapnya membuat aku tersenyum, sungguh serasa seperti suaminya bukan.


Aku kembali menciumnya, "Gak mau ah. Aku mau enak enakan sama kamu hari ini..." Aku mendusel di ceruk lehernya sambil mengelus pinggangnya, "Sayang... Aku ingin banget tau gak..."


Aku kembali menciumi bibirnya dengan tangan terus jahil masuk ke dalam bajunya dan menyentuh kulit tubuh dalamnya.


Vie menarik tanganku ke luar, "Gak."


Aku menatapnya kecewa,


Dia hendak berdiri dan ku tahan, "Ya udah, cuma peluk juga tak apa." Aku memeluknya erat dan menenggelamkan wajahku di ceruk lehernya.


Aku tersenyum kecil, sungguh aku merindukannya. Dia mengelus kepalaku lembut.


Memikirkan banyak lelaki lain di luar sana, aku jadi kuatir. Aku sungguh tak ingin dia lepas dariku.


Aku mengecup lehernya, "Vie, setelah sembuh. Beri aku anak ya?"


Vie membelalakkan matanya dan menoleh melihatku,


Cup


Aku menciumnya lembut, "Aku ingin anak darimu."


Sebelum dia berbicara aku menciumnya beberapa saat dan kembali menatap matanya, "Aku akan menikahimu."


"Dengar Vie, aku tau ini membuatmu terkejut. Aku ingin bertanggung jawab atas perbuatanku padamu. Dan aku menginginkanmu bersamaku seumur hidupku." Ucapku tulus.


Wajah Vie memerah dan air mata menetes dari matanya, "Kau sungguh?"


Aku mengangguk dan mencium bibirnya perlahan, "Aku sangat serius."


"Aku akan akan mengurus semuanya, dan aku ingin kita menikah secepatnya,"


Dia mengangguk dan tersenyum,


Aku kembali berbaring di atasnya sambil memeluknya erat, "I love you."


Dia membalas pelukanku, "I love you too."

__ADS_1


__ADS_2