
...Author POV...
Vie melihat sudut kamar. Dia sungguh bosan karena berlama-lama di istana terus seperti ini.
Semenjak beberapa bulan kehamilannya, Dion semakin posesif. Dia bahkan tak pernah berhenti untuk mengecek Vie setiap waktu untuk sekedar memastikan keadaan Vie.
Sebenarnya Dion selain takut dengan kondisi Vie yang semakin renta karena hamil, Dion jua semakin awas untuk memperhatikan agar Vie tak berjumpa dengan Ryan. Kau tau... Jika sekali saja Vie berjumpa dengan Ryan, maka Vie akan menjadi tumbal tanpa Vie ketahui.
"Pagi sayang.." suara serak serak basah Dion saat bangun tidur membuat Vie menoleh.
Dion memeluk istrinya dan bermanja manja mengelus tubuh sang istri. Ntahlah, tubuh Vie yang semakin berisi ini malah semakin menggoda baginya. Dion menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher sang istri dan kemudian mendongak mencium bibir Vie perlahan dan kemudian semakin memperdalam ciumannya.
__ADS_1
Vie tersenyum melihat tingkah laku suaminya yang semakin mengada ngada saja, semakin tak sabaran dan semakin ingin dimanja.
Pagi yang dingin terasa menjadi panas dan bergairah, ini semua ulah Dion yang selalu tak dapat menahan diri saat melihat Vie yang menurutnya sangat nikmat untuk di terkam. Padahal kau tau, Vie bahkan tak menggunakan piyama sexy, hanya piyama biasa saja, namun Dion selalu bernafsu dibuatnya.
Dion tersenyum puas dan mencium istrinya setelah menikmati setiap inci tubuh sang istri yang selalu membuatnya candu itu.
Dion mengelus rambut Vie perlahan sambil menatap wajah Vie dengan senyuman yang tak pernah luntur.
Melihat sang suami yang tampak sangat bahagia pagi ini membuat Vie memiliki ide, Vie mengelus pipi suaminya, "Sayang... Kita jalan jalan ya sesekali? Keluar istana yaa.." Vie memohon.
Dion memasang wajah marah, "Gak. Kamu harus tetap di sini. Di luar tak aman, sesuatu buruk bisa saja menimpamu. Dan aku tak ingin itu terjadi."
__ADS_1
Vie menghembuskan nafas berat dan mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan mata yang sendu. Vie kembali menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya kemudian membelakangi Ryan. 'Sungguh menjengkelkan, padahal cuma mau jalan jalan saja' batin Vie.
Dion melihat istrinya yang menjadi kesal padanya membuatnya sedih. Sungguh dia bukan bermaksud untuk membatasi Vie berinteraksi dan refreshing keluar Istana, namun hanya saja dia sungguh sungguh kuatir jika dia berjumpa dengan Ryan yang merupakan Cinta Sejati Vie. Jika mereka berjumpa, dan jika itu terjadi Vie akan menjadi tumbal dari perjanjian sihir yang dibuat Dion dengan Dewa kebengisan. Dion takkan membiarkan itu terjadi!
Dion takkan mampu hidup jika tanpa Vie, Dion tidak akan bisa bertahan!
Dion membalikkan badan Vie memeluknya, "Sayang... Jangan marah."
Vie memutar bola matanya malas sambil menahan kesal. Dia tak berbicara menjawab kalimat Dion yang ada Vie hanya memalingkan wajahnya.
Dion meringis semakin sedih melihat istrinya. Dia sungguh tak ingin istrinya malah semakin cuek padanya. Dion mengoncang goncang kecil tubuh Vie yang di peluknya, "Vie sayang... Aku lakukan ini juga untuk kebaikan kita sayang... Untuk anak kita." Dion memelas agar sang istri dapat mengerti.
__ADS_1
Tapi Vie tetap keukeh dengan pendiriannya. Oh ayolah, dia sungguh bosan di istana besar ini.
Dion tak mau berbuat banyak. Mau gimana pun dia harus tetap menahan Vie di istana.